News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Naturalisasi Timnas Indonesia

Catatan Pemimpin Redaksi tvonenews.com Ecep S Yasa atas strategi naturalisasi pemain sepak bola demi memajukan kinerja timnas Indonesia di panggung dunia.
Senin, 1 April 2024 - 11:42 WIB
Pojok KC - Ilustrasi Naturalisasi Timnas Indonesia
Sumber :
  • tim tvonenews

TAK semua warisan kolonialisme selalu buruk. Saya bisa menunjukan kebenaran kalimat tersebut di wajah sepak bola nasional kita yang perlahan lahan menapaki jalur yang benar berkat kebijakan naturalisasi yang begitu kencang dipraktikan “duet maut” kepemimpinan Erick Thohir dan Shin Tae yong.

Apa boleh buat, naturalisasi kini dianggap jamak dalam sepak bola modern. Kini konsep nasionalisme sebagai komunitas imajiner —-meminjam istilah dari Benedict Anderson dari Cornell University, Amerika serikat-- batasnya pada lapangan hijau semakin cair.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berbangsa yang menurut Yuval Noah Harari, penulis buku Sapiens: A Brief History of Humankind sebuah mitos bersama, perlahan lahan konsepnya memudar di dunia sepak bola dengan konsep naturalisasi.

Kini kita tahu, berbangsa, nasionalisme, kewarganegaraan di lapangan hijau jadi pilihan pilihan cair berdasarkan pertimbangan dan kepentingan bersama yang rasional.

Lihat saja, kebijakan naturalisasi pemain dilakukan oleh hampir semua tim nasional kaliber dunia, seperti Brazil, Jerman, Italia, Rusia, Belgia, Portugal, Spanyol, Belanda hingga Jepang.

Kita tahu Amerika Latin adalah bekas jajahan negara-negara Iberia (Spanyol). Anehnya, banyak sekali  pemain dari Brasil, misalnya yang justru lebih memilih membela bekas penjajahnya daripada mengenakan seragam tanah airnya sendiri. Anderson Luis De Souza misalnya lebih memilih membela Timnas Portugal daripada Brazil. Ada Diego Costa yang juga lebih memilih mengibarkan panji Timnas Spanyol daripada kibarkan bendera Brasil.

Robert Lewandowski tak mempan untuk dibujuk membela timnas Jerman. Ia lebih memilih membela Polandia. Sebaliknya, Lukas Podolski yang notabene berdarah Polandia lebih memilih untuk membela Timnas Jerman. 

Selain itu ada sekian pemain naturalisasi lain dari imigran yang memperkuat tim Der panzer, seperti Mehmet Scholl, Mesut Ozil, Emre Can, Sami Khedira, Skodran Mustafi hingga Ilkay Gundogan.

Timnas Perancis bisa jadi skuad paling berwarna secara ras, warna kulit dan kebangsaan di Piala Dunia. Pada Piala Dunia 2022, Jepang membawa lima pemain naturalisasi, termasuk Alessandro Dos Santos hingga Daniel Schmidt.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadi jika kini pemain skuad Garuda banyak didominasi dengan pemain naturalisasi dari Belanda adalah sebuah kewajaran akibat sejarah kolonialisme yang mempertautkan Indonesia dengan Belanda. Bukankah timnas Belanda juga cukup banyak punya pemain keturunan Indonesia, khususnya Maluku, setidaknya sejak era Simon Tahamata hingga Giovanni Van Bronckhorst.

Halaman Selanjutnya :

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Patung Jenderal Sudirman Tidak Dipindah, Pramono: Jadi Ikon Tengah Jembatan Donat Dukuh Atas

Patung Jenderal Sudirman Tidak Dipindah, Pramono: Jadi Ikon Tengah Jembatan Donat Dukuh Atas

Belakangan ini, mencuat terkai wacana pemindahan Patung Jenderal Sudirman di kawasan Dukuh Atas, Jakarta. Namun, baru-baru saja, pemindahan itu batal dilakukan.
Terungkap, Penyebab Utama Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipindah ke Rutan Polda Metro

Terungkap, Penyebab Utama Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipindah ke Rutan Polda Metro

Ihwal kasus dugaan ijazah palsu mantan Presiden ke-7, Jokowi, masih menjadi perhatian publik. Terutama terkaiat perkembangan soal nasib Roy Suryo & dokter Tifa
Seskab Teddy Bocorkan Isi Pertemuan Presiden Prabowo dengan Rosan Roeslani

