Wasit Liga Indonesia Bertingkah di Piala Dunia, Bikin Gestur White Supremacy: Untungnya Dibela FIFA
- Tangkapan layar
tvOnenews.com – Panggung megah Piala Dunia 2026 mendadak diguncang kontroversi hebat di luar urusan teknis lapangan hijau. Seorang wasit yang memiliki rekam jejak pernah memimpin pertandingan di kompetisi Liga Indonesia Shaun Evans sempat menjadi sorotan tajam dan menuai kecaman luas setelah dituding memperlihatkan gestur yang identik dengan simbol supremasi kulit putih (white supremacy).
Merespons kegaduhan yang terjadi di ruang publik secara masif, FIFA bergerak cepat dengan segera meluncurkan investigasi mendalam untuk mengusut tuntas insiden di ruang VAR tersebut.
Namun, berdasarkan hasil penelusuran komprehensif, badan sepak bola tertinggi di dunia itu secara resmi menyatakan bahwa tidak ada aturan regulasi yang dilanggar oleh sang pengadil lapangan.
"Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, tidak ditemukan bukti adanya pelanggaran terhadap Kode Disiplin FIFA," demikian pernyataan singkat dari pihak FIFA yang dikutip tvOnenews.com melalui BBC Sport, Selasa (15/6/2026).
Melalui rilis resmi yang dikeluarkan oleh otoritas FIFA tersebut, Shaun Evans menolak dengan sangat tegas segala tuduhan miring yang menyebut dirinya sengaja memperlihatkan simbol kelompok supremasi kulit putih.
Wasit yang kini menginjak usia 38 tahun itu menjelaskan secara mendetail bahwa gerakan tangan kontroversial itu murni terjadi secara tidak sengaja.
"Gestur itu merupakan gerakan refleks yang tidak disengaja dan terjadi secara bawah sadar," ujar Evans mengklarifikasi.
Dirinya mengaku sama sekali tidak menyadari tindakan fisik tersebut sewaktu kamera siaran resmi pertandingan milik FIFA sedang menyorot aktivitas kru di dalam ruang VAR.
"Saya tidak menyadari telah membuat gerakan itu dan saya sama sekali tidak berniat menyampaikan pesan, afiliasi, permainan, ataupun keyakinan apa pun," tegasnya lagi.
Lebih lanjut, pria asal Australia ini menerangkan bahwa segala narasi bersayap serta pemberitaan negatif yang beredar luas di berbagai media internasional pasca-insiden sama sekali tidak mencerminkan kepribadian aslinya.
Walau demikian, ia memaklumi adanya sensitivitas dan salah paham yang muncul dari masyarakat dunia.
"Pemberitaan yang muncul setelah kejadian ini sama sekali tidak mencerminkan diri saya. Saya memahami bagaimana gestur itu ditafsirkan dan saya menyesalkannya. Tapi saya ingin menegaskan dengan sangat jelas bahwa saya tidak secara sadar atau sengaja membuat simbol seperti yang dituduhkan," lanjut pria yang pernah menjadi wasit asing di Liga Indonesia pada musim 2017 silam itu.
Guna memperkuat pembelaannya, Evans membeberkan bukti kuat berupa rekaman video asli di dalam ruang VAR yang diambil sepanjang jalannya pertandingan.
Berdasarkan rekaman utuh tersebut, ia terpantau memang kerap melakukan gerakan motorik serupa secara berulang, terutama ketika jemarinya tengah memegang atau menyelipkan alat tulis.
"Foto dan rekaman yang diambil selama pertandingan memperlihatkan bahwa saya mengulangi gerakan itu berkali-kali saat memegang pena di antara jari-jari saya," jelas sang pengadil lapangan A-League tersebut.
Bagi Evans, kesempatan emas dipercaya masuk ke dalam jajaran korps ofisial dalam turnamen sepak bola terakbar di jagat raya ini merupakan puncak pencapaian tertinggi sekaligus sebuah kehormatan luar biasa dalam karier profesionalnya sebagai pengadil lapangan.
"Menjadi bagian dari perangkat pertandingan di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya dan saya menantikan kesempatan untuk terus mendukung rekan-rekan wasit selama turnamen ini," pungkas Shaun Evans menutup pernyataannya secara optimistis.
Sebagai informasi, polemik ini pertama kali pecah sesaat sebelum laga penyisihan grup Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Jerman melawan Curacao dimulai pada hari Minggu kemarin, di mana laga tersebut berakhir dengan keunggulan telak panser Jerman 7-1.
Petaka muncul ketika sorotan kamera beralih ke dalam ruang Video Assistant Referee (VAR) yang berpusat di Dallas.
Shaun Evans yang bertugas sebagai asisten wasit video di ruangan tersebut tertangkap kamera memberikan gestur jari membentuk simbol 'Oke' dengan posisi lingkaran mengarah ke bawah.
Pola jari tersebut dinilai menyerupai huruf W dan P yang merupakan akronim dari slogan 'White Power'.
Bahkan, tidak sedikit pengamat yang mengategorikannya sebagai gestur khas kelompok neo-Nazi atau simbol kebencian sayap kanan ekstrem global, mengacu pada ketetapan badan anti-kebencian dunia, Anti-Defamation League (ADL).
Sebelum FIFA merilis hasil investigasi bersih ini, mitra resmi FIFA dan UEFA dalam memantau tindakan rasialisme, Fare Network, sempat melayangkan tuntutan keras agar nama Shaun Evans langsung dicoret dan diusir dari sisa seluruh agenda pertandingan Piala Dunia 2026 karena dianggap telah mencoreng nilai sportivitas.
Namun dengan keluarnya hasil investigasi resmi ini, posisi Shaun Evans dipastikan aman untuk terus bertugas.
Load more