BI Dorong Ponpes Annuqayah Sumenep Perkuat Ekonomi Pesantren Lewat Pertanian hingga Pengelolaan Sampah
- tim tvOne
Sumenep, tvOnenews.com - Pondok Pesantren Annuqayah di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mengembangkan kemandirian melalui unit usaha, jaringan alumni, pertanian, hingga pengelolaan lingkungan. Pengembangan tersebut turut diperkuat Bank Indonesia melalui pendampingan usaha, digitalisasi, dan pengembangan ekonomi hijau.
Berdiri sejak 1887, Annuqayah kini memiliki sekitar 8.000 santri yang tinggal di lingkungan pesantren. Jika ditambah santri pulang-pergi, guru, dosen, dan karyawan, aktivitas di kawasan pesantren mencapai sekitar 10.000 orang.
Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah, KH. Moh. Naqib Hasan, S.Sos., M.Pd.I., mengatakan kemandirian ekonomi diperlukan agar pesantren tidak hanya bergantung pada pemasukan dari santri dan wali santri.
“Karena memang kita tidak bisa mengandalkan dari pemasukan dari santri, dari wali santri, maka bagaimanapun kita harus beralih kepada kemandirian ekonomi,” ungkap KH. Moh. Naqib Hasan.
Dalam perkembangannya, Annuqayah membangun sejumlah unit usaha melalui yayasan dan koperasi. Usaha tersebut mencakup ritel, pertanian, perkebunan, tambak, air minum dalam kemasan, hingga kebutuhan pendidikan.
Jaringan alumni juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi pesantren. Salah satunya melalui Kanca Kona Retail, usaha yang dikembangkan alumni Annuqayah dan melayani kebutuhan masyarakat.
Penguatan ekonomi tersebut mendapat dukungan Bank Indonesia. Rifki Ismal, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, mengatakan Annuqayah memiliki potensi kemandirian yang dapat dikembangkan agar manfaatnya lebih luas.
“Dan juga kita lihat potensi kemandirian ini akan juga kita dorong supaya nanti bermanfaat tidak hanya bagi pesantren, tapi juga buat santrinya, buat alumninya, buat semua masyarakat,” kata Rifki Ismal.
Dukungan BI antara lain berupa sarana dan prasarana pertanian, pendampingan tenaga ahli, penguatan tata kelola, hingga digitalisasi. Salah satunya berupa harvester combine untuk meningkatkan efisiensi produksi pertanian.
BI juga mendorong penggunaan QRIS dan pemasaran produk melalui virtual market pesantren. Di Jawa Timur, BI menyebut telah membina 80 pondok pesantren dengan 112 unit usaha.
Selain ekonomi, aktivitas pesantren juga mencakup program lingkungan yang melibatkan santri. Di antaranya Wadah Makanan Anti Plastik (WAMAS) dan Pemulung Sampah Gaul (PSG).
Sampah yang dikumpulkan kemudian dikelola melalui UPT Jatian. Sebagian sampah plastik dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan paving block.
Bagi BI, pengembangan ekonomi pesantren juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan kewirausahaan santri.
“Kami berharap, setelah santri lulus dari pesantren ini tidak hanya menjadi ulama, tapi juga ulama yang juga pengusaha,” ungkap Rifki.
Pengembangan ekonomi Annuqayah kini mencakup unit usaha, jaringan alumni, pertanian, digitalisasi, dan pengelolaan sampah. Bank Indonesia mendorong penguatan ekosistem tersebut agar unit usaha pesantren semakin mandiri dan memiliki akses pasar yang lebih luas. (gol)
Load more