News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Kiamat Media Sosial: Saat Remaja Australia Dipaksa Offline, Indonesia Masih Terjebak Scroll Tak Berujung

TikTok, Instagram, Snapchat, YouTube—semua platform itu akan memblokir akun remaja di bawah umur di Australia.
Rabu, 10 Desember 2025 - 14:31 WIB
Ilustrasi Media Sosial.
Sumber :
  • Dok Freepick

Penulis: Budi Yuniharto, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina

Disclaimer: Artikel ini telah melalui proses editing yang dipandang perlu sesuai kebijakan redaksi tvOnenews.com. Namun demikian, seluruh isi dan materi artikel opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sebuah kota kecil di pinggiran Sydney, Emma Mason duduk di meja dapur yang sama tempat ia menerima panggilan terburuk dalam hidupnya tiga tahun lalu.

Telepon itu membawa kabar bahwa putrinya, Tilly, seorang gadis remaja berusia 14 tahun mengakhiri hidupnya setelah di-bully habis-habisan di Instagram.

Kini, pada Desember 2025, Emma menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk.

Undang-undang baru Australia yang mulai berlaku 10 Desember 2025 ini—tentang larangan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun—adalah buah kampanyenya yang gigih.

"Ini bukan akhir dunia, tapi awal dari dunia yang lebih aman bagi mereka,” katanya dalam wawancara dengan Sky News dikutip Senin (8/12/2025).

Bagi remaja Australia, peraturan ini terasa seperti kiamat. Dunia maya yang selama ini menjadi ruangnya tiba-tiba direnggut.

TikTok, Instagram, Snapchat, YouTube—semua platform itu akan memblokir akun remaja di bawah umur.

Meta bahkan sudah mulai menutup akun anak-anak sejak minggu lalu, sementara YouTube menjanjikan akses kembali saat ulang tahun ke-16.

Pemerintah Australia menyebut langkah ini sebagai "eksperimen nasional terbesar" untuk melindungi kesehatan mental generasi muda di tengah data yang mengerikan, yakni lebih dari 40% remaja Australia (pada gadis usia 15-19 tahun) mengalami distress mental dengan lonjakan 70% rawat inap akibat self-harm sejak 2008.

Cyberbullying, perbandingan sosial, dan kecanduan algoritma menjadi musuh utamanya.

Seorang remaja bernama Sarah (15) membagikan pandangannya di X tentang “kiamat media sosial” ini.

"Media sosial adalah tempatku bicara dengan teman-teman yang paham perjuanganku. Tanpa itu, aku merasa sendirian”.

Fenomena ini bukan sekadar kebijakan teknologi, melainkan panggilan mendesak bagi manajemen media baru atau new media—yang selama ini dianggap sebagai jembatan koneksi kini terbukti sebagai jurang isolasi.

Di Australia, larangan ini lahir dari krisis nyata. Studi tahun 2023 menunjukkan screentime berlebih mengganggu perkembangan kognitif.

Anak-anak menghabiskan 40% lebih banyak waktu di platform sosial yang berkontribusi pada penurunan prestasi akademik dan interaksi sosial.

Emma bukanlah satu-satunya yang menyalurkan suara. Ribuan orang tua bergabung dalam sebuah petisi didukung data dari eSafety Commissioner yang mencatat 20% remaja Australia mengalami cyberbullying.

Kritikus menyebut ini terlalu ekstrem: Bagaimana dengan hak privasi dan kebebasan berekspresi?

Namun, bagi pemerintah setempat, manfaatnya jelas.

Sementara itu, di Indonesia—negara dengan 170 juta pengguna media sosial tertinggi keempat di dunia—masih bergulat dengan "kiamat" yang sama, tapi tanpa rem yang sekuat Australia.

Rina, seorang siswi SMA di Jakarta, setiap malam scroll salah satu platform media sosial hingga larut.

Dia mengaku membandingkan kulitnya yang "kurang glowing" dengan influencer berwajah sempurna.

"Aku merasa jelek terus," ceritanya dalam survei Mum.id tahun 2025 di mana 96,4% remaja Gen Z mengaku kesulitan mengatasi stres dari media sosial.

Di sini dampaknya tak lagi abstrak. Penggunaan media sosial naik 200% sejak pra-pandemi dan tren ini diprediksi bertahan hingga 2025.

Ini membuat aktivitas luar ruangan remaja turun drastis setelah melebihi dua jam sehari.

Indonesia bukan asing dengan badai new media. Salah satu platform media sosial disebut-sebut menjadi sumber utama paparan konten negatif: body shaming, kekerasan digital, dan tantangan berbahaya yang mendorong kenakalan remaja.

Penelitian Universitas Airlangga tahun 2025 menyoroti bagaimana algoritma platform tersebut memperburuk kesehatan mental dengan remaja terpapar standar kecantikan palsu yang memicu perbandingan sosial negatif dan kecemasan.

