Tak Sempat Bela Timnas Indonesia, Eks Gelandang Grade A Eropa Ini Blak-blakan ke Media Belgia soal Alasan Pilih Perkuat Negara Lain
- instagram.com/ksclokerentemse_official/
Jakarta, tvOnenews.com - Radja Nainggolan mengungkap alasan dirinya tidak memilih Timnas Indonesia pada awal karier internasionalnya. Mantan gelandang AS Roma itu mengaku belum mengenal negara asal sang ayah ketika mendapat kesempatan membela Belgia.
Pemain yang kini berusia 38 tahun tersebut mengatakan Indonesia bukan pilihan yang sempat dipertimbangkannya. Saat itu, ia mengaku tidak memahami budaya maupun kehidupan di Tanah Air.
Dalam wawancara dengan media Belgia, Nieuwsblad, Nainggolan menjelaskan bahwa latar belakang keluarganya turut memengaruhi pandangan tersebut. Sang ayah meninggalkan keluarga ketika ia masih berusia sekitar lima tahun.
Kondisi itu membuat Nainggolan tumbuh tanpa kedekatan yang kuat dengan Indonesia. Karena itu, ketika kesempatan memperkuat tim nasional datang, ia tidak merasa bimbang untuk memilih Belgia.
"Saya tidak bisa bimbang soal tim nasional karena saya tidak mengenal negara itu (Indonesia). Budaya Indonesia tidak saya ketahui," ujar Nainggolan, seperti dikutip dari Nieuwsblad.
Nainggolan kemudian menjalani debut bersama tim nasional Belgia pada 2009. Ia menghabiskan sebagian perjalanan karier internasionalnya dengan mengenakan seragam De Rode Duivels.
Bersama Belgia, Nainggolan tercatat mengoleksi 30 penampilan di level internasional. Meski demikian, perjalanan tersebut kini membuatnya memikirkan kembali pilihan yang diambil pada masa lalu.
Hubungannya dengan Indonesia mulai berubah ketika ia mendapat undangan berkunjung pada 2013. Dalam perjalanan selama dua pekan itu, Nainggolan berkesempatan mengenal sejumlah wilayah dan kehidupan masyarakat setempat.
Selama berada di Indonesia, ia mengunjungi beberapa pulau kecil dan memberikan pelatihan sepak bola kepada anak-anak. Ia juga menjalani sejumlah wawancara yang membuat pengalamannya semakin berkesan.
"Hingga tahun 2013, ketika saya diundang ke sana untuk tur selama dua minggu dengan bayaran yang lumayan. Saya mengunjungi beberapa pulau kecil, memberikan pelatihan kepada anak-anak, serta melakukan wawancara di sana-sini," kata Nainggolan.
"Itu menyenangkan, sehingga gaya hidup seperti itu mulai saya sukai," lanjutnya.
Pengalaman tersebut membuat pandangan Nainggolan terhadap Indonesia berubah. Ia mulai melihat potensi sepak bola nasional sekaligus antusiasme masyarakat yang begitu besar terhadap tim kesayangan mereka.
Nainggolan juga menyoroti dukungan suporter yang memenuhi stadion ketika Timnas Indonesia bertanding. Ia mengagumi atmosfer pertandingan yang mampu menghadirkan puluhan ribu penonton untuk mendukung skuad Garuda.
Menurutnya, popularitas sepak bola di Indonesia tidak hanya terlihat dari dukungan di stadion. Perhatian publik dan hubungan pemain dengan berbagai merek juga menjadi bagian dari potensi ekonomi yang menarik.
Nainggolan menilai popularitas tersebut dapat memberikan keuntungan bagi pemain, termasuk ketika mereka tidak lagi aktif sebagai pesepak bola profesional. Nama besar seorang pemain bisa tetap bernilai setelah kariernya berakhir.
Nainggolan sendiri pernah merasakan sepak bola Indonesia ketika memperkuat Bhayangkara FC pada 2023. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk melihat langsung atmosfer kompetisi dan besarnya perhatian masyarakat terhadap olahraga ini.
(sub)
Load more