Piala Dunia 2026: Spanyol dan Revolusi Taktik Lapangan Hijau Barcelona
- REUTERS/Hannah Mckay
(Artikel Opini Ini Ditulis Cendhy Vicky V, Penggiat Sepak Bola Internasional)
tvOnenews.com - Piala Dunia 2026 baru saja usai. Spanyol keluar sebagai juara. Pemain terbaik jatuh kepada Rodri. Dan kiper terbaik “ditangkap” oleh Unai Simon. Argentina kalah. Messi, sang greatest of all time (goat) pun menangis hebat. Fans Argentina berduka. Spanyol bersorak suara.
Memang piala dunia memiliki manis dan getirnya dalam setiap cerita. Tapi potongan-potongan mozaik indah dalam pagelaran akbar lapangan hijau itu, telah tersipan dalam memori kolektif warga dunia.
Tim Matador, julukan Spanyol mencetak satu gol. Satu gol dari Ferran Tores yang mengunci gelar. Memang gol itu menjadi gol semata wayang. Satu gol itu adalah simbol bahwa tidak ada proses yang instan dan cepat. Bahkan ada jutaan bahkan miliaran usaha yang telah dicicil dan dirintis selama bertahun- tahun, oleh para segenap pemain Spanyol itu.
Hampir semua klub-klub besar Liga Spanyol mengirimkan pemain hebat mereka. Kecuali Real Madrid, Barcelona dan Atletico Madrid adalah yang termasuk paling banyak menyumbang pemain ke kompetisi tertinggi antar benua itu. Tetapi yang lebih menarik, ada jejak dan warisan Barcelona sangat kental. Permainannya sangat terasa. Dan polanya sangat kita ingat sebagai penonton.
Ini bukanlah sebuah tulisan tentang mengapa Spanyol juara kembali sejak tahun 2010. Tetapi tentang bagaimana Barcelona bisa tetap “menyumbang” kontribusi pada turnamen empat tahunan itu.
Barcelona dan Revolusi Saintifik Lapangan Hijau
Guardiola tidak menghendaki ada yang namanya kebetulan. Ia sangat benci dengan keberuntungan. Umpan lambung yang melahirkan bola spekulasi adalah hal yang cukup haram, kecuali dengan akurasi peluang yang tinggi. Baginya pemain sebaik apapun, jika tidak bisa mengikuti atau tidak cocok dengan taktiknya harus “keluar” dari lineup.
Dahulu sepak bola adalah medan tempur prediksi dan asumsi. Pada masa ini lapangan hijau menghendaki yang namanya kebetulan. Gol dari kemelut dan tendangan spekulatif sangatlah lumrah. Mencipta gol dari ruang dan momentum “yang kebetulan pas” adalah hal yang ditunggu suporter. Maka dari itu skill individu menjadi penting. Beberapa tahun silam, memprediksi tim yang menang dalam suatu pertandingan cukup mudah. Pertama jagokan tim besar. Kedua lihatlah lineup pemain kedua tim. Adakah pemain andalan yang cedera atau tidak main.
Sebelumnya, pemain hebat adalah pemain dengan skill. Seperti Adriano, Henry, Alan Shearer, Raul Gonzales, bahkan Weah. Skill individu yang sebelumnya menjadi fondasi permainan, adalah pilar atau subjektivitas yang ditolak.
Dalam konteks pemikiran Thomas Kuhn (The Structure of Scientific Revolutions-1962) mengenai revolusi saintifik, inilah yang disebut sebagai anomaly. Skill individu ternyata tidak cukup menjelaskan kemenangan. Tim bertabur bintang sering gagal menyapu bersih trofi dalam satu musim. Contohnya Real Madrid dengan proyek Los Galacticos-nya dan Inggris saat Golden Generation (2001-2010).
