Hunian Sementara untuk Korban Banjir Aceh Tengah Mulai Dibangun, Target Rampung Usai Lebaran 2026
- instagram ftui
tvOnenews.com - Pembangunan hunian sementara (huntara) mulai menjadi harapan baru bagi warga terdampak banjir bandang di Desa Gewat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
Bencana yang terjadi pada akhir November 2025 itu tidak hanya merusak rumah, tetapi juga memaksa banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dalam waktu lama.
Setelah hampir tiga bulan berlalu, upaya pemulihan kini mulai terlihat melalui pembangunan fasilitas hunian yang lebih layak dan aman bagi para penyintas.
Di tengah proses pemulihan tersebut, kehadiran huntara menjadi solusi penting untuk menjembatani kebutuhan tempat tinggal sebelum pembangunan hunian permanen dilakukan.
Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan tempat tinggal sementara, tetapi juga mempertimbangkan aspek kenyamanan, keamanan, serta keberlanjutan bagi warga yang masih berjuang bangkit dari dampak bencana.
Pembangunan huntara di Desa Gewat dimulai sejak 7 Maret 2026 sebagai bagian dari kolaborasi antara Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Program ini menargetkan total 12 unit hunian sementara untuk warga terdampak banjir bandang.
Saat ini, satu unit huntara telah berdiri, sementara proses pembersihan lahan untuk 11 unit lainnya masih berlangsung.
Dari total tersebut, empat unit ditargetkan rampung sebelum Idul Fitri, sedangkan sisanya diproyeksikan selesai dalam waktu sekitar 30 hari setelah Lebaran.
Tim survei yang dipimpin oleh Ketua ILUNI FTUI, Farrizky Astrawinata, bersama Ketua Satuan Tugas Kebencanaan FTUI, Ardiyansyah, sempat meninjau langsung kondisi lapangan.
Mereka menemukan bahwa kondisi desa masih cukup memprihatinkan meski sudah sekitar 90 hari sejak bencana terjadi. Dalam kunjungan tersebut, bantuan paket sembako juga disalurkan kepada warga melalui program UI Peduli.
Akses menuju Desa Gewat sendiri masih menjadi tantangan. Lokasi ini dapat ditempuh sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari Lhokseumawe ke Takengon, kemudian dilanjutkan tiga jam perjalanan menuju desa, dengan kondisi jalan yang masih dalam tahap pemulihan akibat longsor.
Huntara yang dibangun memiliki ukuran 4 x 7,2 meter dengan desain Antara Versi 3, yang merupakan pengembangan dari model sebelumnya yang pernah diterapkan di berbagai wilayah bencana seperti Lombok, Palu, dan Cianjur.
Load more