Dibikin Merinding, Red String Theory Timnas Indonesia di Piala Dunia
- Kita Garuda
Tak hanya soal pemain kelahiran Indonesia yang membela Timnas Belanda, bahkan muncul sosok penting, Carel Arthur Schnitzler yang menjadi Gubernur Jawa Barat sekaligus pencetus pengembangan sepak bola di Tanah Pasundan.
Yang lebih membuat merinding, di era kepemimpinan Carel Arthur Schnitzler pada 1931-1935, Persib Bandung lahir pada 13 Maret 1933 dan menjadi klub tersukses di era Liga Indonesia modern dengan lima gelar juara di mana ada kontribusi para pemain naturalisasi di dalamnya.
Sudah cukup dengan kebetulan di masa lalu, Red String Theory ternyata berlaku di Piala Dunia 2026 ini dengan segala hal yang berhubungan dengan Timnas Indonesia.
Sebut saja Curacao, tim yang pernah dikalahkan Timnas Indonesia di laga uji coba 2022 lalu justru tembus ke Piala Dunia walau akhirnya jadi bulan-bulanan Jerman.
Dari negara saudara lainnya, Belanda dan Tanjung Verde juga mengalami hasil imbang di laga perdana Piala Dunia. Bahkan ada Tijjani Reijnders, pemain keturunan Indonesia yang merasakan debut di Piala Dunia 2026 walau sang adik, Eliano Reijnder gagal merumput di Piala Dunia bersama Timnas Indonesia.
- Reuters-Stefan Koops/EYE4IMAGES/NurPhoto
Masih lekat di ingatan suporter Garuda, Timnas Indonesia gagal ke Piala Dunia setelah keputusan aneh AFC di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 baik soal pemilihan tuan rumah, pemilihan lawan dan jadwal pertandingan.
Namun kerugian tersebut terbayarkan dengan hasil minor dari Arab Saudi dan Irak yang menyingkirkan langkah Timnas Indonesia dalam perburuan slot Asia Piala Dunia.
Sebut saja Arab Saudi yang ditahan imbang oleh Uruguay hingga Irak yang jadi bulan-bulanan Norwegia.
Dengan banyaknya kebetulan tersebut, tentu Red String Theory antara Timnas Indonesia dan Piala Dunia menjadi manifest bahwa Skuad Garuda akan benar-benar tampil di ajang paling bergengsi di dunia ini di masa yang akan datang.
Load more