Firman Utina Semprot Pelatih Kiper Bhayangkara FC U-20 Usai Ikut Ribut di Pinggir Lapangan
- Instagram/firmanutina1515
tvOnenews.com - Insiden kericuhan mewarnai pertandingan antara Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 dalam lanjutan kompetisi Elite Pro Academy U-20.
Laga yang berlangsung di Stadion Citarum pada Minggu (19/4/2026) tersebut berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan Dewa United U-20.
Namun, hasil pertandingan bukan satu-satunya yang menjadi sorotan.
Setelah peluit panjang dibunyikan, suasana justru memanas dan berujung pada aksi kekerasan yang melibatkan pemain dari kedua tim.
Ketegangan yang awalnya hanya berupa adu argumen berubah menjadi keributan fisik di pinggir lapangan.
Kronologi kejadian bermula saat para pemain dari kedua kubu saling berhadapan usai pertandingan.
Situasi yang tidak terkendali memicu aksi yang lebih agresif.
Salah satu momen paling disorot adalah ketika seorang pemain Bhayangkara FC U-20 yang diduga Fadly Alberto Hengga melakukan tendangan keras bergaya kungfu ke arah pemain lawan.
- Instagram @smgfootball
Aksi tersebut memicu reaksi berantai dari pemain lain.
Beberapa nama seperti Ahmad Catur Prasetyo dan Aqilah Lissunah juga disebut turut terlibat dalam keributan yang semakin meluas.
Situasi semakin tidak kondusif ketika sejumlah staf tim ikut terseret dalam konflik tersebut.
Salah satu sosok yang menjadi perhatian publik adalah Ferdiansyah yang saat ini menjabat sebagai pelatih kiper Bhayangkara FC U-20.
Berdasarkan foto yang beredar di media sosial, Ferdiansyah diduga ikut terlibat dalam aksi kekerasan di area bangku cadangan tim lawan.
Keterlibatan pelatih dalam insiden tersebut menuai kritik keras, salah satunya datang dari legenda sepak bola Indonesia, Firman Utina.
Melalui unggahan Instagram Stories miliknya, Firman secara terbuka menyampaikan sindiran tajam kepada Ferdiansyah.
Ia menilai bahwa sebagai seorang pelatih, seharusnya memberikan contoh yang baik, bukan justru ikut terlibat dalam tindakan yang mencederai sportivitas.
- Instagram @smgfootball
Dalam unggahannya, Firman menuliskan kritik pedas yang langsung menarik perhatian publik.
“Kamu itu pelatih, bukan preman, makanya kursus jangan tidur supaya belajar sama-sama. Ini bukan zaman lo main, nanti kita bakal ketemu ya coach,” tulis Firman dalam unggahan tersebut.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap perilaku yang dianggap tidak mencerminkan profesionalisme seorang pelatih.
Kritik dari figur senior seperti Firman Utina pun semakin memperbesar sorotan terhadap insiden ini.
Di sisi lain, korban dari aksi kekerasan tersebut adalah pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis.
Ia dilaporkan mengalami luka dan memar di bagian tubuh serta wajah akibat tendangan yang diterimanya.
Rakha langsung mendapatkan perawatan medis usai insiden tersebut.
Pihak Dewa United pun memberikan dukungan penuh kepada pemainnya dan mengecam keras tindakan kekerasan yang terjadi di lapangan.
Insiden ini menjadi perhatian luas karena terjadi di ajang pembinaan pemain muda.
Kompetisi Elite Pro Academy sejatinya dirancang untuk mencetak pemain profesional masa depan, sehingga nilai sportivitas dan etika menjadi hal utama yang harus dijunjung tinggi.
Keributan yang melibatkan pemain hingga staf pelatih ini pun memunculkan pertanyaan besar terkait pengawasan dan disiplin dalam kompetisi usia muda.
Publik berharap ada tindakan tegas dari pihak terkait agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Sorotan terhadap insiden ini juga semakin meluas di media sosial, di mana banyak pihak menyayangkan terjadinya kekerasan di level pembinaan.
Kritik tidak hanya ditujukan kepada pemain, tetapi juga kepada pelatih yang seharusnya menjadi panutan di dalam maupun luar lapangan. (adk)
Load more