Heboh, Benarkah Ada Link Telegram Foto dan Video Seksual Mahasiswa UB? Ini Fakta Kasus yang Viral
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
"Saya menindaklajuti dengan mengajukan CCTV kepada pihak kampus untuk melihat siapa yg berjalan di belakang saya pada saat itu. Setelah proses pengajuan dan investigasi bersama pihak kampus, diketahui bahwa orang yg memfoto saya pada saat itu adalah RAS," katanya.
Meski demikian, kasus tersebut perlu dipisahkan dari dugaan kasus mahasiswa FBiPK UB yang sedang ditangani. Keduanya sama-sama berkaitan dengan isu privasi dan konten seksual di lingkungan UB, tetapi informasi yang tersedia tidak otomatis membuktikan bahwa semua materi berasal dari sumber atau tautan yang sama.
Karena itu, klaim di media sosial mengenai “link Telegram asli”, “folder lengkap”, atau “video full” perlu diperlakukan sebagai informasi yang belum terverifikasi.
Waspada Link Palsu yang Memanfaatkan Kasus Viral
Fenomena seperti ini juga membawa risiko baru. Ketika sebuah kasus sedang viral, rasa penasaran publik dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan tautan palsu.
Modusnya bisa berupa unggahan yang menjanjikan akses ke “video lengkap” atau “foto korban”, kemudian mengarahkan pengguna ke situs tertentu. Pengguna dapat diminta memasukkan nomor telepon, alamat email, kata sandi, kode OTP, atau informasi pribadi lainnya.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebelumnya telah mengingatkan masyarakat mengenai modus smishing, yakni penipuan melalui pesan yang bertujuan membuat korban memberikan data pribadi atau membuka tautan berbahaya.
Karena itu, tautan yang muncul bersamaan dengan isu viral tidak boleh otomatis dianggap sebagai sumber informasi. Phishing pada dasarnya merupakan upaya mengelabui seseorang agar memberikan informasi sensitif kepada pihak yang tidak berhak.
Ada beberapa tanda yang patut dicurigai, seperti tautan dengan alamat situs tidak jelas, permintaan login secara mendadak, permintaan kode OTP, permintaan data pribadi, atau halaman yang memaksa pengguna mengunduh aplikasi.
Dalam kasus yang berkaitan dengan dugaan konten intim, risikonya bahkan lebih besar. Mengklik, mengunduh, menyimpan, atau meneruskan materi yang diduga diperoleh tanpa persetujuan dapat memperluas kerugian terhadap korban sekaligus memperbesar jejak digital yang sulit dikendalikan. (udn)
Load more