Itulah mengapa paradigma lama dalam sepak bola gagal menjelaskan fenomena baru. Itulah mengapa Pep tahu bahwa sepak bola telah menemukan pertanyaan besar baru dan krisis teoritis yang harus segera dijawab. Ditemukan. Dan dibuktikan dengan (penemuan) paradigma baru. Dengan sistem yang lebih kompleks dan canggih, untuk melihat lapangan hijau yang bukan sekedar permainan 11 vs 11 orang.
Pep Guardiola sebagai “filsuf si kulit bundar”, telah membuat sepak bola dan gol harus bisa dijelaskan dan diterjemahkan. Semua taktik, statistik, strategi, ruang, momentum, gerakan, tipuan, tendangan, posisi, dan waktu harus dapat ditafsirkan secara tepat dan akurat. Sebagai seorang filsuf, Pep berdiri diatas beberapa nama besar yang banyak melahirkan taktik hebat. Beberapa diantaranya adalah Sacchi, Lobanovskyi, Michels, dan Bielsa. Pada khususnya Johan Cruyff.
Hubungan antara Johan Cruyff dan Pep Guardiola merupakan salah satu hubungan guru–murid paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola modern. Guardiola tidak hanya bermain di bawah asuhan Cruyff pada era Dream Team Barcelona (1988–1996), tetapi juga menjadikan filosofi Cruyff sebagai fondasi utama ketika membangun tim-timnya di Barcelona, Bayern Munchen, hingga Manchester City. Mengutip dari The Guardian, Guardiola sendiri pernah menyatakan: "I knew nothing about football before knowing Cruyff. (Saya tidak tahu apa pun tentang sepak bola sebelum mengenal Cruyff).”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Cruyff bukan sekadar pelatih bagi Guardiola, melainkan pembentuk cara berpikirnya tentang sepak bola. Pengaruh besar dari pemain cum pelatih asal Belanda itu kepada Pep sangat besar. Pep menambahkan seminimalnya enam sub baru (sependek pengetahuan penulis) dalam kajian akademik yang bernama ilmu sepak bola.
Mengutip The Guardian, enam hal itu adalah. Pertama, penguasaan bola (possession as control). Filosofi utama Cruyff adalah bahwa penguasaan bola merupakan cara terbaik untuk mengendalikan pertandingan. Prinsip tersebut kemudian menjadi identitas utama Guardiola. Kedua positional play (juego de posicion). Inilah warisan terbesar Cruyff. Cruyff mengadaptasi prinsip Total Football dari Rinus Michels menjadi permainan berbasis ruang (space-oriented football). Pendekatan ini menjadi dasar permainan Barcelona (2008–2012), Bayern Munchen, hingga Manchester City.
Ketiga, membangun serangan dari belakang (build-up play). Cruyff percaya bahwa serangan harus dibangun secara sabar dari belakang. Guardiola memperluas konsep tersebut melalui: kiper sebagai pemain pertama saat membangun serangan; bek tengah melebar; gelandang bertahan turun menerima bola; full-back masuk ke tengah (inverted full-back); pencarian ruang kosong secara bertahap. Akibatnya, build-up Guardiola jauh lebih kompleks dibanding era Cruyff. Keempat pressing setelah kehilangan bola Guardiola mengembangkan konsep tersebut menjadi counter-pressing (gegenpressing ringan) yang terkenal. Kelima, pemanfaatan ruang. Menurut Cruyff, Sepak bola adalah permainan ruang (space), bukan sekadar permainan bola.
Dan keenam fleksibilitas posisi. Cruyff mengembangkan konsep bahwa pemain harus memahami permainan secara menyeluruh. Guardiola memperluasnya menjadi: bek menjadi gelandang; gelandang menjadi bek; false nine; inverted full-back; box midfield; rotasi posisi yang berlangsung sepanjang pertandingan. Dengan demikian struktur tim tetap terjaga meskipun posisi pemain terus berubah.
