Manchester United Terjun ke Peringkat Terendah, Liverpool Mendadak Jadi Raja Pendapatan Premier League
- instagram manutd
tvOnenews.com - Sorotan utama tertuju pada Manchester United yang kini justru mengalami penurunan signifikan, hingga menempati posisi terendah mereka dalam sejarah Money League edisi 2026.
Laporan terbaru Deloitte Football Money League kembali memanaskan diskusi soal peta kekuatan finansial klub-klub elite Eropa.
Ini menjadi pukulan telak bagi klub yang sebelumnya sangat identik dengan dominasi pemasukan komersial, sekaligus menegaskan bahwa era kejayaan finansial tidak lagi otomatis dimiliki hanya karena besarnya nama dan sejarah.
Di saat Manchester United melemah, Liverpool justru mencuri perhatian dengan melompat menjadi klub Premier League berpendapatan tertinggi untuk pertama kalinya.
The Reds masuk lima besar dan berada di atas klub-klub Inggris lain yang selama ini lebih sering disebut sebagai “mesin uang” liga.
Pergeseran ini memperlihatkan bahwa kekuatan finansial di Premier League semakin ditentukan oleh kombinasi performa di lapangan, kompetisi Eropa, dan inovasi pendapatan non-pertandingan.
Melansir dari Sky Sports, Manchester United yang pernah menduduki puncak Money League dalam 10 dari 29 edisi kini turun ke posisi kedelapan.
Sementara itu, Real Madrid berada di puncak klasemen, dan Liverpool mencatat tonggak penting sebagai klub Inggris dengan pendapatan tertinggi di daftar tersebut.

- REUTERS/Phil Noble
Manchester United Terlempar ke Peringkat 8, Pendapatan Terguncang
Dalam laporan Money League 2026, Manchester United berada di peringkat kedelapan. Ini menjadi posisi paling rendah mereka sepanjang sejarah keikutsertaan di laporan tersebut.
Salah satu faktor besar yang memengaruhi adalah penurunan pendapatan penyiaran, yang disebut turun dari €258 juta (sekitar £216,72 juta) menjadi €206 juta (sekitar £172,9 juta).
Penurunan itu terjadi karena absennya United dari Liga Champions pada musim 2024-25. Dampaknya jelas terasa karena kompetisi Eropa selama ini merupakan sumber pemasukan vital, baik dari hak siar, bonus, maupun peningkatan nilai komersial klub.
United juga diperkirakan kehilangan pemasukan dari matchday pada musim ini karena tidak tampil di kompetisi Eropa.
Situasi makin berat karena kegagalan mereka melaju jauh di dua piala domestik membuat jumlah laga kandang berkurang drastis.
Dalam laporan tersebut, United disebut hanya akan memainkan 20 pertandingan kompetitif di Old Trafford pada musim 2025-26. Kondisi ini otomatis berpengaruh pada tiket, hospitality, hingga pendapatan tambahan lain yang biasanya mengalir dari pertandingan besar.

- REUTERS/Peter Powell
Liverpool Naik Jadi Klub Inggris Terkaya, The Reds Menang Banyak dari Liga Champions
Berbanding terbalik dengan Manchester United, Liverpool justru menjadi klub Premier League dengan pendapatan tertinggi dan menempati peringkat kelima.
Ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya Liverpool berada di atas klub-klub Inggris lain dalam urusan pendapatan versi Deloitte.
Kesuksesan Liverpool ditopang oleh dua faktor utama. Pertama, mereka kembali bermain di Liga Champions pada musim 2024-25, yang tentu memberikan suntikan besar dari sisi penyiaran dan bonus performa.
Kedua, laporan menyebut adanya peningkatan pendapatan komersial sebesar tujuh persen yang dipengaruhi oleh acara non-pertandingan di Anfield.
Pencapaian Liverpool ini sekaligus memperlihatkan bahwa “keuntungan kompetitif” klub modern bukan cuma soal menang di liga, tetapi juga soal bagaimana stadion menjadi aset aktif sepanjang tahun.
Aktivitas non-pertandingan seperti event, tur, kerja sama sponsor, dan aktivasi brand terbukti jadi faktor yang semakin menentukan.
Di sisi lain, Manchester United tetap berada di posisi keempat untuk kategori klub Inggris, karena masih berada di belakang Liverpool, Manchester City, dan Arsenal dalam daftar Money League 2026.
Real Madrid Raja Baru: Tembus Pendapatan €1 Miliar, Premier League Terancam?
Real Madrid kembali menegaskan statusnya sebagai klub dengan kekuatan finansial terbaik di dunia. Mereka berada di puncak Money League, sekaligus menjadi klub pertama yang mencatat pendapatan lebih dari €1 miliar, tepatnya €1,161 miliar atau sekitar £975,2 juta.
Lebih mengejutkan lagi, untuk pertama kalinya tidak ada klub Inggris di empat besar. Posisi empat teratas kini diisi oleh Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich, dan Paris Saint-Germain.
Deloitte menilai salah satu faktor pentingnya adalah keuntungan dari performa bagus di Liga Champions yang kini diperluas, serta dampak dari Piala Dunia Antarklub FIFA yang juga diperbesar pada musim panas.
Deloitte juga menyebut bahwa Piala Dunia Antarklub menghasilkan kenaikan rata-rata 17 persen pada pendapatan penyiaran bagi 10 klub Money League yang terlibat. Ini memperlihatkan bagaimana turnamen baru bisa mengubah peta pemasukan, bahkan mendorong klub-klub non-Inggris mengambil alih dominasi.
Tim Bridge, Pemimpin Grup Bisnis Olahraga di Deloitte, menilai klub-klub besar dunia masih punya peluang besar untuk memperluas jangkauan mereka, bukan hanya pada hari pertandingan, tetapi juga di luar pertandingan.
“Klub-klub dengan merek dan posisi klub sepak bola terbesar di pasar memiliki kesempatan untuk memperluas jangkauan mereka dan menawarkan lebih banyak kepada penggemar di hari pertandingan, menawarkan lebih banyak kepada penggemar di luar hari pertandingan, dan menjadi titik kontak yang lebih aktif sepanjang tahun,” kata Tim Bridge.
Ia menilai Manchester United mungkin baru benar-benar memulai perjalanan itu sekarang, termasuk dengan wacana pengembangan stadion.
“United mungkin baru memulai perjalanan itu sekarang, karena pengembangan stadion yang dilaporkan,” lanjutnya.
Bridge juga menyoroti bahwa dulu Manchester United pernah menjadi patokan industri dalam pendapatan pertandingan dan komersial, tetapi standar itu kini mulai bergeser.
“Jika Anda melihat kembali 10 atau 15 tahun yang lalu, dan Anda melihat pendapatan pertandingan Manchester United, itu adalah pemimpin industri. Saya rasa itu tidak lagi berlaku.”
Meski begitu, peluang United belum tertutup.
Setan Merah tertinggal dalam melakukan transformasi dibanding Real Madrid dan Barcelona, tetapi kesempatan untuk mengejar masih ada.
Melihat tren ini, Premier League mungkin berharap bisa bangkit pada Money League 2027 karena akan ada dampak dari kesepakatan hak siar baru yang berlaku hingga 2029. Namun Deloitte menilai klub yang paling sukses tetaplah yang bisa menggabungkan prestasi di lapangan dengan diversifikasi pemasukan di luar lapangan.
Sebagai catatan tambahan, Manchester City juga mengalami penurunan ke peringkat enam. Itu menjadi posisi terendah mereka sejak musim 2019-20 yang terdampak pandemi Covid-19. (udn)
Load more