Diplomasi Maritim RI, Kadet 26 Negara Ikuti Pelayaran KRI Bima Suci
- tim tvOne
Surabaya, tvOnenews.com - Kadet dan perwira muda Angkatan Laut dari 26 negara berkumpul di Surabaya dalam kegiatan ASEAN Plus Cadet Sail (APCS) 2026, Rabu (25/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya diplomasi maritim Indonesia untuk memperkuat kerja sama internasional serta membangun perdamaian dunia sejak dini melalui hubungan antarangkatan laut.
Kegiatan multilateral tersebut dibuka di Surabaya dan menjadi bagian dari pelayaran muhibah menggunakan KRI Bima Suci. Selama 23 hari, para peserta akan berlayar dengan rute Surabaya, Jakarta, Belawan, hingga Kolombo, Sri Lanka.
Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal) Laksda TNI Yayan Sofiyan mengatakan kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam diplomasi Angkatan Laut Indonesia.
“Ini salah satu bentuk diplomasi yang dilaksanakan. Angkatan laut memiliki peran universal, military role, diplomatic role dan constabulary role,” kata Yayan.
ASEAN Plus Cadet Sail 2026 mengangkat tema Sailing Together for Navy Brotherhood dan berlangsung mulai 24 Maret hingga 16 April 2026. Peserta kegiatan terdiri dari Taruna Akademi Angkatan Laut Indonesia, kadet dari negara-negara sahabat, serta perwakilan pemuda dari beberapa provinsi di Indonesia.
Selama 23 hari, para peserta akan berlayar dengan rute Surabaya, Jakarta, Belawan, hingga Kolombo, Sri Lanka. Para kadet dari berbagai negara akan berlayar bersama, berinteraksi, mempelajari budaya, serta membangun jaringan persahabatan internasional. Jaringan tersebut diharapkan menjadi modal kerja sama di masa depan.
Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal) Laksda TNI Yayan Sofiyan mengatakan kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam diplomasi Angkatan Laut Indonesia.
Terutama dalam membangun hubungan internasional dan memperkuat posisi Indonesia di tingkat regional maupun global. Menurutnya, Angkatan Laut memiliki peran universal yang tidak hanya berkaitan dengan operasi militer, tetapi juga diplomasi dan penegakan hukum di laut.
“Ini salah satu bentuk diplomasi yang dilaksanakan. Angkatan laut itu memiliki peran universal, military role, diplomatic role dan constabulary role. Inilah langkah konkret diplomatic role kita,” kata Yayan di Surabaya, Selasa (24/3/2026).
ASEAN Plus Cadet Sail 2026 mengangkat tema Sailing Together for Navy Brotherhood dan berlangsung mulai 24 Maret hingga 16 April 2026. Peserta kegiatan terdiri dari Taruna Akademi Angkatan Laut Indonesia, kadet dari negara-negara sahabat, serta perwakilan pemuda dari beberapa provinsi di Indonesia.
Beberapa negara yang ikut serta di antaranya sejumlah negara ASEAN, kemudian Australia, China, Korea Selatan, Sri Lanka, Prancis, Belanda, hingga Kanada. Ada pula beberapa perwakilan dari Afrika hingga Asia lainnya.
Selama pelayaran, para peserta akan mengikuti berbagai kegiatan seperti pelatihan, diskusi kemaritiman, pertukaran budaya, serta kunjungan ke sejumlah daerah yang disinggahi kapal. Para kadet juga akan diperkenalkan dengan budaya, tradisi, serta kondisi geografis Indonesia yang memiliki jalur pelayaran strategis dunia seperti Selat Malaka.
Yayan menjelaskan, secara geografis Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia juga menjadi jalur pelayaran internasional yang sangat penting bagi perdagangan dan mobilitas dunia.
Kondisi tersebut menjadikan Indonesia memiliki peran penting dalam diplomasi maritim internasional. “Kalau kita lihat peta, negara kita menghubungkan antara Pasifik dan Hindia. Posisi geografis kita memperkuat posisi daya tawar Indonesia pada tatanan global maupun regional,” ujarnya.
Yayan menambahkan, TNI Angkatan Laut selama ini aktif dalam berbagai forum internasional seperti West Pacific Naval Symposium dan Indian Ocean Naval Symposium.
Selain itu, TNI AL juga terlibat dalam berbagai latihan multilateral bersama negara-negara besar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari diplomasi militer untuk mendukung politik luar negeri bebas aktif Indonesia serta memperkuat kepentingan nasional di tingkat internasional.
Karenanya, ia menilai kegiatan ASEAN Plus Cadet Sail sangat penting karena melibatkan kadet dan perwira muda yang di masa depan berpotensi menjadi pemimpin Angkatan Laut maupun pemimpin militer di negaranya masing-masing.
“Tidak menutup kemungkinan 20 atau 25 tahun lagi mereka akan menjadi naval leader, panglima angkatan bersenjata, atau pemimpin di negaranya masing-masing. Mereka sudah memiliki memori kebersamaan dalam pelayaran ini,” katanya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat solidaritas, rasa saling percaya, serta membentuk karakter kepemimpinan para kadet. Para peserta diharapkan kelak berperan dalam menjaga stabilitas keamanan maritim dunia dan memperkuat kerja sama internasional.
Melalui kegiatan ini, Indonesia menunjukkan peran aktif dalam diplomasi maritim dunia serta memperkuat kerja sama internasional di bidang kemaritiman.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk ikut menjaga stabilitas kawasan dan mendukung terciptanya perdamaian dunia melalui kerja sama dan persahabatan antarnegara sejak generasi muda militer. (gol)
Load more