20 Tahun Dipasung, Seorang Kakek Akhirnya Dibebaskan Ipda Purnomo
- tvOne - Aris Batara
Ponorogo, tvOnenews.com — Seperti inilah kehidupan Mbah Kirno (60) warga Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang sehari-harinya di balik kandang besi terkunci rapat selama hampir dua dekade. Kehidupanya terputus dari dunia luar.
Menurut warga setempat, sebelum mengalami gangguan jiwa Mbah Kirno menjalani hidup normal dilingkungannya. Perubahan perilaku terjadi setelah Mbah Kirno mendalami ilmu kanuragan atau ilmu Jawa yang diduga melebihi kesiapan mental dan batinnya.
Mbah Kirno kerap mengamuk, bahkan nyaris mengancam keselamatan warga dan keluarganya. Hingga pada akhirnya keluarga terpaksa mengurung Mbah Kirno dengan kandang besi ukuran kecil. Langkah tersebut diambil pihak keluarga karena alasan keselamatan.
Sementara itu proses evakuasi tidak berlangsung mulus. Pihak keluarga sempat menolak, khawatir Mbah Kirno akan mengamuk jika dilepas. Pihak keluarga akhirnya luluh setelah melakukan pendekatan persuasif yang dipimpin langsung Ipda Purnomo bersama lintas instansi seperti Dinas Kesehatan, Pemerintah Desa, dan TNI.
Karena kunci gembok kandang telah hilang, petugas terpaksa membuka kurungan menggunakan gerinda dan linggis. Momen itu menjadi titik balik bagi seorang lelaki yang selama bertahun-tahun hidup dalam keterasingan. Berada di dalam jeruji besi berukuran lebar 0,5 meter, tinggi 1 meter dan panjang 2 meter.
Ipda Purnomo, perwira polisi sekaligus penggiat sosial dari Polres Lamongan datang bukan sekadar menjalankan tugas. Dia datang dengan misi kemanusiaan, yakni menjemput, membebaskan, dan merawat seorang lelaki yang selama bertahun-tahun dipasung keluarganya karena gangguan kejiwaan.
"Jadi kami menjemput salah satu warga Ponorogo atas nama Pak Sukirno. Kalau berbicara secara medis, Pak Kirno mengalami gangguan kejiwaan," kata Ipda Purnomo.
Pak Purnomo sapaan akrabnya, menyebut bahwa selama hampir 20 tahun Mbah Kirno ditempatkan dalam kandang besi oleh keluarganya. Alasannya, korban kerap dianggap membahayakan anggota keluarga lain saat kambuh. Kondisi itu membuat kehidupannya berlangsung dalam keterbatasan, tanpa kebebasan, tanpa sentuhan tanah, dan tanpa perawatan medis yang layak.
Proses evakuasi Mbah Kirno juga turut disaksikan Kepala Dusun Temon Khadir Mudandi dan Sarti, adik kandung Mbah Kirno. Bahkan warga setempat serta sejumlah anggota TNI Polri juga ikut mendampingi.
Menurut Ipda Purnomo praktik pemasungan ini dipengaruhi oleh pemahaman keluarga yang meyakini korban memiliki ilmu kebal sehingga Dia tidak diperbolehkan menyentuh tanah selama dikurung. Menurut kepercayaan keluarga, jika menyentuh tanah, kekuatan supranaturalnya akan kembali dan bisa mengamuk.
"Jadi Pak Kirno ini sudah hampir 20 tahun dipasung. Mungkin karena pengetahuan keluarganya yang membuat Pak Kirno dianggap kebal tidak boleh menyentuh tanah. Sehingga dalam proses pemasungan, beliau tidak menginjak tanah," terangnya.
Langkah Purnomo tidak hanya memutus rantai pemasungan, tetapi juga membuka harapan baru bagi Mbah Kirno. Bahwa hidupnya tidak harus berakhir di balik jeruji besi.
Warga sekitar yang menyaksikan proses evakuasi Mbah Kirno mengaku kagum dengan langkah Ipda Purnomo karena biasanya Mbah Kirno kerap mengamuk. Namun saat dievakuasi Mbah Kirno menurut dan tidak menunjukan sikap agresif.
"Biasane ngamuk, Mas, kalau didekati orang apalagi orang yang gak dikenal Mbah Kirno," tutur Pujiono warga setempat. (asn/ias)
Load more