Pulang Mudik
- tim tvonenews
PADA hari hari ini, pulang adalah sepatah kata yang hampir jadi kepedulian semua orang. Ada puluhan juta orang yang bersedia desak-desakan menanggung panas, lapar dan haus (jika ia memilih tetap berpuasa), rasa tak nyaman, resiko kecelakaan, luka dan –mungkin—kematian dalam sebuah ritual raksasa tahunan yang disebut mudik.
Angka pemudik tahun ini menurut data Kementerian Perhubungan diperkirakan meningkat 52 persen daripada jumlah tahun lalu yang hanya 123 juta orang. Tahun ini dengan berbagai moda transportasi diperkirakan ada 193,6 juta pemudik yang melakukan mobilitas ke kampung halaman.
Barangkali selain mobilitas mudik pada Tahun Baru di China, mudik lebaran di Indonesia jadi salah satu pergerakan manusia terbesar dalam waktu tertentu dalam sejarah manusia.
Jawa memang masih jadi kunci pergerakan manusia saat mudik. Lima daerah tertinggi penyumbang pemudik terbesar, misalnya dari pulau terpadat ini, seperti Jawa Timur yakni hampir 31,3 juta, Jabodetabek 28,43 juta orang, Jawa Tengah 26,11 juta, Jawa Barat 22,79 juta orang.
Pada hari hari puncak mudik pada 6-8 April 2024 puluhan juta orang itu mengarah ke lokasi tujuan mudik terbesar secara bersamaan, yakni Jawa Timur diperkirakan 61,6 juta orang, Jawa Tengah 37,6 juta orang, Jawa Barat 32,1 juta orang, DIY 11,7 juta orang, dan DKI Jakarta 6,4 juta orang.
![]()
Negara benar benar menjadi pelayan dalam gegap gempita mudik. Semua dikerahkan hingga melibatkan menteri koordinator, seperti Menko Kesra, Polri, TNI, Departemen Perhubungan, Departemen PUPR, BUMN hingga jaringan perbankan.
Dianggap pertaruhan bangsa, hal-hal luar biasa diterapkan agar proses mudik berlangsung lancar. Rekayasa lalu lintas yang tak mungkin jadi masuk akal selama mudik. Tol Jakarta-Cikampek yang sudah sangat lebar itu—masih ditambah jalan tol layang—direkayasa menjadi satu arah saja hanya menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Truk bersumbu besar misalnya tak boleh menggunakan ruas ruas tol tertentu yang digunakan untuk mudik. Infrastruktur tol yang belum selesai pun dibolehkan digunakan untuk melayani pemudik.
Tapi, pemudik tentu bukan hanya dari kalangan yang bermobil. Lihat pada sepotong jalan Kali Malang, Jakarta Timur, kita bertemu barisan panjang motor yang antre meninggalkan Jakarta. Motornya sudah didesain sedemikian rupa sehingga bisa menampung seluruh anggota keluarga dan barang bawaan. Dua potong kayu diikat memanjang pada bagian belakang motor hingga tubuh kendaraan terasa lebih panjang. Di sanalah diikat tas ransel besar, kardus oleh oleh dan aneka bawaan lain sekaligus multi fungsi, sebagai sandaran bagi istri dan anak yang membonceng di belakang.
Load more