Seskab Teddy Bocorkan Isi Pertemuan Presiden Prabowo dengan Rosan Roeslani

Seskab Teddy Indra Wijaya bocorkan isi pertemuan antara Presiden Prabowo dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/CEO Danantara Rosan Roeslani di Kertanegara
Wapres Gibran Tinjau Sekolah Lapang Sagu Asmat Papua Selatan, Dorong Hilirisasi Ekonomi Lokal

Wapres Gibran Tinjau Sekolah Lapang Sagu Asmat Papua Selatan, Dorong Hilirisasi Ekonomi Lokal

Wapres Gibran Rakabuming meninjau Sekolah Lapang Sagu Keuskupan Agats di Kampung Yepem, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, pada Minggu (21/6/2026). Kunjungan itu
Bermasalah, Hotel di Purwokerto Digugat Warga Yogyakarta

Bermasalah, Hotel di Purwokerto Digugat Warga Yogyakarta

Pendirian dan pengoperasian Hotel E di Purwokerto menghadapi persoalan hingga dibawa ke Pengadilan Negeri Purwokerto. Angka Rp4 miliar disebutkan dalam pengajuan perkara
Mencoba "Surat Sakti" Ala Askar

Mencoba "Surat Sakti" Ala Askar

Namanya, Brigadir Jenderal Yahya Mussa’id Azzahroni. Dia adalah pemimpin tertinggi askar Masjidil Haram. Brigjen Yahya ini berperawakan seperti kebanyakan orang Arab lainnya: hidung mancung, berjenggot tipis, dan sedikit beruban.

Trending

Wapres Gibran Tinjau Sekolah Lapang Sagu Asmat Papua Selatan, Dorong Hilirisasi Ekonomi Lokal

Wapres Gibran Tinjau Sekolah Lapang Sagu Asmat Papua Selatan, Dorong Hilirisasi Ekonomi Lokal

Wapres Gibran Rakabuming meninjau Sekolah Lapang Sagu Keuskupan Agats di Kampung Yepem, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, pada Minggu (21/6/2026). Kunjungan itu
Terungkap, Penyebab Utama Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipindah ke Rutan Polda Metro

Terungkap, Penyebab Utama Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipindah ke Rutan Polda Metro

Ihwal kasus dugaan ijazah palsu mantan Presiden ke-7, Jokowi, masih menjadi perhatian publik. Terutama terkaiat perkembangan soal nasib Roy Suryo & dokter Tifa
Kapolri Bocorkan Alasan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap Polda Metro

Kapolri Bocorkan Alasan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap Polda Metro

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bocorkan alasan terkait Polda Metro Jaya tangkap Roy Suryo dan dokter Tifa soal kasus dugaan ijazah palsu mantan Presiden
Mencoba "Surat Sakti" Ala Askar

Mencoba "Surat Sakti" Ala Askar

Namanya, Brigadir Jenderal Yahya Mussa’id Azzahroni. Dia adalah pemimpin tertinggi askar Masjidil Haram. Brigjen Yahya ini berperawakan seperti kebanyakan orang Arab lainnya: hidung mancung, berjenggot tipis, dan sedikit beruban.
Bermasalah, Hotel di Purwokerto Digugat Warga Yogyakarta

Bermasalah, Hotel di Purwokerto Digugat Warga Yogyakarta

Pendirian dan pengoperasian Hotel E di Purwokerto menghadapi persoalan hingga dibawa ke Pengadilan Negeri Purwokerto. Angka Rp4 miliar disebutkan dalam pengajuan perkara
Patung Jenderal Sudirman Tidak Dipindah, Pramono: Jadi Ikon Tengah Jembatan Donat Dukuh Atas

Patung Jenderal Sudirman Tidak Dipindah, Pramono: Jadi Ikon Tengah Jembatan Donat Dukuh Atas

Belakangan ini, mencuat terkai wacana pemindahan Patung Jenderal Sudirman di kawasan Dukuh Atas, Jakarta. Namun, baru-baru saja, pemindahan itu batal dilakukan.
Seskab Teddy Bocorkan Isi Pertemuan Presiden Prabowo dengan Rosan Roeslani

Seskab Teddy Bocorkan Isi Pertemuan Presiden Prabowo dengan Rosan Roeslani

Seskab Teddy Indra Wijaya bocorkan isi pertemuan antara Presiden Prabowo dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/CEO Danantara Rosan Roeslani di Kertanegara
Selengkapnya

Viral