Lestarikan Tradisi, Penggiat Budaya di Pati Gelar Jamasan Agung Puluhan Benda Pusaka
- Tim tvOne - Wahyu Kurniawan
Pati, tvOnenews.com - Komunitas penggiat budaya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Kerispati, menggelar acara Jamasan Agung di Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil.
Kegiatan jamasan atau pencucian benda pusaka keris ataupun benda pusaka lain biasa dilakukan pada Bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Sehingga pada acara Jamasan Agung yang dibuka untuk umum ini, diharapkan akan bisa memberikan edukasi tentang budaya seperti filosofi keris.
"Acara ini bentuk keptihatihan kita terhadap lunturnya kultur masyarakat kita. Yang mestinya tradisi ini menjadi akar dari jatidiri bangsa. Makanya kita terpanggil untuk menggaungkan tradisi dan adat istiadat asli bangsa kita," tutur Gus Mahfud, Ketua Kerispati.
Dikatakan, yang terpenting dari acara tersebut adalah edukasi kepada generasi bangsa. Karena selama ini adat dan budaya keris lebih dipahami secara negatif.
"Lebih ke edukasi bagaimana menempatkan keris pada mestinya. Mengembalikan paradigma yang selama ini keris dipahami masyarakat awam lebih ke sisi mistis. Dan tugas kita adalah meluruskan pemaknaan-pemaknaan itu," ujarnya.
Diakui, bahwa para leluhur kita lemah dalam budaya menulis. Tetapi ajaran adiluhung itu langsung diaplikasikan dalam perilaku. Sehingga ajaran tersebut menjadi adat dan budaya.
Selanjutnya, Komunitas Kerispati berharap pemerintah lebih peduli dan memperhatikan para penggiat budaya. Agar budaya asli seperti keris kembali membumi di bumi Nusantara.
"Minimal diberi ruang lah bagi para penggiat budaya ini," imbuhnya.
Dalam jamasan keris yang mengambil tema "Nguri-nguri Tradisi Ngukuhi Jatidiri" ini sudah mendapatkan kekancingan dari Keraton Solo, yakni Raden Tumenggung Pujo Winoto.
Sebanyak 97 benda pusaka milik warga Pati turut ambil bagian dalam acara jamasan yang mengambil air dari sendang Keraton Pengging Boyolali ini. Selain didominasi keris, ada juga patrem atau ketis kecil, jimatan hingga tombak.
"Tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tapi bagaimana kegiatan seperti ini bisa meluas di setiap daerah. Dengan nguri-nguri budaya sendiri sebagai bentuk pengukuhan jatidiri," pungkasnya. (arm/buz)
Load more