Pernah Berseragam Oranye Persija hingga Biru Persib, Apa Kabar Marwal Iskandar? Ternyata Kini Justru Jadi...
- istimewa
tvOnenews.com - Nama Marwal Iskandar mungkin sudah jarang terdengar di dunia sepak bola nasional. Namun bagi pencinta Liga Indonesia era 90-an hingga 2000-an, sosok gelandang petarung asal Tana Luwu, Sulawesi Selatan ini tentu masih lekat dalam ingatan.
Totalitas dan semangat juangnya di lapangan membuat Marwal dikenal sebagai pemain yang pantang menyerah dan selalu tampil militan di setiap pertandingan.
Marwal memulai perjalanan kariernya pada 1991 bersama Gaspa Palopo.
Sejak saat itu, kariernya terus menanjak hingga memperkuat 15 klub berbeda selama aktif bermain, sebuah catatan luar biasa bagi seorang pemain era Liga Indonesia.
Klub besar pertama yang mempercayakan jasanya adalah PSM Makassar, di mana ia menjadi bagian dari skuat Juku Eja yang berhasil meraih runner-up Liga Indonesia 1995–1996.
Pada tahun yang sama, Marwal juga tampil memperkuat tim Sulawesi Selatan di PON 1996 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Setelah petualangan bersama PSM, Marwal sempat memperkuat Persikota Tangerang, klub berjuluk Bayi Ajaib yang kala itu ditangani pelatih legendaris Sutan Harhara.
Di bawah asuhannya, kemampuan Marwal berkembang pesat. Ia menjadi salah satu kunci keberhasilan Persikota menembus semifinal Liga Indonesia 1999–2000 sebelum akhirnya dihentikan PKT Bontang.
Empat musim di Persikota, Marwal kemudian berlabuh ke Perseden Denpasar. Dua musim berseragam klub asal Bali itu, ia mendapat tawaran dari Persib Bandung pada 2003, tim yang kala itu tengah berjuang lepas dari ancaman degradasi.
Bersama Persib, Marwal punya kenangan yang tak akan pernah ia lupakan. Didatangkan pada putaran kedua musim 2003 bersama Suwandi HS dari Perseden, Marwal ikut membantu Maung Bandung selamat dari degradasi.
Dalam babak play-off yang berlangsung di Solo, Persib tampil gemilang dengan meraih tujuh poin dari tiga pertandingan dan memastikan tempat di kasta tertinggi Liga Indonesia.
“Setiap pertandingan terasa seperti final. Kami tidak boleh kehilangan satu poin pun,” kenang Marwal dalam sebuah wawancara dengan Indosport.
Selepas dari Persib, karier Marwal berlanjut ke PSMS Medan (2004–2005) dan kemudian Persipura Jayapura (2005–2006).
Di tanah Papua inilah ia meraih salah satu pencapaian terbaiknya, menjadi juara Liga Indonesia 2005 setelah Persipura menundukkan Persija Jakarta di partai final.
Tak lama kemudian, Marwal justru menyeberang ke Persija Jakarta, klub yang dikalahkannya di final sebelumnya.
Bersama Macan Kemayoran, pencapaian terbaiknya adalah membawa tim hingga semifinal Liga Indonesia 2007 dan peringkat ketiga Copa Indonesia dua musim berturut-turut (2006 dan 2007).
Dengan bergabungnya ke Persija, Marwal pun melengkapi “koleksi” impiannya, membela enam klub besar eks Perserikatan: PSM Makassar, Persib Bandung, PSMS Medan, Persipura Jayapura, Persija Jakarta, dan Persebaya Surabaya.
Dari Lapangan Hijau ke Dunia Kepelatihan
Setelah gantung sepatu, Marwal tak meninggalkan dunia sepak bola. Ia memulai karier barunya sebagai pelatih di Makassar United, klub amatir yang kerap mengikuti turnamen nasional dan internasional seperti Celebes Cup dan Piala Gubernur Aceh.
Pada periode 2011–2015, Marwal mendapat kesempatan berharga menjadi staf pelatih di Akademi Frenz International Malaysia, pengalaman luar negeri yang memperkaya wawasan kepelatihannya.
Sekembalinya ke Tanah Air, ia sempat menjadi asisten pelatih di Borneo FC (2015) dan Persela Lamongan (2016) sebelum dipercaya menjadi pelatih kepala PSPS Pekanbaru pada 2017.
Puncaknya, pada 2019, Marwal tercatat sebagai Direktur Teknik Persik Kediri, yang berhasil membawa tim promosi ke Liga 1.
Tak berhenti di level klub, Marwal kini aktif berperan sebagai instruktur pelatih di berbagai kursus lisensi di Indonesia.
Ia pertama kali menjadi instruktur pada 2015, mendampingi mentor lamanya, Sutan Harhara.
Kariernya semakin menanjak setelah mendapat kesempatan langka mewakili Indonesia dalam pelatihan instruktur Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) pada 17–23 Agustus 2019.
“Saya satu-satunya peserta dari Asia. Pengalaman di Jerman itu sangat berharga,” tutur Marwal.
Sepulang dari Jerman, ia kerap diundang menjadi instruktur kepala di berbagai daerah, dari Sumatera hingga Maluku, untuk berbagi ilmu kepada pelatih-pelatih muda Tanah Air.
“Saya ingin melahirkan pelatih yang bisa mengembangkan potensi pemain muda Indonesia. Ilmu sepak bola terus berkembang, dan saya pun masih terus belajar,” ujarnya.
Kini, Marwal Iskandar mungkin sudah tidak lagi berlari di lapangan, tetapi kontribusinya bagi sepak bola Indonesia belum berhenti. (tsy)
Load more