Elegi Sayid Imam Ali Khamenei dan Seribu Mawar Halveti
- Istimewa
(Artikel Opini Ini Ditulis Cendhy Vicky V, Manager Riset Institute For Diplomacy, Economic, Peace and Thought-INDEPTH)
tvOnenews.com - Kematian tragis sekaligus mengagetkan Februari dari Imam Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi Republik Iran) dan keluarga, tentu menjadi pukulan keras. Tidaknya untuk rakyat Iran tapi juga bagi seluruh umat manusia yang masih memiliki akal dan nurani. Bagaimana tidak, seorang figur yang dengan profil yang sangat sederhana, bahkan sepatu sandalnya pun sudah tidak cukup elok dipandang untuk seorang figur dunia, harus meregang nyawa dalam sekejap mata. Teheran yang saat itu tenang. Seketika mencekam. Senjata udara jatuh berhamburan. Rumah porak poranda. Nyawa berpisah dari raga bersama dengan keluarga tercinta. Sayid Imam Ali Khamenei gugur dalam kesyahidan.
Tak ada kalimat sastra dan puitis yang mampu mengartikualasikan palung duka yang begitu dalam. Bukan hanya rakyat Iran, Umat Islam dan manusia yang berbudi luhur, pasti hancur lebur. Setelah masa berkabung yang kurang lebih empat bulan, kini prosesi pemakamannya diprediksi dihadiri oleh lima belas hingga dua puluh juta pelayat. Dan ratusan juta mata menyaksikan prosesi, plus kedatangan puluhan utusan negara sabahat. Ini jelas prosesi pemakaman paling menggetarkan. Melampaui kematian figur penting di abad 21 seperti Ratu Elizabeth II atau seniman paling kreatif sekondang Michael Jackson. Luar biasa!
Prosesi kematian yang direncanakan berlangsung dari Teheran ke Qum adalah sebuah momento mori long march paling luar biasa dahsyat. Aspal hitam yang menyambungkan dua kota tersebut menjadi saksi pagelaran dzikir akbar paling duka sekaligus paling politis di dunia sepanjang sejarah! Hari mungkin cerah atau terik. Tapi imaji, batin, pandangan mata dan visi manusia seketika berhenti: hitam gelap.
Tapi juga kematian Imam Ali Khamenei tentunya juga menjadi idaman untuk menutup akhir hayat bagi semua Umat Islam di dunia, yakni wafat dalam keadaan syahid (wafat membela jalan suci yang benar). Dimana membela nilai-nilai kemanusiaan yang senantiasa berpegang teguh pada ketaqwaan adalah wujud ihsan paling tertinggi melampaui semua latar belakang identitas. Hanya orang dengan keimanan tak tergoyahkan yang mampu dan melepaskan energi dengan seluar-biasa itu.
Load more