Ponpes Darul Mukhlisin Aceh Tamiang Sudah Bersih dari Tumpukan Kayu, Pemulihan Jadi Perhatian Pemerintah Pusat
- Istimewa
tvOnenews.com - Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari memastikan Pondok Pesantren Islam Terpadu Darul Mukhlisin di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, telah bersih dan terbebas dari tumpukan kayu sisa banjir bandang. Pesantren tersebut menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian pemerintah pusat dalam proses pemulihan pascabencana.
Dalam kunjungan kerja ke Aceh Tamiang, Qodari menyampaikan bahwa pemulihan Pesantren Darul Mukhlisin dilakukan berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan fasilitas pendidikan dan keagamaan yang terdampak bencana dapat segera pulih dan kembali berfungsi.
“Itu disadari oleh pemerintah pusat. Jadi memang tempat ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat. Memang ada instruksi khusus, Pak Seskab (Teddy Indra Wijaya) dan tentunya dengan arahan, melanjutkan arahan dari Bapak Presiden Prabowo untuk menangani pesantren Darul Mukhlisin ini dengan sebaik-baiknya, dengan secepat-cepatnya. Terutama dalam memindahkan kayu-kayu yang memang bertumpuk di sini,” kata Muhammad Qodari saat meninjau lokasi, Kamis (15/1/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Qodari dalam rangkaian kunjungan kerja untuk memastikan pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang berjalan sesuai arahan Presiden, sekaligus menyalurkan bantuan dan memantau rehabilitasi di berbagai sektor.
Dalam peninjauan tersebut, tim Kantor Staf Presiden (KSP) yang dipimpin Qodari melihat langsung kondisi asrama santri putri yang masih berlumpur serta proses pembersihan puing-puing. Qodari kemudian meninjau kompleks asrama santri putra yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik karena dikelilingi tumpukan kayu besar akibat banjir bandang. Kompleks pesantren seluas sekitar 2,5 hektare ini berada di kawasan seluas lima hektare yang sempat menjadi titik penumpukan material kayu dari aliran sungai.
Di lokasi bekas tumpukan kayu, Qodari mendengarkan langsung penjelasan Pendiri Pesantren Darul Mukhlisin, Haji Zakwan, mengenai kondisi saat banjir terjadi. Dari penjelasan tersebut, Qodari baru mengetahui bahwa posisi pesantren secara tidak langsung menahan laju kayu dan batang pohon besar sehingga tidak masuk ke permukiman warga di sekitarnya.
Qodari juga menyimak kesaksian Pelaksana Tugas Pimpinan Ponpes Darul Mukhlisin, Mulkana, yang menceritakan bagaimana para pengurus dan santri bertahan hidup selama beberapa hari dengan keterbatasan hingga banjir surut, serta kondisi kayu-kayu besar yang sempat mengelilingi area masjid.
Menanggapi kondisi tersebut, Qodari menegaskan bahwa pesantren mengalami dampak kerusakan yang cukup serius akibat banjir, meskipun pada saat yang sama turut menahan material kayu agar tidak menyebar lebih luas.
“Tentunya konsekuensinya adalah pesantren ini rusak di banyak bagian, kena air yang begitu besar dan pohon-pohon, kayu-kayu yang begitu banyak. Juga kena lumpur yang masuk ke ruang kelas. Tapi Alhamdulillah berkat kerja sama semua pihak, Bapak TNI, Polri, dari kehutanan, dari BUMN WIKA. Maka tempat ini pelan-pelan mulai dibersihkan. Kita lihat sudah tidak ada lagi kayunya,” ujar Qodari.
Sementara itu, Haji Zakwan menyampaikan terima kasih atas upaya pembersihan kayu-kayu di lingkungan pesantren. Ia meluruskan informasi yang sempat beredar bahwa kayu-kayu tersebut telah dimanfaatkan.
“Kami meluruskan informasi yang menyatakan kayu-kayu telah digunakan, itu tidak benar. Belum ada kayu yang digunakan, masih utuh. Untuk bisa menggunakan kayu tersebut, kami perlu izin resmi dari pemerintah pusat,” ujar Zakwan.
Mendengarkan hal tersebut, Qodari menyatakan akan menindaklanjuti persoalan izin pemanfaatan kayu untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pesantren melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
Zakwan menambahkan, kegiatan belajar mengajar di pesantren sudah kembali berjalan, namun para santri belum dapat kembali tinggal di asrama dan masih harus pulang-pergi karena kondisi asrama putra dan putri belum memungkinkan untuk dihuni.
“Belum bisa boarding, soalnya kondisi asrama laki-laki dan perempuan belum memungkinkan untuk santri menginap. Mungkin secara perlahan akan kami rehab dulu, minta doanya juga agar segala sesuatunya cepat pulih nanti,” pungkas Zakwan.(chm)
Load more