Muktamar ke-35, PBNU Dinilai Perlu Pemimpin yang Visioner
- Antara
Jombang, tvOnenews.com - Keberlangsungan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur pada 27-30 Agustus 2026 dinilai bukan sekedar forum untuk pemilihan kepengurusan baru PBNU.
Pernyataan ini menyeruak dari Pengasuh Pondok Pesantren Raudlotul Huffadz, Tabanan, Bali, Ainun Ni’am.
- Istimewa
Ia menyebut Muktamar semsetinya menjadi forum musyawarah tertinggi NU yang berisikan rumusan arah organisasi sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia yang semakin kompleks.
Menurutnya Ketua Umum PBNU yang terpilih seharusnya merupakan produk dari proses Muktamar, bukan menjadi tujuan utama forum tersebut.
“Maka pandangan Muktamar menjadi sempit jika dianggap sebagai sebuah seremonial pemilihan pengurusan baru, tapi harus lebih ditekankan kepada kebutuhan organisasi dan masyarakat Indonesia secara umum sehingga Ketua Umum terpilih adalah produk dan bukan tujuan dari Muktamar,” ujar Ainun, Sabtu (29/8/2026).
Ainun berpandangan dinamika perubahan dan kompleksitas persoalan masyarakat perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan figur yang akan memimpin NU ke depan.
Menurut Ainun NU sejak awal lahir dari kepedulian para ulama dalam mengelola ekosistem pesantren.
Dalam perkembangannya, NU juga dinilai telah memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara dalam berbagai bidang keilmuan maupun nilai kemanusiaan.
Ainun berharap kepemimpinan NU ke depan mampu memahami kebutuhan masyarakat secara lebih luas.
Ia juga menilai sejumlah nama yang muncul dalam dinamika Muktamar memiliki kapasitas untuk mengemban amanah di kepengurusan PBNU.
Salah satu nama yang disebut adalah Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin yang dinilainya memiliki latar belakang kemampuan mengkoordinasikan para kiai pesantren sehingga dinilai laik untuk menempati posisi Katib Aam PBNU.
Selain Gus Kikin, Ainun juga menyebut Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai salah satu figur yang dinilainya memiliki visi untuk menghadapi tantangan NU di masa mendatang.
Gus Rozin disebut aktif dalam berbagai kegiatan dakwah dan organisasi serta menjadi salah satu inisiator dan penggerak lahirnya Hari Santri Nasional yang kemudian ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Sementara untuk posisi Rais Aam PBNU, Ainun menyerahkan keputusan kepada sembilan ulama sepuh yang tergabung dalam AHWA.
Menurutnya mekanisme kesepakatan dan mufakat para ulama sepuh menjadi bagian penting dalam menentukan Rais Aam.
Namun secara pribadi, Ainun menyebut nama Said Aqil Sirodj sebagai figur yang dinilainya dapat menjadi sosok 'Bapak' bagi organisasi NU.
“Banyak penilaian dan pertimbangan yang menjadi dasar kebutuhan jamiyah,” kata Ainun.(raa)
Load more