Selain itu sebagai penambah, ditangan dingin Pep, lapangan hijau dibelah menjadi 20 bagian, dimana masing-masing pemain tidak boleh berada dalam satu petak yang sama. Dan setiap pemain tidak boleh lebih dari 5 detik untuk transisi ke petak lainnya. Plus dengan pressing ketat, dimana pemain lawan dilarang memegang bola lebih dari tiga detik.
Dari sinilah Pep telah bertransformasi dari figur pelatih biasa, menjadi seorang filsuf sepak bola, yang dalam bahasa Kuhn disebut sebagai extraordinary research(er). Pep berhasil mensintesakan mazhab besar taktik strategi sepak bola, dan memadukannya dalam lapangan hijau yang indah.
Dengan filosofi khas Pep, pertahanan terbaik adalah menyerang dan formasi tetap 4-3-3, Barcelona menjadi tim paling brutal. Dengan ball possession, shot on goal, shot on target, accurate passing, pass accuracy, accurate passes, crossing, yang tinggi serta di atas rata-rata tim lainnya. Mencetak tiga gol bahkan lebih pada setiap pertandingan, adalah makanan setiap pekan. Ketika berhadapan dengan Cules (julukan Barcelona), tim lawan hanya memiliki satu pilihan. Bertahan ketat (parkir bis).
Pep telah membangun struktur dan arsitek lapangan hijau yang kokoh. Itulah yang Guardiola buat lewat karya agungnya bernama “Tiki-Tika” lewat “penerbit” Barcelona. Mengutip Marca, dengan Tiki-Taka Barcelona, Guardiola meraih 14 trofi selama 4 tahun. Dan Barcelona 2010 adalah “prime era” sepanjang sejarah. Plus di tahun yang sama timnas Spanyol berhasil mengangkat trofi Piala Dunia pertamanya di Afrika Selatan. Prestasi yang sulit dipecahkan oleh pelatih manapun saat ini.
Menurut Kuhn, revolusi saintifik, terjadi ketika konsep lama tidak lagi memadai, munculnya bahasa baru, dan muncul cara melihat dunia (rumput hijau) yang baru. Dari filsuf berkepala pelontos ini muncul istilah-istilah bahasa baru yang berhasil dibumikan seperti: positional play, half-space, overload, rest defense, build-up, counter pressing, third man run. Selain itu muncul juga standar analisis yang sangat ketat dan tinggi yang masuk dalam unit analisis permainan seperti meningkatnya data analitik, GPS tracking, expected goals, video analysis, dan spatial control.
Selain itu istilah-istilah bahasa baru yang berhasil diwujudkan oleh Pep, sebagai bagian dari suatu ikatan sistem yang makin kompleks, canggih, detail, dan presisi, persis apa yang dibayangkan oleh Bruno Latour dalam Science in Action (1987), sebagai jaringan aktor (actor-network). Jaringan aktor itu adalah keberhasilan suatu fakta ilmiah bergantung pada hubungan antara berbagai aktor, baik manusia (ilmuwan, institusi, pendana) maupun nonmanusia (alat laboratorium, data, teknologi, dokumen atau arsip).
Artinya Barcelona “era baru” bukan hasil Pep saja. Tetapi jaringan, pelatih, GPS, statistik, La Masia, heat map, tim dokter, tim nutrisi, tim teknis, analis pertandingan, data analis, ahli fisio terapi, akademi, media, bahkan fans, semuanya menciptakan “Tiki-Taka” secara pararel. Selanjutnya dengan seperangkat tim teknis yang bekerja dengan luar biasa itu, menjadikan mereka semua sebagai komunitas ilmiah (episteme community) sepak bola ala Thomas Kuhn yang berpadu. Dengan Guardiola sebagai leading actor-nya.
Bahkan. mengutip UEFA.com, usai pertandingan final Liga Champions MU vs Barcelona di Wembley Stadium (2011), Ferguson (pelatih MU) mengakui bahwa Barcelona adalah tim terbaik yang pernah ia hadapi sepanjang kariernya sebagai manajer. Alex mengatakan “In my time as manager, it's the best team we've faced. Nobody's given us a hiding like that."
