Dari Kritik ke Ancaman! Nasib Tragis Kiper Juventus Michele Di Gregorio Usai Rentetan Kekalahan Bianconeri
- Reuters
Jakarta, tvOnenews.com - Kiper Juventus, Michele Di Gregorio, terpaksa menonaktifkan kolom komentar di media sosialnya setelah dirinya dan keluarga menjadi sasaran ancaman serta pelecehan.
Situasi ini terjadi menyusul rentetan hasil buruk Bianconeri sepanjang Februari 2026. Juventus tercatat kalah dalam empat dari lima pertandingan terakhir di semua kompetisi.
Mereka tersingkir 0-3 dari Coppa Italia usai dikalahkan Atalanta. Lalu tumbang 2-3 dari rival abadi Inter dalam laga panas Derby d’Italia.
Tak hanya itu, Si Nyonya Tua juga dipermalukan 2-5 oleh Galatasaray di Liga Champions, sebelum kembali kalah 0-2 di kandang dari Como pada lanjutan Serie A.
Jadi Sasaran Kritik dan Hinaan
Di tengah periode kelam tersebut, Di Gregorio menjadi salah satu pemain yang paling banyak disorot. Penampilannya di bawah mistar dinilai mengecewakan dan dianggap berkontribusi terhadap sejumlah gol yang seharusnya bisa diantisipasi.
Sepanjang musim ini, Juventus kebobolan gol-gol krusial dalam laga melawan Inter, Borussia Dortmund, Sporting CP, Fiorentina, Lazio, Galatasaray, hingga Como.
Kritik pun bermunculan di media sosial. Sebagian warganet bahkan menyebut Di Gregorio sebagai “Interista”, merujuk pada latar belakangnya yang lahir di Milan dan menghabiskan hampir dua dekade di akademi Inter saat usia muda.
Tak sedikit pula yang melontarkan hinaan kasar seperti menyebutnya sebagai “beban” hingga “sampah”.
Namun, situasi memanas ketika ancaman lebih serius dilaporkan turut menyasar sang pemain dan keluarganya. Berdasarkan berbagai laporan media Italia pada Selasa pagi, kondisi itu membuat Di Gregorio memilih menonaktifkan kolom komentar di akun Instagram pribadinya demi keamanan.
Fenomena Pelecehan yang Kian Marak
Kasus yang dialami Di Gregorio bukan yang pertama. Bek Inter, Alessandro Bastoni, sebelumnya juga mengambil langkah serupa usai menjadi korban pelecehan daring setelah Derby d’Italia yang kontroversial awal bulan ini.
Fenomena serangan verbal hingga ancaman terhadap pemain sepak bola kembali menjadi sorotan. Tekanan performa di lapangan kini kerap berlanjut ke ranah personal, bahkan menyentuh keluarga para pemain.
Load more