Alasan Mengapa Keluarga Jadi Benteng Utama Kesehatan Mental Anak, Ini Langkah yang Bisa Dimulai dari Rumah
- Ilustrasi
tvOnenews.com - Kesehatan mental anak kini menjadi isu yang mendapat perhatian serius di berbagai negara, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh remaja berusia 10 hingga 19 tahun di dunia mengalami gangguan kesehatan mental.
Namun, banyak kasus yang tidak terdeteksi atau terlambat mendapatkan penanganan karena minimnya kesadaran lingkungan sekitar, terutama keluarga.
Berbagai negara maju telah menempatkan kesehatan mental anak sebagai bagian penting dari kebijakan publik. Di Finlandia, misalnya, sekolah dan keluarga bekerja sama melalui program pendampingan psikologis sejak usia dini.
Sementara di Australia, pemerintah secara rutin mengembangkan layanan konseling keluarga dan pendidikan pengasuhan untuk membantu orang tua memahami kebutuhan emosional anak.
Pendekatan tersebut didasarkan pada berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa hubungan yang hangat antara orang tua dan anak berpengaruh besar terhadap kesehatan psikologis mereka.
Indonesia menghadapi tantangan yang tidak kalah besar. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa sepanjang 2023 hingga 2025 terdapat 116 kasus pengakhiran hidup pada anak usia 10 hingga 18 tahun.
Kasus terbanyak terjadi pada kelompok usia 13 hingga 17 tahun. Angka tersebut menjadi peringatan bahwa anak dan remaja membutuhkan dukungan yang lebih kuat dari lingkungan terdekat mereka, terutama keluarga, untuk menghadapi tekanan sosial, perubahan emosional, maupun berbagai tantangan di masa pertumbuhan.
Keluarga Menjadi Benteng Pertama Kesehatan Mental Anak
Melansir dari berbagai sumber, para ahli perkembangan anak menilai keluarga merupakan ruang pertama tempat anak belajar mengenali emosi, membangun rasa aman, serta mengembangkan kepercayaan diri. Karena itu, kualitas hubungan antara orang tua dan anak memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental mereka.
Masa transisi pendidikan, seperti perpindahan dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama atau dari SMP ke SMA, sering menjadi periode yang menantang. Pada fase ini anak menghadapi lingkungan baru, tuntutan akademik yang meningkat, serta perubahan sosial yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Di tengah situasi tersebut, kehadiran orang tua yang mampu mendengarkan, memahami, dan memberikan dukungan emosional menjadi sangat penting. Lingkungan keluarga yang hangat juga dapat membantu anak menghadapi risiko perundungan, tekanan pergaulan, maupun berbagai persoalan yang muncul selama masa remaja.
Melihat pentingnya peran keluarga tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menggelar kegiatan pemberdayaan masyarakat di Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Program ini menjadi wadah bagi keluarga, khususnya para ibu, untuk memperoleh pemahaman mengenai pentingnya kesehatan mental anak sekaligus memperkuat peran orang tua dalam proses pengasuhan.
Perempuan Berdaya, Anak Lebih Terlindungi
Selain menghadirkan edukasi tentang pengasuhan, kegiatan tersebut juga disertai layanan pemeriksaan kesehatan gratis serta berbagai aktivitas belajar informal bagi anak-anak. Pendekatan ini dilakukan agar manfaat program dapat dirasakan secara langsung oleh keluarga dan masyarakat setempat.
Tak hanya menyasar aspek sosial, program tersebut juga mendorong penguatan ekonomi keluarga melalui pemberdayaan perempuan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pengembangan klaster usaha buah pala yang memiliki potensi ekonomi di wilayah Bajawa.
Melalui pendampingan usaha, pelatihan keterampilan, dan akses pembiayaan, perempuan prasejahtera diberikan kesempatan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi mereka.
Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan perempuan sering kali berdampak langsung terhadap kualitas hidup keluarga, termasuk kesehatan, pendidikan, dan pengasuhan anak. Direktur Utama PNM, Kindaris, menilai bahwa pemberdayaan perempuan memiliki efek yang lebih luas dibanding sekadar peningkatan pendapatan rumah tangga.
Ketika seorang ibu memperoleh akses terhadap pengetahuan, dukungan sosial, dan kesempatan ekonomi yang lebih baik, maka ia juga memiliki kapasitas lebih besar dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Ketahanan Keluarga dan Masa Depan Generasi Muda
Hubungan antara kondisi ekonomi keluarga dan kesehatan mental anak semakin banyak dibahas dalam berbagai penelitian global. Ketidakstabilan ekonomi dapat meningkatkan tingkat stres dalam rumah tangga yang pada akhirnya memengaruhi kualitas pengasuhan dan kondisi psikologis anak.
Karena itu, upaya memperkuat ketahanan keluarga tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pendapatan, tetapi juga mencakup peningkatan kapasitas orang tua dalam memahami kebutuhan emosional anak.
Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun lingkungan keluarga yang sehat dan suportif.
"Kami percaya, perempuan yang berdaya dapat membawa perubahan baik di rumah maupun lingkungan sekitarnya. Melalui kolaborasi ini, kami ingin mendukung para ibu agar semakin mandiri, sekaligus lebih memahami pentingnya pola asuh yang penuh perhatian. Kesehatan mental anak adalah tanggung jawab bersama, dan setiap anak berhak tumbuh dalam ruang yang aman, sehat, dan penuh empati," ujar Kindaris.
Pesan tersebut sejalan dengan berbagai temuan internasional yang menunjukkan bahwa kesehatan mental anak tidak dapat dipisahkan dari kondisi keluarga tempat mereka tumbuh.
Ketika orang tua memiliki pengetahuan yang cukup, dukungan sosial yang kuat, dan kondisi ekonomi yang lebih stabil, peluang anak untuk berkembang secara sehat, baik secara fisik maupun mental, menjadi lebih besar.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda, penguatan ketahanan keluarga dan pemberdayaan perempuan menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, suportif, dan penuh kepedulian. (udn)
Load more