Dalam konteks bahasa Inggris sepak bola, frasa “gave us a hiding” berarti timnya benar-benar gulung atau dikalahkan secara total. Ferguson memuji cara bermain Barcelona dan menyebut mereka memang pantas menjadi juara. Dalam konteks ini Ferguson sebagai figur yang mewakili paradigma lama, akhirnya mengakui kekalahan total dari paradigma baru hasil racikan Pep. Dalam konteks Kuhn ini disebut acceptance. Bagaimana tidak, statistik Cules berbicara. 2011 final Barcelona 3-1 Manchester United. Dengan ball possession 68%, shots 19, passes 777, pass accuracy 92%.
Statistik di atas adalah representasi dari sebuah arti yang memang terjadi perubahan bahasa, cara berpikir, dan leksikon baru dalam dunia dengan lebar 100 x 50 meter ini. Guardiola jelas merupakan aktor utama dalam mengonsolidasikan paradigma baru sepak bola modern. Guardiola membuat evolusi taktik ini dengan efisien dan efektif secara signifikan dengan sempurna. Dalam perspektif Kuhn, evolusi taktik sepak bola Pep yang hampir paripurna, dapat dibaca secara analogis sebagai revolusi ilmiah.
Dengan seperangkat episteme itu, kini pemain tidak hanya dibekali instruksi sederhana. Tetapi dibekali dengan segenap rukun-imannya, yang harus dipahami dan dihayati. Sekarang, pemain hebat adalah pemain yang memahami sistem. Dalam rezim pengetahuan baru, pemain dengan skill seperti Kimmich dan Kevin de Brunye lebih bernilai ketimbang stiker murni seperti Hary Kane.
Serta setiap pertandingan dan menangnya Barcelona, tidak hanya menghasilkan tiga poin. Tetapi menjadi medan peperangan paradigma, yang kian hari, setiap pelatih dan klub mulai meniru strategi tersebut dengan bertahap. Ya Messi adalah disini sudah seperti penjahat yang menodongkan pistol ke lawan untuk mengakui kekalahan.
Pep Guardiola mengubah paradigma sepak bola modern. Messi merupakan manifestasi epistemologi paling sempurna dari paradigma baru tersebut. Messi disini tidak akan dihadirkan dengan berangkat dari pertanyaan mengapa ia bisa hebat? Tetapi bagaimana Messi dengan segala bakatnya, lahir pada momen yang tepat. Ia sebagai medium dimana para pengamat, analis, professional hingga football enthusiast menikmati dan memahami sepak bola dengan cara baru. Secara utuh dan simultan. Tiap sepakan kaki kirinya, ia menegaskan ini adalah cara baru bermain si kulit bundar.
Dan lebih jauh mengakui bahwa ada era taktik baru yang bergema. Disinilah bagi Kuhn revolusi saintifik tidak berhenti pada muncul paradigma baru. “Paradigma baru” itu harus bertarung terus. Tidak hanya untuk diterima. Tapi sebagai new normal baru. Dipahami. Diadopsi. Dan dimodifikasi.
Barcelona dan Rezim Pengetahuan Tiki-Taka
Sampai pada tahap ini, Guardiola bersama Messi (Iniesta dan Xavi) membangun sebuah arsitektur agung yang belum pernah ada dalam sejarah sepak bola. Arsitektur yang menurut Michel Foucault (dalam The Archaeology of Knowledge-1969) sebagai rezim pengetahuan (regime of knowledge). Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang dianggap sebagai pengetahuan dalam suatu masyarakat (dalam hal ini sepak bola) tidak berdiri secara netral, melainkan dibentuk oleh hubungan antara pengetahuan (knowledge) dan kekuasaan (power).
