Nasib Pembangunan RSUD Waropen Terancam Batal, Warga Harus Tempuh 7 Jam untuk Berobat
- Ist
Jakarta, tvOnenews.com – Harapan masyarakat Kabupaten Waropen, Papua, untuk memiliki rumah sakit sendiri kini berada di ujung ketidakpastian.
Proyek pembangunan RSUD Rumah Rodo Fabo yang masuk dalam program Public Health Transformation Center (PHTC) atau Quick Win Presiden RI, Prabowo Subianto terancam batal.
Tanda-tanda itu mulai terlihat dari mandeknya proses administrasi. Lebih dari 60 hari sejak pemenang tender diumumkan, kontrak proyek bernilai lebih dari Rp200 miliar tersebut tak kunjung diteken. Situasi ini memicu dugaan adanya rencana pembatalan oleh Kementerian Kesehatan.
Di Waropen, kabar ini langsung menyulut kegamangan warga. Bagi mereka, rumah sakit bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan kebutuhan mendesak yang selama ini belum terpenuhi.
Tokoh masyarakat Waropen, Johannis Suweni, menggambarkan beratnya kondisi yang dihadapi warga setiap kali membutuhkan layanan medis.
"Hingga saat ini, masyarakat Waropen masih menghadapi keterbatasan ekstrem dalam mengakses layanan kesehatan. Untuk mendapatkan penanganan medis yang layak, warga terpaksa menempuh perjalanan panjang menuju kabupaten lain terdekat dengan waktu tempuh mencapai 6 hingga 7 jam, di tengah keterbatasan sarana transportasi yang tidak selalu tersedia," tutur Johannis, Minggu (26/4).
Perjalanan panjang itu, kata Johannis, bukan sekadar melelahkan, tetapi juga berisiko. Dalam situasi darurat, keterlambatan sering kali tak terhindarkan.
"Tidak sedikit kasus yang membutuhkan penanganan segera justru berujung pada keterlambatan medis, beberapa warga Waropen yang membutuhkan penanganan kesehatan, meninggal dalam perjalanan, akibat sulitnya akses dan lambannya penanganan," ungkapnya.
Kondisi inilah yang membuat rencana pembangunan RSUD begitu dinanti. Namun ketika proyek tersebut justru terancam batal, kekecewaan warga pun memuncak.
Bupati Waropen, Fransiscus Xaverius Mote, mengaku telah menerima langsung aspirasi dari para kepala suku yang meminta pemerintah pusat segera bertindak.
“Iya benar, para kepala suku di Waropen menyampaikan kepada saya terkait dugaan pembatalan pembangunan RSUD Rumah Rodo Fabo. Mereka meminta saya untuk mendesak pemerintah pusat agar segera merealisasikan pembangunan rumah sakit di Waropen pada tahun 2026,” kaya Mote.
Desakan juga datang dari Ketua DPR Provinsi Papua, Denny Henrry Bonai. Ia menilai kebutuhan rumah sakit di Waropen sudah tidak bisa ditunda lagi, mengingat selama sekitar lima tahun terakhir masyarakat belum memiliki akses layanan kesehatan yang layak.
Ia pun mempertanyakan keseriusan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kesehatan, dalam memenuhi kebutuhan dasar warga di wilayah tersebut.
Di tengah polemik ini, muncul pula dugaan adanya keterlibatan oknum di lingkungan Kementerian Kesehatan dalam proses tender PHTC batch 3, termasuk proyek RSUD Rumah Rodo Fabo. (rpi)
Load more