Kepada Media Belanda, Pluim Bongkar Praktik 'Kotor' Naturalisasi Indonesia: Sempat Dipaksa sampai Ada Pemain Timnas Indonesia Punya Paspor Ganda
- Instagram - PSM Makassar
Jakarta, tvOnenews.com - Mantan pemain PSM Makassar, Wiljan Pluim bongkar praktik 'kotor' naturalisasi di Indonesia. Ia mengaku sempat dipaksa untuk dinaturalisasi hingga pemain Timnas Indonesia memiliki paspor ganda.
Wiljan Pluim mengaku persoalan seperti ini sebenarnya sudah ia lihat sejak lama. Eks pemain asal Belanda itu menyebut dirinya pernah berada dalam situasi serupa saat memperkuat PSM Makassar.
Menurut Pluim, selama membela klub Indonesia, ia sempat didorong untuk mengambil paspor Indonesia. Langkah itu dinilai bisa memberi keuntungan besar bagi klub maupun pemain.
“Jika Anda bermain untuk klub yang sama di sana selama lima tahun, Anda otomatis memenuhi syarat untuk mendapatkan paspor,” kata Pluim, yang bermain untuk Makassar dari tahun 2016 hingga 2023 dikutip dari ESPN NL, Kamis (9/4/2026).
- ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE
“Saya ditekan oleh federasi dan klub untuk mendapatkan paspor tersebut. Kemudian Anda juga menjadi 'pemain lokal,' dan itu menguntungkan karena klub hanya diperbolehkan memiliki sejumlah pemain asing tertentu," lanjutnya.
Meski mendapat dorongan, Pluim memilih tidak mengambil risiko tersebut. Ia mengaku sejak awal sudah mempertanyakan dampaknya terhadap status kewarganegaraan Belandanya.
“Tapi saya sudah mendengarnya dari orang lain dan langsung bertanya-tanya: bagaimana dengan paspor Belanda saya?” lanjut mantan pemain PEC Zwolle dan Vitesse itu.
“Begini, di Indonesia Anda hanya diperbolehkan memiliki satu paspor. Saya ingin kembali ke Belanda setelah karier saya berakhir, jadi saat itulah saya memutuskan untuk tidak melakukannya," katanya.
Pluim menilai situasi yang kini meledak di Belanda bukan hal yang mengejutkan. Menurutnya, sejak dulu sudah ada celah dan toleransi yang membuat masalah ini seperti dibiarkan.
- Instagram - PSM Makassar
“Saat itu, saya benar-benar tidak bisa mendapatkan kejelasan tentang situasi tersebut di mana pun. Ada sejumlah pemain yang sudah memiliki paspor ganda. Mereka selalu mengatakan: 'Secara teknis tidak diperbolehkan, tetapi selama Anda menyimpan kartu identitas Belanda Anda, Anda dapat memasuki negara ini tanpa visa.' Segala macam hal seperti itu. Itu terasa tidak benar bagi saya. Mendapatkan paspor Indonesia juga tidak banyak gunanya bagi saya," katanya.
Ia memahami alasan banyak pemain akhirnya memilih jalur tersebut. Pasalnya, status sebagai pemain lokal di Indonesia bisa langsung meningkatkan nilai jual mereka di bursa transfer.
“Di Indonesia, nilai Anda tiba-tiba jauh lebih tinggi dengan paspor. Tapi itu bukan faktor bagi saya. Saya sudah bermain di sana selama beberapa tahun, tidak perlu membuktikan banyak hal lagi, dan karena itu saya tidak akan mengambil risiko itu," ucap Pluim.
Pluim juga mengaku pernah mencoba mengingatkan pemain lain soal potensi masalah di masa depan. Namun, menurut dia, peringatan itu tak banyak digubris karena sistem yang ada terlanjur dianggap aman.
“Saya sudah menunjukkannya sebelumnya… Pada akhirnya, itu tidak diperbolehkan. Saya pikir pada akhirnya, itu hanyalah kebijakan toleransi dari federasi Indonesia. Saya pikir semuanya terjadi di bawah janji palsu. Seperti: ‘jika Anda tidak membicarakannya, itu tidak akan diperhatikan, tidak ada yang akan membicarakannya lagi, dan Anda bisa melakukan apa pun yang Anda inginkan.’ Sampai NAC Breda membuat Anda kesal…”
Di sisi lain, Pluim menilai pemain tidak sepenuhnya layak disalahkan dalam kasus ini. Menurutnya, banyak pemain muda tergiur peluang tampil di level internasional dan meraih popularitas lebih besar.
“Mereka masih muda, mereka bisa bermain di pertandingan internasional, mendapatkan perhatian, dan tiba-tiba menjadi bintang dunia di belahan dunia lain. Itu juga berpengaruh; mungkin itu yang membuat mereka menginginkannya," pungkasnya. (fan)
Load more