Kepada Media Belanda, Pemain Keturunan Indonesia Ungkap Tak Digaji Berbulan-bulan di Super League sampai Putuskan 'Pensiun' Dini
- instagram.com/persisofficial
Jakarta, tvOnenews.com - Kisah pahit seorang pesepakbola profesional asal Belanda berdarah Indonesia menjadi sorotan setelah terungkap bahwa dirinya tak menerima gaji selama berbulan-bulan saat membela klub Liga Indonesia, Persis Solo. Adalah Jordy Tutuarima (32), bek keturunan Maluku kelahiran Elst, yang kini harus menelan kenyataan pahit usai petualangan impiannya di tanah leluhur berakhir secara tiba-tiba dan menyakitkan.
Selama lebih dari setahun membela Persis Solo, Tutuarima dan rekan-rekannya sesama pemain asing menghadapi situasi yang jauh dari kata nyaman. Klub tidak membayar gaji para pemain selama berbulan-bulan, kondisi yang secara langsung berdampak pada performa tim di lapangan hijau.
"Kami tidak dibayar selama berbulan-bulan, jadi Anda bisa memperkirakan hasilnya akan menurun," ungkap Tutuarima dikutip dari de Gelderlander pada Sabtu (11/4/2026).
Dampaknya terasa lebih dalam bagi para pemain lokal yang bergantung penuh pada penghasilan dari sepak bola. Berbeda dengan pemain asing yang masih memiliki sedikit tabungan, para pemain lokal dengan gaji minim tidak punya cadangan finansial untuk menopang keluarga mereka.
"Xandro, Gervane, dan saya punya sedikit tabungan, tetapi anak-anak lokal, yang penghasilannya memang tidak banyak, tidak punya. Mereka punya keluarga yang harus diurus," kata Tutuarima.
Situasi makin runyam ketika manajemen Persis Solo mendatangkan pelatih baru pada Januari 2026, yang langsung mengambil keputusan mengejutkan seluruh pemain asing harus angkat kaki. Tak tanggung-tanggung, sembilan pemain sekaligus diminta hengkang dalam waktu semalam, termasuk Tutuarima, Gervane Kasteneer dan Xandro Schenk.
Proses penyelesaian kontrak pun berlangsung alot dan memakan waktu beberapa pekan. Tutuarima yang masih terikat kontrak hingga musim panas mendesak klub agar mencari solusi yang adil, dan akhirnya kesepakatan pun tercapai meski melalui jalan berliku.
Performa buruk Persis Solo di paruh pertama musim yang hanya meraih satu kemenangan menjadi bom waktu yang meledak dan mengorbankan pelatih asal Belanda, Peter de Roo, di penghujung tahun 2025. Namun menurut Tutuarima, hasil buruk itu bukan semata-mata soal kualitas, melainkan cerminan langsung dari kekacauan internal yang melanda klub.
Load more