Di Balik Gelombang Berobat ke Negeri Tetangga
- Antara
tvOnenews.com - Pilihan berobat ke luar negeri kini bukan lagi monopoli kota-kota besar. Dari ruang tunggu rumah sakit hingga pameran kesehatan di pusat perbelanjaan, tren warga Indonesia—termasuk dari Yogyakarta—memilih layanan medis seberang selat terus bergulir.
Ada yang berbeda di sudut keramaian salah satu mall di Yogyakarta, akhir pekan ini. Di antara deretan stan pameran, alih-alih produk fesyen atau otomotif, pengunjung justru disuguhi stan-stan konsultasi kesehatan dari belasan rumah sakit asal Malaysia. Suasana ini menjadi cerminan nyata dari sebuah fenomena yang kian lumrah: semakin banyak warga Indonesia yang menjadikan negeri jiran sebagai salah satu opsi utama untuk urusan berobat.
Angkanya pun tidak main-main. Sepanjang tahun 2025 lalu, kontribusi pasien asal Indonesia tercatat menembus angka fantastis, yakni RM2,2 miliar (sekitar Rp7,5 triliun lebih) dengan jumlah pelancong medis mencapai hampir satu juta orang atau naik sekitar 16 persen dari tahun sebelumnya.
Bagi Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC), Yogyakarta dipandang sebagai titik simpul yang sangat strategis. Karakter masyarakatnya yang lekat dengan kepedulian sosial dan kesehatan, tingginya kebutuhan akan layanan spesialis tingkat lanjut, ditambah jalur penerbangan langsung dari dan ke Kuala Lumpur, membuat arus informasi medis ini bergerak semakin cair.
Rahmatullah Baragau, Head of Indonesia Market MHTC, menangkap dinamika ini secara dekat. Menurutnya, pilihan warga Indonesia untuk menyeberang tidak sekadar soal fasilitas medis yang canggih, melainkan tentang bagaimana sebuah layanan kesehatan dikemas secara utuh.
“Indonesia selalu menjadi rumah terdekat bagi kami. Masyarakat Jogja dan sekitarnya memiliki kesadaran kesehatan yang kian matang, serta mencari alternatif penanganan spesialis yang bisa diandalkan,” ujar Rahmatullah di sela-sela perhelatan Malaysia Healthcare Expo (MHX) Yogyakarta 2026.
Ia menambahkan, pendekatan yang diusung bukan sekadar klinik steril penuh obat, melainkan perpaduan antara standar klinis internasional dan kenyamanan kultural. “Pasien mencari ketenangan. Mulai dari dokter spesialis berpengalaman, transparansi penanganan, hingga keramahan yang membuat mereka merasa tidak sedang berada di rumah sakit yang asing,” imbuhnya.
Di lantai pameran, antusiasme warga terlihat jelas. Sejumlah pengunjung tampak memadati meja konsultasi untuk sekadar menanyakan opsi penanganan penyakit berat—mulai dari kardiologi, onkologi, ortopedi, hingga program fertilitas.
Lebih dari 15 jejaring rumah sakit terkemuka turut ambil bagian, mulai dari nama-nama besar seperti Island Hospital Penang, Institut Jantung Negara (IJN), hingga jaringan rumah sakit modern seperti Sunway Medical Centre dan Mahkota Medical Centre. Kehadiran mereka di Jogja memberikan ruang bagi pasien untuk membandingkan opsi, mencari second opinion, atau merencanakan tindakan medis tanpa harus langsung terbang jauh tanpa persiapan.
Bagi sebagian keluarga di Yogyakarta, berobat ke luar negeri kini dilihat sebagai keputusan logis di tengah kebutuhan akan kecepatan diagnosis dan kepastian teknologi medis. Di sisi lain, tren ini juga menjadi cerminan bahwa standar pelayanan kesehatan global kini makin mendekat ke tingkat lokal, di mana jarak geografis bukan lagi penghalang utama bagi seseorang untuk mendapatkan ikhtiar kesembuhan terbaik bagi orang tercinta.(chm)
Load more