Survei Kompas pada Februari 2025 mengungkap bahwa banyak anak Indonesia mengalami gangguan jiwa akibat bullying online atau ajakan bunuh diri yang viral.

Di Poltekkes Pangkal Pinang, studi Juli 2025, menemukan screentime berlebih memicu citra diri rendah dengan 45% remaja melaporkan gangguan tidur dan 40% penurunan produktivitas.

Jurnal ResearchGate Agustus 2025 bahkan menghubungkan media sosial dengan peningkatan kenakalan remaja, termasuk kekerasan digital yang naik signifikan sejak 2024.

Perbedaan dengan Australia terletak pada pendekatan. Di sana pemerintah bertindak preemptif dengan larangan didahului edukasi cyber safety dan penguatan undang-undang anti-bullying meski sempat menuai protes dari remaja yang khawatir isolasi.

Di Indonesia, respons masih reaktif. Ada regulasi seperti UU ITE, tapi implementasinya lemah.

Kementerian Kominfo pernah blokir konten negatif, tapi tanpa batas usia ketat seperti Australia.

Ini bukan soal melarang total, tapi mengelola new media sebagai alat komunikasi yang bertanggung jawab.

Australia membuktikan bahwa intervensi dini bisa menyelamatkan generasi. Di Indonesia, tragedi seperti kasus Tilly tak boleh direplikasi.

Bagaimana jika Indonesia mengadopsi model serupa? Batas usia 16 tahun untuk akun media sosial dikombinasikan kampanye nasional "Digital Sehat" yang edukatif.

Universitas Muhammadiyah Malang, melalui penelitian mahasiswanya pada Maret 2025, sudah menyoroti bagaimana perbandingan diri di media sosial memicu kecenderungan negatif.

Solusinya kurikulum sekolah yang integrasikan literasi digital plus kolaborasi dengan platform, seperti TikTok, untuk fitur parental control yang lebih ketat.

Di Jurnal Pendidikan Dasar Unpas Juni 2025, peneliti menekankan keseimbangan mental di era digital: Media sosial punya sisi positif seperti komunitas dukungan, tapi negatifnya perkembangan sosial terganggu jika tak terbiasa dengan teknologi secara bijak. Maka dari itu harus diimbangi regulasi.

Survei Jagat Review April 2025 menunjukkan 45% remaja mengakui dampak buruk pada tidur, tapi hanya sedikit yang punya tools untuk lepas.

New media bukan musuh, tapi senjata bermata dua yang butuh pedoman etis.

Australia memilih Christmas Unplugged atau libur Natal tanpa notifikasi untuk reset mental remaja.

Indonesia mungkin bisa mulai dengan "Hari Tanpa Scroll" nasional didukung influencer yang promosikan konten autentik, bukan filter sempurna.

Pemerintah harus lobi platform global untuk verifikasi usia yang ketat, sementara orang tua dilatih manajemen komunikasi digital.

Tanpa itu, kiamat media sosial bukan lagi isu Australia.

Cerita Emma Mason mengingatkan kita jika melindungi remaja bukan tentang mematikan lampu, tapi menyalakan cahaya alternatif dengan cara interaksi langsung dan percakapan terbuka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat Australia memasuki era pembatasan media sosial untuk anak muda, Indonesia punya peluang belajar: Jangan biarkan algoritma mendikte masa depan generasi Z.

Waktunya bertindak sebelum terlambat. Karena di balik layar itu ada nyawa yang menunggu diselamatkan.

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Serukan Tahun Baru Hijriah Jadi Momentum Transformasi Sistem Kemasyarakat, Menag Pertegas Makna Hijrah

Serukan Tahun Baru Hijriah Jadi Momentum Transformasi Sistem Kemasyarakat, Menag Pertegas Makna Hijrah

Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram, Menag bercerita bahwa hijrah sejatinya bukan sekadar dimaknai sebagai perpindahan fisik Rasulullah saja, melainkan juga transformasi sistem.
Pria Tusuk Tetangga hingga Tewas di Jakarta Pusat Karena Dendam, Polisi: Korban Meninggalkan Pelaku di Ponpes

Pria Tusuk Tetangga hingga Tewas di Jakarta Pusat Karena Dendam, Polisi: Korban Meninggalkan Pelaku di Ponpes

Pria berinisial AJ (35) dilaporkan menjadi korban penusukan tetangga sendiri yang berinisial TA (23) di Kemayoran, Jakarta Pusat. 
BMKG Ungkap Sejumlah Bangunan Rusak Akibat Gempa M 6,7 di Sulteng, Salah Satunya Kantor Bupati Sigi

BMKG Ungkap Sejumlah Bangunan Rusak Akibat Gempa M 6,7 di Sulteng, Salah Satunya Kantor Bupati Sigi

