Media Belanda Kaget Bukan Main, Ditinggal Kevin Diks ke Bundesliga, FC Copenhagen Alami ‘Bencana’ Musim Ini
- FC Copenhagen
tvOnenews.com - Bek Timnas Indonesia, Kevin Diks, ikut menyoroti kondisi mengejutkan yang sedang dialami mantan klubnya, FC Copenhagen, pada musim 2025/2026.
Situasi yang menimpa raksasa Denmark tersebut bahkan disebut sebagai sebuah “bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya” oleh media Belanda, VoetbalPrimeur.
Dalam laporan khususnya, VoetbalPrimeur menilai musim yang dijalani FC Copenhagen kali ini benar-benar jauh dari ekspektasi.
- FC Copenhagen
Klub yang selama ini dikenal sebagai penguasa sepak bola Denmark justru terjerumus ke fase play-off degradasi.
FC Copenhagen selama bertahun-tahun dikenal sebagai klub paling dominan di Liga Denmark.
Dalam 15 musim terakhir, klub ibu kota tersebut berhasil mengoleksi sembilan gelar liga, menjadikannya salah satu tim tersukses di negara tersebut.
Bahkan pada musim sebelumnya, FC Copenhagen masih mampu meraih gelar ganda domestik dan sempat hampir melaju ke fase gugur Liga Champions.
Namun musim ini situasinya berubah drastis.
- Instagram/Kevin Diks
Alih-alih bersaing memperebutkan gelar juara, Copenhagen justru hanya mampu menempati peringkat ketujuh pada klasemen musim reguler Liga Denmark yang berakhir pada awal Maret.
Posisi tersebut membuat mereka gagal masuk ke enam besar, yang berarti tidak ikut dalam fase play-off perebutan gelar.
Menurut laporan VoetbalPrimeur, kegagalan ini menjadi catatan buruk bagi FC Copenhagen.
Untuk pertama kalinya sejak sistem play-off diperkenalkan di Denmark, klub tersebut tidak berhasil masuk ke fase perebutan gelar juara.
Bahkan terakhir kali Copenhagen finis di bawah posisi empat besar terjadi pada tahun 2000, ketika mereka menempati posisi kedelapan.
- FC Copenhagen
Kini, dengan berada di peringkat ketujuh, FC Copenhagen justru harus menjalani play-off degradasi, sesuatu yang jarang dibayangkan oleh para penggemar mereka.
Performa buruk sepanjang musim membuat para pendukung Copenhagen tidak bisa menyembunyikan kekecewaan mereka.
Setelah kekalahan dari Randers pada 1 Maret lalu, para suporter membentangkan sejumlah spanduk dengan pesan keras kepada tim.
Beberapa di antaranya menyebut musim ini sebagai penampilan terburuk dalam tiga puluh tahun terakhir.
Ada pula kritik yang menyinggung bahwa skuad Copenhagen saat ini merupakan tim dengan performa terburuk namun memiliki gaji tertinggi di liga.
Sebagai mantan pemain FC Copenhagen, Kevin Diks mengaku sangat terkejut melihat kondisi mantan klubnya tersebut.
- FC Copenhagen
Bek kelahiran Apeldoorn, Belanda, itu pernah memperkuat Copenhagen selama empat musim sebelum akhirnya bergabung dengan Borussia Mönchengladbach pada musim panas lalu.
“Saya masih menonton hampir setiap pertandingan. Saya tidak menyangka ini akan terjadi ketika saya pergi beberapa bulan yang lalu,” kata Diks kepada VoetbalPrimeur.
Menurut pemain yang kini menjadi bagian dari Timnas Indonesia itu, klub sebesar FC Copenhagen seharusnya selalu bersaing untuk meraih trofi setiap musim.
“Sebuah klub seperti FC Copenhagen harus bersaing untuk memperebutkan trofi sepak bola Eropa dan domestik setiap tahunnya. Hal itu berjalan baik dalam beberapa tahun terakhir, tetapi ini jelas merupakan bencana,” ujarnya.
- Borussia Monchengladbach
Meski musim ini berjalan sulit, FC Copenhagen masih memiliki peluang untuk menyelamatkan situasi.
Klub tersebut berhasil mencapai final Piala Denmark, di mana mereka akan menghadapi FC Midtjylland.
Meski demikian, bagi Kevin Diks sendiri, FC Copenhagen tetap memiliki tempat spesial dalam perjalanan kariernya.
"FC Copenhagen sangat fantastis bagi saya. Saya memiliki begitu banyak kenangan indah tentang klub dan kota itu. Saya juga secara pribadi mengalami banyak hal luar biasa di sana. Perasaan yang saya miliki dan masih saya rasakan di Copenhagen tak ternilai harganya,” ujar Diks. (asl)
Load more