Literasi Keuangan Makin Naik, Tapi Literasi Asuransi Turun: Gen Z Paling Berisiko?
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Generasi muda hari ini tumbuh di tengah kemudahan akses terhadap berbagai layanan keuangan. Dari pembayaran digital, investasi, pinjaman online hingga berbagai produk finansial, semuanya dapat dijangkau hanya melalui ponsel.
Namun, kemudahan tersebut belum tentu membuat seseorang benar-benar memahami cara mengelola uang dan menghadapi risiko finansial.
Karena itu, edukasi literasi keuangan dan asuransi bagi mahasiswa menjadi semakin penting. Kampus bukan hanya tempat mempelajari teori ekonomi, bisnis, atau manajemen, tetapi juga ruang untuk membangun kebiasaan finansial yang akan dibawa ketika mahasiswa memasuki dunia kerja.
Pemahaman mengenai pendapatan, pengeluaran, utang, investasi hingga proteksi perlu dikenalkan sebelum seseorang menghadapi risiko keuangan secara langsung.
Masalahnya, kemampuan menggunakan teknologi finansial tidak otomatis sama dengan kemampuan mengambil keputusan finansial. Seseorang bisa sangat terbiasa menggunakan aplikasi pembayaran atau layanan keuangan digital, tetapi belum memahami apa yang terjadi ketika pendapatan terganggu, muncul biaya kesehatan mendadak, atau kewajiban utang semakin besar.
Celah inilah yang menjadi perhatian dalam edukasi literasi keuangan dan asuransi bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU), Medan.
Literasi Keuangan Naik, Mengapa Literasi Asuransi Malah Turun?
Persoalan tersebut menjadi semakin relevan jika melihat kondisi literasi asuransi nasional. Mengutip ANTARA, PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) menggelar edukasi bertema “Financial Survival Kit: Pentingnya Proteksi Bagi Gen Z” di FEB USU.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkenalkan pengelolaan keuangan sekaligus pentingnya perlindungan finansial kepada generasi muda. Edukasi ini dilakukan ketika masih terdapat jarak cukup besar antara pemahaman masyarakat mengenai asuransi dan penggunaan produk asuransi.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, tingkat literasi asuransi Indonesia tercatat 42,84 persen, turun dari 45,45 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, tingkat inklusi asuransi berada di angka 29,55 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan belum otomatis membuat pemahaman terhadap asuransi ikut membaik.
“Pemahaman masyarakat terhadap keuangan secara umum meningkat, tetapi terhadap asuransi justru mundur. Ini bukan angka yang bisa kita biarkan, apalagi bagi generasi muda yang akan menjadi tulang punggung ekonomi dalam 5 sampai 10 tahun ke depan," ujar Direktur Utama Askrindo R. Mahelan Prabantarikso.
Bagi mahasiswa, persoalan ini penting karena mereka sedang berada pada fase transisi menuju kemandirian finansial. Penghasilan mungkin belum besar, tetapi keputusan mengenai utang, gaya hidup, tabungan, investasi dan perlindungan mulai terbentuk sejak periode tersebut.
Empat Langkah Mengelola Keuangan Sebelum Terlambat
Dalam edukasi tersebut, ada empat tahapan pengelolaan keuangan yang dapat menjadi kerangka sederhana bagi generasi muda.
Tahap pertama adalah menghasilkan pendapatan. Setelah memiliki penghasilan, langkah berikutnya adalah mengelola keuangan, termasuk menentukan prioritas kebutuhan dan mengendalikan pengeluaran.
Tahap ketiga adalah melindungi keuangan dari risiko. Inilah bagian yang menurut Mahelan masih kerap dilewatkan oleh generasi muda. Padahal, kondisi finansial yang terlihat sehat dapat berubah ketika seseorang menghadapi risiko yang tidak direncanakan.
Tahap terakhir adalah mengembangkan aset melalui perencanaan keuangan yang lebih matang. Urutan tersebut memperlihatkan bahwa investasi bukan satu-satunya tujuan dalam membangun kondisi finansial yang sehat.
Sebelum mengejar pertumbuhan aset, seseorang perlu memastikan fondasi keuangannya cukup kuat untuk menghadapi kejadian tak terduga.
“Penghasilan besar bukan jaminan aman secara finansial. Sepertiga orang berpenghasilan tinggi tetap mengalami stres finansial. Yang membedakan mereka yang bertahan adalah kesiapan, bukan sekadar kemampuan,” katanya.
Pesan ini menjadi penting bagi mahasiswa yang mulai mengenal dunia kerja dan mendapatkan penghasilan sendiri. Kemampuan memperoleh uang perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mempertahankan kondisi finansial ketika menghadapi risiko.
Melek Digital Harus Diikuti Melek Risiko Finansial
Generasi Z memiliki keunggulan berupa akses informasi dan teknologi yang jauh lebih mudah dibanding generasi sebelumnya. Namun, derasnya informasi juga membawa tantangan baru. Berbagai layanan finansial dapat digunakan dengan cepat, sementara keputusan yang kurang matang dapat berdampak panjang terhadap kondisi keuangan.
- Antara
Karena itu, literasi finansial seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menggunakan produk keuangan. Mahasiswa juga perlu memahami konsekuensi dari setiap keputusan, termasuk bagaimana mengantisipasi risiko yang dapat mengganggu kondisi ekonomi pribadi.
Edukasi seperti yang dilakukan di FEB USU menjadi salah satu cara memperkenalkan konsep tersebut sejak bangku kuliah. Program itu merupakan bagian dari rangkaian edukasi yang tidak hanya berfokus pada penjaminan dan asuransi, tetapi juga peningkatan pemahaman masyarakat mengenai perlindungan finansial.
Pada akhirnya, persoalan terbesar Gen Z bukan semata-mata apakah mereka sudah bisa menggunakan teknologi keuangan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah mereka siap ketika risiko finansial datang.
Sebab, kemampuan menghasilkan dan mengembangkan uang tidak akan banyak berarti jika seluruh rencana keuangan runtuh hanya karena satu kejadian tak terduga. Melek digital adalah modal, tetapi melek finansial dan memahami proteksi adalah bekal agar seseorang mampu bertahan. (udn)
Load more