Dipikiran Pep, strategi harus dilapisi dengan seperangkat pengetahuan dan konsep matang yang akurat dan tepat. Sehingga sebelum peluit pertandingan dibunyikan, pemain telah memiliki seperangkat ide “untuk dipertarungkan” di medan laga. Dan kekuasaan (power) adalah kemampuan tim untuk menguasai di kulit bundar dengan ball possession yang unggul.
Di bawah arahan jenderal lini tengah, Xavi, Iniesta dan Busquest, peluang ditafsirkan untuk siapa gol harus dicetak. Metode apa yang mesti dilakukan untuk menghasilkan operan yang tak diketahui dan dipahami lawan. Serta bagaimana suatu gol disebarluaskan (ke pemain lain), dipertahankan dan ditingkatkan.
Tiki-Taka itulah yang pada akhirnya membuat sekolah akademi Barca, La Masia, bertransformasi menjadi penjara panopticon ala Foucault, yang mengawasi setiap visi, misi, pikiran, tubuh dan gerakan. Sebagai individu, tubuh pemain Barcelona telah bertransformasi menjadi disciplined tactical intelligence.
Tubuh pemain Cules itu, dinormalisasi dan displinkan dengan teknik rondo. Teknik “kucing-kucingan” dalam sebuah lingkaran kecil berjumlah 6-8 orang, dimana 2-3 pemain lainnya, mengejar bola tanpa henti. Mungkin juga itu bagian dari proses docile bodies (tubuh yang didisiplinkan). Lewat seperangkat sistem yang ajeg. Pemain bukan sekadar bergerak. Tapi juga bukan robot. Mereka dilatih untuk berpikir melalui dan dalam sistem. Dan pendidikan itu semua, sudah didisplinkan sejak masa belia di La Masia.
Nou Camp stadion Barca, juga pada akhirnya menjadi Coloseum bagi para pemain. Dimana tim lawan bertindak sebagai gladiator, yang “dipaksa” bertahan dengan tekanan masif para tentara Roma yang haus akan gol. Dalam ketidaksadarannya, 11 pemain lawan “terpenjara” dalam jaringan disipliner (disciplinary network) ala Foucault. Dari sebuah sistem destruktif yang paling halus. Dimana operan pendek dan crossing, menjadi tebasan pisau yang cepat, lincah dan mematikan. Gambaran itu dalam bahasa ala Foucault-dian (Discipline and Punish-1975) disebut genealogi “lapangan hijau”.
Disini figure seperti Messi adalah subjek yang diproduksi oleh regime of knowledge. Juga sebagai produk apparatus dispositive. Dispositive disini adalah jaringan yang terdiri dari berbagai unsur material dan nonmaterial yang saling berkelindan untuk mengatur dan membentuk (mendisplinkan) perilaku, cara berfikir yang termanifestasikan dalam kekuasaan strategi Tiki-Taka. Ya Messi bertindak sebagai aparat dan algojo peluang. Lawan lengah sepersekian detik, bola sudah menggetarkan jaring gawang.
Tanpa Barcelona era itu, mungkin kita akan melihat sepak bola dengan sedikit perubahan sekarang.
La Furia Roja dan Warisan Cules
Pada saat Spanyol pertama kali World Cup pada 2010 di Afrika Selatan, adalah tahun yang sama saat Barcelona sedang bertransformasi sebagai tim terkuat di dunia. Bahkan saking “over power-nya” Cules saat itu, banyak pengamat dan pers yang mengatakan bahwa “bukan Spanyol yang menjuarai Piala Dunia, tapi Barcelona”. Bukan berlebihan, pasalnya, Barcelona saat itu nyumbang para pemain bintang yang menjadi kunci dan tulang punggung Tim Matador itu.