Gempa magnitudo 6,7 yang mengguncang sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah mengakibat sejumlah bangunan mengalami kerusakan.
Meresahkan Masyarakat, Jaringan Penadah Motor Curian di Tangerang Diburu

Meresahkan Masyarakat, Jaringan Penadah Motor Curian di Tangerang Diburu

Setelah menangkap seorang pelaku yang hendak menjual kendaraan curian di wilayah Lebak, Banten, pihak kepolisian langsung memburu jaringan penadah sepeda motor hasil curian.
Update Gempa Magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah: Belasan Rumah di Parigi Moutong Rusak

Update Gempa Magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah: Belasan Rumah di Parigi Moutong Rusak

Aktivitas pelayanan di RS Anuntaloko kini mulai berangsur normal setelah sebelumnya sempat terganggu akibat guncangan gempa bumi Magnitudo 6,7 yang melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. 
Ramalan Weton 17 Juni 2026: 5 Weton Beruntung vs 5 Weton Ketiban Sial

Ramalan Weton 17 Juni 2026: 5 Weton Beruntung vs 5 Weton Ketiban Sial

Berikut sepuluh weton yang diprediksi mengalami nasib baik (mujur) dan nasib kurang beruntung (apes) esok hari tanggal 17 Juni 2026. Weton Anda salah satunya?

Trending

Terungkap, Penyebab Utama Elza Syarief Mengundurkan Diri sebagai Kuasa Hukumnya Sony Sonjaya: Saya Tak Nyaman

Terungkap, Penyebab Utama Elza Syarief Mengundurkan Diri sebagai Kuasa Hukumnya Sony Sonjaya: Saya Tak Nyaman

Mencuat kabar terkait Elza Syarief mengundurkan diri sebagai kuasa hukumnya eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG. Sontak
Wasit Liga Indonesia Bertingkah di Piala Dunia, Bikin Gestur White Supremacy: Untungnya Dibela FIFA

Wasit Liga Indonesia Bertingkah di Piala Dunia, Bikin Gestur White Supremacy: Untungnya Dibela FIFA

Seorang wasit yang memiliki rekam jejak pernah memimpin pertandingan di kompetisi Liga Indonesia Shaun Evans sempat menjadi sorotan tajam di Piala Dunia 2026 ..
Jersey Haiti Dianggap Bermuatan Politik, FIFA Larang Dipakai di Piala Dunia 2026

Jersey Haiti Dianggap Bermuatan Politik, FIFA Larang Dipakai di Piala Dunia 2026

Kabar mengejutkan datang dari kontestan Piala Dunia 2026. Timnas Haiti terpaksa harus mengganti desain jersey yang sedianya bakal mereka gunakan sepanjang ... -
Baru juga Jadi Suami Istri, Unggahan Bek Timnas Indonesia Justin Hubner Buat Jennifer Coppen Kesal: Uji Kesabaran

Baru juga Jadi Suami Istri, Unggahan Bek Timnas Indonesia Justin Hubner Buat Jennifer Coppen Kesal: Uji Kesabaran

Satu unggahan Instagram pemain Timnas Indonesia, Justin Hubner membuat sang istri, Jennifer Coppen mengamuk setelah sehari melaksanakan pernikahan di Bali.
Media Vietnam Mulai Curiga, Jangan-jangan Pemain Keturunan Jerman dan Belanda Ini akan Gabung Timnas Indonesia

Media Vietnam Mulai Curiga, Jangan-jangan Pemain Keturunan Jerman dan Belanda Ini akan Gabung Timnas Indonesia

Media Vietnam mulai curiga Timnas Indonesia akan kedatangan dua pemain naturalisasi baru. Ada yang dari Jerman dan dari Belanda. Siapakah calon pemain tersebut?
Diskusi Publik UGM Ricuh Tiga Pejabat Sampai Dievakuasi Polisi, Ketum Serikat Mahasiswa: Pejabat Banyak Bohong!

Diskusi Publik UGM Ricuh Tiga Pejabat Sampai Dievakuasi Polisi, Ketum Serikat Mahasiswa: Pejabat Banyak Bohong!

Diskusi publik bertajuk "Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia" yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM Yogyakarta berakhir ricuh. 
Debutan Kembali Bikin Geger, Giliran Tanjung Verde yang Tahan Imbang Spanyol di Piala Dunia 2026

Debutan Kembali Bikin Geger, Giliran Tanjung Verde yang Tahan Imbang Spanyol di Piala Dunia 2026

Skor akhir 0-0 membuat Tanjung Verde sukses mencuri perhatian dunia setelah menahan imbang raksasa Eropa, Spanyol pada laga Grup H, Senin (15/6/2026) waktu setempat.
Selengkapnya

Viral