Sri Sultan Hamengku Buwono X Napak Tilas Pangeran Mangkubumi di Sragen, Kunjungi Empat Petilasan
- Tim tvOne - Mahfira Putri
Sragen, tvOnenews.com ā Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang juga Raja Kasultanan Yogyakarta melakukan napak tilas di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Kamis 9 Juli 2026.
Orang nomor satu di Yogyakarta itu melakukan kunjungan sejarah, sejumlah petilasan Kanjeng Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I) di Kabupaten Sragen.
Sri Sultan didampingi Sekertaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti. Kedatangan Sri Sultan Hamengku Buwono X disambut sangat khidmat.
Warga masyarakat pun turut menyambut, bahkan mereka berebut berjabat tangan dan mencium tangan Ngarso Dalem. Dalam kunjungan sejarah itu, Sri Sultan mengunjungi empat petilasan.
Petilasan pertama Sri Sultan menuju Pandak, Krikilan, Masaran. Tempat ini merupakan pos pertama persinggahan Pangeran Mangkubumi setelah memutuskan pergi meninggalkan Keraton Surakarta karena perselisihan mendalam dengan pihak Belanda.Ā
Pangeran Mangkubumi lantas mendirikan markas pertahanan awal di wilayah ini. Petilasan kedua, Goa Mangkubumen di Gebang, Masaran.Ā
Ketika keberadaan pertahanan di Pandak mulai tercium oleh Belanda, Mangkubumi mengalihkan pasukannya ke wilayah Gebang. Di sana terdapat goa tersembunyi yang digunakan untuk mengatur strategi perlawanan.
Ketiga yakni Pesanggrahan Ponopatan di Katelan, Tangen. Situs strategis ini berada di dekat aliran sungai besar, berfungsi khusus sebagai pos pengintaian pergerakan logistik dan armada militer kolonial.
Terakhir di Sumberan Japoh, Jenar. Lokasi ini menjadi lokasi perundingan-perundingan penting para petinggi pengikut Mangkubumi sebelum mengerucut pada kesepakatan historis, Perjanjian Giyanti pada 1755.
Sekda Kabupaten Sragen, Hariyanto mengatakan empat lokasi ini memiliki nilai historis sangat tinggi bagi berdirinya Kasultanan Yogyakarta.
Hargiyanto mengatakan Sri Sultan sangat menikmati napak dan tidak terburu-buru napak tilas tersebut. Bahkan Sri Sultan sempat membasuh tangannya di mata air Sumberan, Japoh, Masaran.
"Sri Sultan sempat membasuh tangan di mata air Sumberan, saya melihat ini potensial viral. Kanjeng Sultan cuci muka atau cuci tangan di situ saja, pasti besok pagi akan banyak masyarakat yang penasaran dan datang ke situ," ujar Hargiyanto.
Hargi mengatakan air Sumberan itu terdapat tujuh sumber mata air. Pemkab Sragen akan melakukan langkah strategis merehabilitasi kawasan Situs Sumberan di Japoh pada tahun anggaran 2027 mendatang.
Langkah renovasi tersebut dipastikan tetap akan menjaga keaslian bentuk dan kelestarian alam sekitar. Disana, terdapat pohon besar yang berfungsi menjaga ekosistem penampung air di lokasi.
Hargiyanto menilai momentum Muhibah Budaya ini menjadi jembatan penting untuk menyambung kembali tali persaudaraan (seduluran) batin Mataraman antara Yogyakarta dengan Sragen.Ā
Menurutnya, sejarah mencatat bahwa cikal bakal berdirinya Keraton Yogyakarta sejatinya berakar kuat di Bumi Sukowati melalui pergerakan Pangeran Mangkubumi.
Selain napak tilas situs sejarah, kegiatan juga diisi dengan pameran hasil workshop seni macapat dan tarian tradisional yang dilatih langsung oleh tim kebudayaan DIY, pertunjukan panggung budaya rakyat, deklarasi Bergodo Mangkubumi. (uti/buz)
Load more