Spanduk Malvinas bikin Panas
- REUTERS/Amanda Perobelli
Jakarta, tvOnenews.com – Gedung Putih, kantor presiden Amerika Serikat (AS), membela hak kebebasan berbicara tim sepak bola Argentina setelah mereka secara kontroversial mengibarkan spanduk untuk mendukung klaim teritorial negara mereka atas Kepulauan Malvinas / Falkland saat merayakan kemenangannya atas Inggris.
Argentina berpotensi menghadapi tindakan disiplin dari FIFA terkait insiden tersebut yang dapat melanggar aturan tentang pernyataan politik. Ketika ditanya apakah para pemain La Albiceleste bersalah, Kepala Gugus Tugas FIFA Gedung Putih, Andrew Giuliani, mengatakan bahwa Argentina memiliki hak untuk 'menyampaikan pernyataan tersebut' di AS.
Ia merujuk pada perlindungan kebebasan berbicara dalam Konstitusi AS, dengan mengatakan, "Kami percaya pada hak Amendemen Pertama kami di Amerika Serikat," seperti dikutip dari BBC.
Komentar tersebut dapat semakin memperkeruh suasana terkait insiden tersebut, yang membuat Downing Street, kantor perdana menteri Inggris, mendukung seruan agar FIFA melakukan penyelidikan.
Juru bicara perdana menteri Inggris mengatakan Piala Dunia mungkin bukan miliknya, tetapi Kepulauan Falkland sudah jelas. "Komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah," tegasnya.
Sedangkan, Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel menyebut bahwa negaranya melawan Inggris bukanlah sekadar pertandingan biasa.
"Kepulauan Malvinas (Falkland) adalah milik Argentina. Mereka melarangnya ke stadion tapi mereka lupa kalau kami membawa mereka dalam darah dan hati kami," tulis Villarruel, melalui platform X.
Kepulauan Falkland / Malvinas, wilayah seberang laut Inggris di Samudra Atlantik barat daya, tetap menjadi subjek sengketa kedaulatan antara Inggris dan Argentina.
Para pemain Argentina membentangkan spanduk setelah pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris yang bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas", yang berarti "Kepulauan Falkland adalah milik Argentina".
Pemerintah Kepulauan Falkland mengaku bahwa mereka 'kecewa tetapi tidak terkejut' tentang spanduk tersebut dan berharap FIFA akan 'memberikan sanksi terhadap semua perilaku seperti ini sesuai dengan aturan yang berlaku'.
"Kami tidak ingin politik dicampuradukkan ke dalam olahraga. Kami juga tidak ingin Kepulauan dan penduduknya dijadikan alat politik dalam setiap percakapan tentang Inggris dan Argentina," demikian menurut juru bicara Kepulauan Falkland.
Pada 2013, penduduk Kepulauan Falkland memberikan suara mayoritas untuk tetap menjadi wilayah seberang laut Inggris.
Dari 1.517 suara yang diberikan dalam referendum dua hari tersebut - dengan tingkat partisipasi lebih dari 97 persen - 1.513 suara mendukung, sementara hanya tiga suara menentang.
Perang singkat namun sengit terjadi antara Inggris dan Argentina memperebutkan wilayah tersebut pada 1982.
Satuan tugas militer Inggris mengusir pasukan Argentina yang telah mendarat di Kepulauan Falkland untuk menegaskan klaim teritorial. Konflik selama 74 hari itu menyebabkan kematian 255 personel militer Inggris, tiga penduduk pulau, dan 649 tentara Argentina.
Load more