ARCH:ID 2026 Kembali Digelar, Angkat Arsitektur sebagai Ekosistem Kolaboratif
- Istimewa
Mengacu pada tema yang diangkat, kolaborasi di ARCH:ID 2026 pun berkembang lebih luas. Tidak hanya dalam praktik arsitektur, tetapi juga melibatkan berbagai disiplin kreatif, mulai dari lighting designer, desainer grafis, desainer produk, hingga arsitek lanskap turut berkontribusi bersama brand sebagai mitra industri. Partisipasi ini diperkuat oleh dukungan sejumlah institusi dan asosiasi profesional, antara lain Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), Himpunan Teknik Iluminasi Indonesia (HTII), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Aliansi Designer Product Indonesia (ADPII), Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), serta Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI).
Melalui pendekatan lintas disiplin ini, ARCH:ID 2026 menempatkan arsitektur sebagai sebuah ekosistem yang dinamis dan saling terhubung. Menjadikan pameran ARCH:ID sebagai ruang di mana beragam keahlian bertemu, berkolaborasi, dan bersama-sama membentuk pengalaman ruang yang lebih komprehensif dan bermakna.
ARCH:ID 2026 International Conference: Perspektif Global dan Lokal dalam Satu Forum
Konferensi internasional ARCH:ID diselenggarakan selama dua hari dan terbagi dalam dua sesi, yaitu The Urban Forum dan The Architectural Forum, yang akan menghadirkan figur-figur berpengaruh dari berbagai belahan dunia yang relevan dengan tantangan arsitektur dan kota saat ini.
Florence Chan (KPF, Hong Kong) membawa pengalaman proyek berskala global dengan fokus dinamika ruang publik. Manuelle Gautrand (Prancis) dikenal melalui arsitektur yang memadukan inovasi dan warisan lokal, sementara Marina Tabassum (Bangladesh) peraih Aga Khan Award for Architecture—dengan pendekatan yang lebih responsif terhadap iklim dan berorientasi sosial. Dari Singapura, Agnes Soh melengkapi perspektif melalui praktik arsitektur lanskap yang berperan penting dalam membentuk kota yang resilien dan layak huni.
Sementara itu, kehadiran pembicara Indonesia Irene Umar dari Kementerian Ekonomi Kreatif dan Diana Kusumastuti dari Kementerian PUPR membawa insight strategis dari sisi kebijakan dan pembangunan nasional, membuka pemahaman tentang bagaimana desain beririsan langsung dengan arah pembangunan negara. Di sisi lain, Isha Hening sebagai visual artist dan Helen Agustine sebagai arsitek menghadirkan energi generasi kreatif yang mengeksplorasi batas-batas baru antara seni, ruang, dan praktik arsitektur kontemporer.
Load more