Mereka yang tergabung dalam skuad La Furia Roja itu adalah Gerard Pique, Carlos Puyol, Andres Iniesta, Xavi, Victor Valdes, Sergio Busquets, David Villa dan Pedro. Plus satu pemain hasil dari pendidikan La Masia asli. Yakni Cesc Fabregas (saat itu bermain di Arsenal dan pindah ke Barca saat piala dunia usai.
Tidak hanyak menyumbang pemain. Nahkoda kapal Vicente Del Bosque juga menerapkan cara bermain ala Tiki-Taka Barcelona. Dengan pengusaan bola, high pressing, dan build up dari bawah, operan pendek, false nine dan overload pemain di ruang tengah. Tidak ada klub yang menggunakan strategi serupa selain Barca saat itu. Tak terbantahkan.
Hasilnya, Spanyol menjadi tim paling ditakuti saat itu. Meski sempat terseok-seok melawan Swiss. Revolusi taktik yang digunakan dari klub berseragam biru merah. Di “atm” (amati, tiru dan modifikasi) oleh tim berseragam merah itu. Sangat rasional untuk pelatih manapun menggunakan strategi yang telah matang dan mapan plus dengan memboyong para “intelektual” lapangan hijau yang menjadi motor lapangan hijau.
Pun pada piala dunia 2026 ini. Dibawah arahan pelatin Luis de La Fuente ini, memboyong delapan pemain Barcelona. Mengutip USA today, pemain itu adalah: Joan Garcia (penjaga gawang), Pau Cubarsi (bek), Eric Garcia (bek), Pedri (gelandang), Gavi (gelandang), Dani Olmo (penyerang), Ferran Torres (penyerang), dan Lamine Yamal (penyerang).
Kembali pemain-pemain Cules itu, menjadi tulang punggung taktik. Dan yang lebih mencengkannya lagi. Beberapa dari mereka bersinar saat umur yang masih belia. Yakin di bawah 25 tahun. Bahkan Cubarsi dan Yamal masih berumur 19 tahun.
Selain itu tidak lupa bahwa sang kapten plus peraih Ballon d’Or pada 2024, Rodri, adalah “monster” karya Pep Guardiola di klub Mancester City. Kepiawaian Rodri tidak main-main. Berhasil membawa City menjuarai Liga Inggris empat tahun berturut-berturut. Juga Liga Champions. Plus membantu Spanyol juara Euro pada 2024. Ya Rodri adalah salah satu magnum opus Guardiola. Hasil dari evolusi epistemologi Tiki-Taka sejak 2008-2012.
Selanjutnya dalam konteks strategi ada beberapa persamaan dan perbedaan dari racikan Fuente dan del Bosque. Dari segi persamaan, Spanyol 2026, tetap menggunakan high pressing, ball possession, build up dan jenderal lapangan tengah dari pemain Barca. Sedangkan perbedaannya, Fuente menekankan serangan agresif dari sayap. Dengan direct attack dari Yamal dan Niko. Selain itu Spanyol kini tidak menggunakan false nine dan lebih memaksimalkan keganasan Mikel Oyarzabal. Ritme permainan saat ini juga sedikit lebih lambat. Permainan durasi atau tempo ini berguna, agar pemain Spanyol tidak kehilangan ruang saat terjadi counter attack atau transisi terjadi. Serta juga memaksimalkan peluang dari operan-operan lambung yang lebih banyak.
Tetapi secara umum taktik Tika-Taka masih menjadi opsi yang jitu bagi pelatih. Karena taktik ini benar-benar membuat permainan menjadi dapat dikontrol dengan baik. Kontrol yang baik akan menghasilkan leuang yang lebih banyak dan lebih akurat. Dengan epistemologi permainan yang paling kompleks, Spanyol berhasil mengalahkan tim dari negara tangguh. Seperti Perancis dan juara bertahan Argentina dengan Messi sebagai nahkoda.
Guardiola dan Barcelona memang tidak ikut campur langsung dalam laga. Tetapi hasilnya menjadi warisan dan budaya.
Load more