Latar Belakang Keluarga Maruli Simanjuntak, Putra Guru dan Perawat yang Kini Jadi Wakil Panglima TNI
- Dispenad
tvOnenews.com - Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai Wakil Panglima TNI di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Dalam jabatan barunya, Maruli juga merangkap sebagai Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Daerah Terpencil (BNPPDT).
Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 105 TNI Tahun 2026. Dalam prosesi pelantikan, Maruli mengucapkan sumpah jabatan yang dipandu langsung oleh Presiden Prabowo.
- Tangkapan Layar tvOne
Di balik perjalanan karier Jenderal TNI Maruli Simanjuntak hingga menduduki jabatan strategis di lingkungan militer Indonesia, terdapat kisah keluarga yang menanamkan nilai pendidikan, kebersamaan, dan kerja keras sejak ia masih kecil.
Maruli tumbuh dalam keluarga yang mengutamakan pendidikan. Ayahnya berprofesi sebagai guru, sedangkan ibunya bekerja sebagai perawat.Â
Meski berasal dari keluarga sederhana, kedua orang tuanya berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.
Nilai-nilai yang ditanamkan sejak masa kecil itu menjadi bagian dari perjalanan hidup Maruli, yang kemudian meniti karier militer hingga dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada November 2023.
Dalam sebuah wawancara, Maruli juga menceritakan bagaimana kebiasaan sederhana di rumah membentuk karakter dan pandangannya mengenai keluarga.
Ia menyoroti pentingnya makan bersama, berdoa, serta menjaga komunikasi agar hubungan antarkeluarga tetap harmonis.
Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain Maruli yang tidak hanya dikenal sebagai perwira tinggi TNI, tetapi juga sebagai seorang anak, suami, dan ayah.
Tumbuh dari Keluarga Guru dan Perawat
Maruli Simanjuntak lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 27 Februari 1970. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara dalam keluarga berdarah Batak yang merantau ke Pulau Jawa.
Ayahnya, Darius Simanjuntak, diketahui merupakan seorang guru yang pernah mengajar di SMA Negeri 6 dan SMAK Dago Bandung. Sementara itu, ibunya berprofesi sebagai perawat.
Kedua profesi tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Guru berperan dalam membentuk pengetahuan dan karakter generasi muda, sedangkan perawat memberikan pelayanan dan perawatan kepada orang yang membutuhkan.
Dalam kisah yang disampaikan Maruli, pendidikan menjadi salah satu prioritas utama keluarganya.
Orang tuanya berusaha memastikan anak-anak mereka memperoleh kesempatan belajar di sekolah yang baik.
"Orang tua saya pikir, lebih baik sekolah yang baik. Jadi bapak saya berupaya supaya anaknya bersekolah di sekolah terbaik," katanya dikutip dari kanal YouTube TNI AD.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dipandang sebagai bekal penting untuk masa depan, terlepas dari kondisi ekonomi keluarga.
Latar belakang kedua orang tuanya juga menjadi bagian menarik dari kisah perjalanan Maruli.
Ia kemudian menempuh pendidikan di Akademi Militer dan lulus pada 1992 sebelum memulai pengabdian sebagai perwira TNI Angkatan Darat.
Informasi mengenai profesi orang tua serta perjalanan awal karier Maruli juga pernah diulas oleh detikcom dan Tokoh.ID.
Selain menekankan pendidikan, keluarga Maruli juga membiasakan kehidupan yang mengutamakan kebersamaan.
Maruli menceritakan kebiasaan keluarganya saat masih kecil. Salah satu hal yang diingatnya adalah makan pagi dan makan malam bersama.
Keluarganya juga membiasakan diri untuk berdoa bersama. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang mempererat hubungan di antara anggota keluarga.
Bagi Maruli, kebersamaan semacam itu memiliki arti penting. Hubungan keluarga tidak hanya dibangun melalui pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga melalui waktu yang diluangkan bersama dan perhatian terhadap satu sama lain.
Maruli menempuh pendidikan di Akademi Militer dan lulus pada 1992. Setelah itu, ia memulai karier militernya melalui kecabangan infanteri dan bertugas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Seiring waktu, ia memperoleh berbagai penugasan yang memperluas pengalamannya dalam bidang operasi dan kepemimpinan.
Maruli pernah dipercaya memimpin sejumlah satuan, termasuk menjadi Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Komandan Paspampres, Panglima Kodam IX/Udayana, dan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).
Pada 29 November 2023, Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai KSAD untuk menggantikan Jenderal TNI Agus Subiyanto yang saat itu beralih menjadi Panglima TNI.
Kehidupan Rumah Tangga Bersama Paulina Pandjaitan
Dalam kehidupan pribadi, Maruli menikah dengan Paulina Pandjaitan, putri sulung tokoh nasional Luhut Binsar Pandjaitan dan Devi Simatupang.
Keduanya pertama kali bertemu dalam penyelenggaraan SEA Games 1995.Â
Saat itu, Maruli merupakan prajurit TNI yang juga mengikuti pertandingan judo, sedangkan Paulina bertugas sebagai liaison officer (LO).
Pertemuan tersebut berlanjut menjadi hubungan yang lebih dekat hingga keduanya menikah pada Januari 1999.
Dari pernikahan tersebut, Maruli dan Paulina dikaruniai dua anak, yakni Faye Simanjuntak dan Noah Simanjuntak.
Kehidupan rumah tangga mereka turut menjadi perhatian publik setelah Maruli menduduki sejumlah jabatan strategis.
Namun, dalam wawancaranya, Maruli justru menyoroti hal mendasar yang menurutnya diperlukan untuk menjaga keharmonisan keluarga, yakni komunikasi terbuka dan sikap saling memahami.
Ia menjelaskan bahwa suami dan istri perlu mengerti kondisi satu sama lain, terutama ketika salah satunya sedang lelah akibat pekerjaan.Â
Keduanya juga perlu menjadi teman berbagi, bukan sekadar menjalankan peran masing-masing dalam rumah tangga.
(tsy)
Load more