Kisah Biarawati Asal Nias yang Berjuang untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Kisahnya Buka Mata soal Pendidikan Inklusif
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Di tengah keterbatasan akses pendidikan dan stigma sosial, anak berkebutuhan khusus (ABK) masih menghadapi tantangan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Tidak semua anak memperoleh fasilitas pendukung, metode pembelajaran yang sesuai, maupun kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.Â
Akibatnya, sebagian dari mereka berisiko tersisih dari lingkungan pendidikan dan kehidupan bermasyarakat. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kondisi anak, tetapi juga kemampuan keluarga, kesiapan sekolah, serta penerimaan masyarakat.Â
Tekanan ekonomi dapat menyulitkan orang tua mengakses layanan yang dibutuhkan, sementara diskriminasi berpotensi menghambat anak untuk belajar, berinteraksi, dan membangun kepercayaan diri.
Pentingnya pendidikan inklusif juga menjadi perhatian dunia. UNESCO melalui laporan Global Education Monitoring Report 2020: Inclusion and Education – All Means All mencatat bahwa kurang dari 10 persen negara memiliki undang-undang yang membantu menjamin inklusi pendidikan secara menyeluruh.Â
Laporan tersebut juga memperkirakan sekitar 40 persen negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah tidak memberikan dukungan kepada peserta didik rentan selama penutupan sekolah akibat pandemi Covid-19. Data ini memperlihatkan bahwa akses pendidikan yang setara masih menjadi pekerjaan besar di berbagai negara.
Belajar dari Amerika Serikat dan Finlandia tentang Pendidikan Inklusif
Sejumlah negara telah mengembangkan kebijakan untuk memastikan anak dengan disabilitas mendapatkan dukungan pendidikan sesuai kebutuhannya. Di Amerika Serikat, misalnya, terdapat Individuals with Disabilities Education Act (IDEA), undang-undang yang mengatur hak anak penyandang disabilitas yang memenuhi kriteria untuk memperoleh pendidikan publik yang sesuai.
Melalui kebijakan tersebut, anak yang berhak mendapatkan layanan pendidikan khusus dapat memiliki Individualized Education Program (IEP), yakni program pendidikan individual yang memuat kebutuhan, tujuan pembelajaran, dan layanan pendukung bagi siswa.Â
Pemerintah AS mencatat bahwa pada tahun ajaran 2022–2023, lebih dari 66 persen siswa penyandang disabilitas yang tercakup dalam layanan IDEA Part B menghabiskan setidaknya 80 persen waktu sekolah mereka di kelas pendidikan umum.
Finlandia juga menerapkan sistem dukungan pembelajaran yang menyesuaikan kebutuhan siswa. Menurut Finnish National Agency for Education, dukungan dapat berupa pembelajaran berdiferensiasi, pengajaran bersama, peningkatan aksesibilitas lingkungan belajar, hingga bantuan individual dan keterlibatan guru pendidikan khusus.
Pendekatan tersebut menekankan bahwa setiap anak berhak berpartisipasi dalam kegiatan belajar bersama teman-temannya. Ketika dukungan umum belum mencukupi, siswa dapat memperoleh bantuan yang lebih spesifik berdasarkan kebutuhan mereka.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan lebih dari sekadar penerimaan siswa di sekolah. Dukungan tenaga pendidik, fasilitas, keluarga, dan lingkungan sosial turut menentukan kesempatan anak untuk berkembang.
Sr. Klara Duha Mendirikan Yayasan untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Nias
Di Nias, Sumatera Utara, kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus diwujudkan Sr. Klara Duha, seorang biarawati yang mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi mereka agar memperoleh pendidikan, kasih sayang, dan kesempatan membangun masa depan.
Minimnya fasilitas pendukung, keterbatasan sumber daya, tekanan ekonomi keluarga, serta pengucilan sosial menjadi tantangan yang dihadapi sebagian anak dan keluarga. Kondisi tersebut mendorong Sr. Klara mendirikan Yayasan Karya Berkat Faomasi sebagai tempat bernaung dan ruang pendampingan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Bagi Sr. Klara, setiap anak memiliki potensi yang layak dikembangkan. Keterbatasan fisik maupun kondisi perkembangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghalangi mereka mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.
"Setiap anak memiliki potensi. Mereka hanya membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan orang-orang yang percaya pada kemampuan mereka. Sudah seharusnya setiap orang melayani Tuhan dalam diri sesama yang menderita," kata Sr. Klara Duha, Jumat (9/10/2026).
Prinsip tersebut menjadi dasar pendampingannya. Anak-anak tidak hanya membutuhkan bantuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi juga kesempatan untuk mengenali kemampuan, mengembangkan bakat, dan membangun keyakinan terhadap diri sendiri.
Dengan pendekatan yang mengutamakan kasih dan penerimaan, anak-anak didorong untuk menunjukkan kemampuan masing-masing. Dukungan ini juga dirasakan keluarga yang membutuhkan pendampingan dalam menghadapi tantangan membesarkan anak berkebutuhan khusus.
- ist
Mengasah Kemampuan, Membangun Kemandirian, dan Menghapus Stigma
Dalam menjalankan misinya, Sr. Klara berfokus pada tiga hal utama, yakni pengembangan kemampuan, pembentukan kemandirian, dan pemulihan rasa percaya diri. Anak-anak diajarkan keterampilan hidup praktis agar lebih mampu menjalani aktivitas sehari-hari, berinteraksi dengan lingkungan, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pendidikan inklusif yang ditekankan UNESCO, yakni memastikan setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar tanpa diskriminasi berdasarkan kondisi maupun latar belakangnya.Â
Keragaman kemampuan seharusnya menjadi pertimbangan dalam membangun sistem pendidikan, bukan alasan untuk mengecualikan seseorang.
Namun, upaya menciptakan lingkungan inklusif tidak dapat hanya mengandalkan satu individu atau lembaga. Keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah, dan organisasi kemanusiaan perlu bekerja sama memperluas akses terhadap pendidikan dan layanan pendukung.
Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus. Mereka bukan sekadar penerima bantuan atau objek belas kasihan, melainkan individu yang memiliki kemampuan, keinginan, dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Perjuangan Sr. Klara Duha melalui Yayasan Karya Berkat Faomasi membawa pesan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang.Â
Inti perjuangannya adalah memastikan anak berkebutuhan khusus di Nias tidak kehilangan masa depan akibat keterbatasan fasilitas maupun stigma sosial, melainkan memperoleh pendampingan untuk membangun kemandirian, mengembangkan potensi, dan menjalani kehidupan yang bermartabat. (udn)
Load more