Blunder Transfer Rossoneri: AC Milan Kini Gigit Jari Lihat Pierre Kalulu Bersinar di Juventus
- REUTERS/Jennifer Lorenzini
Jakarta, tvOnenews.com - Keputusan AC Milan melepas Pierre Kalulu masih menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar Rossoneri hingga kini. Banyak yang menilai transfer tersebut terlalu tergesa-gesa, terutama setelah melihat performa bek asal Prancis itu justru berkembang pesat di klub barunya.
Kepergian Kalulu pada musim lalu memang sempat mengejutkan banyak pihak. Apalagi keputusan tersebut berkaitan erat dengan langkah Milan mendatangkan Emerson Royal untuk memperkuat sektor bek kanan.
Dalam praktiknya, kebijakan itu justru menuai banyak kritik. Sejumlah pengamat menilai keputusan menjual bek tengah demi mendatangkan bek kanan merupakan langkah yang cukup berisiko sejak awal.
Kalulu sendiri sebenarnya dikenal sebagai pemain yang cukup fleksibel di lini pertahanan. Meski posisi aslinya adalah bek tengah, ia beberapa kali mampu mengisi peran di sisi kanan pertahanan ketika dibutuhkan.
Hal lain yang membuat transfer tersebut dipertanyakan adalah nilai penjualannya yang dinilai tidak terlalu tinggi. Situasi itu semakin terasa janggal karena Milan justru melepasnya ke salah satu rival langsung di kompetisi domestik.
Setelah bergabung dengan Juventus, Kalulu tidak membutuhkan waktu lama untuk membuktikan kualitasnya. Dalam beberapa pekan pertama saja, ia langsung menunjukkan performa solid yang membuatnya cepat mendapatkan kepercayaan di skuad Bianconeri.
Penampilan konsisten itu membuat banyak pendukung Milan mulai menyesali keputusan klub. Mereka merasa Rossoneri telah kehilangan salah satu bek muda potensial yang seharusnya masih bisa berkembang di San Siro.
Kini, memasuki musim keduanya bersama Juventus, Kalulu bahkan dinilai telah berkembang menjadi salah satu pemain penting di lini belakang tim. Situasi ini semakin mempertegas bahwa keputusan Milan melepasnya mungkin bukan langkah yang paling tepat.
Dalam sebuah pertemuan dengan para jurnalis muda di markas Juventus, Kalulu sempat mengenang masa-masa awal setelah meninggalkan Milan. Ia mengaku proses adaptasi di kota baru ternyata tidak sepenuhnya mudah.
“Hal tersulit pada awalnya setelah meninggalkan Milan adalah mencari tempat tinggal di Turin,” ujar Kalulu, dilansir dari Calciomercato.com. Ia menjelaskan bahwa kepindahannya terjadi di penghujung bursa transfer sehingga semuanya terasa sangat cepat.
Menurutnya, jadwal pertandingan yang langsung berjalan membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk memikirkan banyak hal di luar lapangan. Ia harus segera fokus pada latihan dan pertandingan demi menyesuaikan diri dengan tim barunya.
Meski demikian, Kalulu merasa beruntung karena mendapat sambutan hangat dari lingkungan barunya di Juventus. Ia bahkan menemukan beberapa orang di klub yang bisa berbicara bahasa Prancis sehingga proses adaptasi berjalan lebih mudah.
“Saya menemukan lingkungan yang sangat ramah dan bahkan ada orang-orang yang berbicara bahasa Prancis, jadi lebih mudah bagi saya untuk menyesuaikan diri,” tuturnya.
Kalulu juga mengenang beberapa momen sulit yang pernah ia alami sepanjang karier profesionalnya. Salah satunya terjadi pada periode awal ketika ia baru bergabung dengan Milan beberapa tahun lalu.
“Saat pertama kali menandatangani kontrak dengan Milan, saya tidak langsung bermain. Selama lima bulan saya hanya berlatih tanpa kesempatan tampil di pertandingan,” ungkapnya.
Situasi itu semakin berat ketika ia kemudian mengalami cedera yang memaksanya menjalani operasi. Bagi seorang pemain sepak bola, menonton rekan setim bertanding dari pinggir lapangan tentu bukan pengalaman yang menyenangkan.
Namun Kalulu mencoba menghadapi masa sulit tersebut dengan cara yang sederhana. Ia selalu berusaha menetapkan tujuan, baik tujuan besar untuk masa depan maupun target kecil yang bisa dicapai setiap hari.
“Bahkan memperbaiki satu hal kecil dalam permainan bisa menjadi motivasi,” jelasnya. Ia percaya bahwa setiap fase dalam karier, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, pada akhirnya akan berlalu.
“Semua hal akan lewat, baik yang baik maupun yang buruk,” kata Kalulu. “Yang menentukan adalah bagaimana Anda memilih untuk menghadapinya dan berapa lama Anda ingin hal itu bertahan.”
(sub)
Load more