Tangani Sampah, TPA Supit Urang Kota Malang Gunakan Sistem Sanitary Landfiil, Tinggalkan Sistem Open Dumping
- tim tvone - edy cahyono
Ditambahkan Zainuri, produksi sampah di dua kecamatan itu banyak karena banyak rumah makan, mall hingga kampus.
“Warung-warung kan banyak itu penyumbang terbanyak di sana. Belum mall dan juga kampus. Jadi ya di sekitaran Lowokwaru dan Klojen itu yang banyak,” tuturnya.
Sementara itu, untuk menanggulangi timbulan sampah menuju ke TPA Supit Urang, Zaenuri menjelaskan, Pemkot Malang sudah melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi dan mengurai sampah.
Contohnya adalah mengaktifkan TPS 3R dan juga PKD serta memfasilitasi pemulung di setiap TPS. Alhasil sampah yang seharusnya 880 ton itu berkurang menjadi 560 ton saat ke TPA Supit Urang,
“Di TPA Supit Urang sendiri kami juga lakukan sorting sebelum dibuang TPA Supit Urang,” imbuhnya.
Sebelum mengakhiri uraiannya, Zaenuri menambahkan untuk produksi sampah per orang di Kota Malang ini meningkat dibanding pada tahun 2018 lalu. Berdasarkan hasil kajian pada tahun 2018, satu orang di Kota Malang produksi sampah 0,6 kilogram.
Namun di tahun 2023 ini, setiap satu orang di Kota Malang selalu produksi atau menghasilkan sampah kurang lebih 0,8 kilogram per hari.
"Ini berdasarkan hasil kajian internal Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang pada tahun 2023, sekarang sudah menembus 0,8 kilogram,” pungkas Koordinator Umum TPA Supit Urang, Much Zaenuri. (eco/hen)
Load more