Panic Buying BBM Pertamina dan Malapraktik Followership: Mengapa Maaf Saja Tidak Cukup?
- Pertamina
Perlu dipahami, panic buying mengakibatkan disrupsi pola distribusi normal. Ketika konsumsi melonjak secara tidak wajar di satu titik akibat hoaks, tangki penyimpanan di SPBU terkuras lebih cepat dari jadwal pengisian rutin.
Akibatnya, Pertamina harus melakukan intervensi distribusi darurat yang memakan biaya logistik tinggi dan menguras energi para pekerja di lapangan hanya untuk memadamkan "api" yang diciptakan oleh jempol yang ceroboh dan konten sesat.
Disinformasi di sektor energi adalah bentuk sabotase terhadap stabilitas ekonomi rakyat.
Provokasi dan Panik Moral
Nola tak berhenti pada salah kutip angka. Ia melakukan pembunuhan karakter institusional dengan menarasikan bahwa data Pertamina hanyalah laporan "Asal Bapak Senang" (ABS) dan asal masyarakat tenang. Puncaknya adalah kalimat provokatif agar masyarakat bersiap "jalan kaki" pasca-Lebaran.
Secara sosiologis, menurut Stanley Cohen, ini adalah upaya menciptakan Moral Panic, di mana sebuah institusi didefinisikan sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup masyarakat melalui narasi "kiamat energi".
Nola mungkin akan berkelit bahwa angka "20 hari" tersebut bersumber dari pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait dampak konflik Iran-Israel. Namun, di situlah letak kegagalan profesionalismenya.
Seorang jurnalis seharusnya mampu membedakan—dan menjelaskan kepada publik—antara "kapasitas storage" (yang memang secara historis berada di kisaran 20-25 hari) dengan "kelangkaan stok".
Menteri Bahlil bicara tantangan geopolitik dan kapasitas infrastruktur; Nola mendistorsinya menjadi narasi instruksi untuk "siap-siap jalan kaki" karena BBM tak ada lagi.
Bahlil bicara data makro; Nola membumbuinya dengan tuduhan ketidakjujuran informasi.
Jika jurnalis justru ikut membakar paviliun yang sudah berasap demi sebuah engagement atau kepentingan tertentu, maka itu adalah pengkhianatan terhadap mandat profesi.
Luka Lama dan Budaya Tanpa Konsekuensi

- Pertamina
Kasus ini adalah deja vu pahit dari hoaks "BBM Oplosan" yang juga belum lama ini menghantam Pertamina Patra Niaga.
Polanya identik: informasi sesat dipantik pihak berotoritas, viral, menghancurkan reputasi, namun berakhir tanpa akuntabilitas. Tanpa kejelasan siapa yang bertanggungjawab atas fitnah dan kekacauan yang terjadi.
Load more