Kasus Keracunan MBG Berulang di DIY, Sri Sultan Tegur Penyedia Teledor
- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Yogyakarta, tvOnenews.com - Kasus keracunan yang dialami siswa setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di wilayah DI Yogyakarta.
Kejadian berulang ini menjadi sorotan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Sri Sultan menilai persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele. Ia kemudian menyoroti persoalan keamanan dan kualitas makanan dalam pelaksanaan program MBG.
Menurutnya, insiden keracunan yang berulang menunjukkan adanya persoalan yang perlu segera dievaluasi, terutama dari sisi penyedia makanan.
"Saya yakin (insiden) keracunan (MBG) tidak disengaja, tapi teledor saja," kata Sri Sultan kepada awak media di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Selasa (8/9/2026).
Raja Keraton Yogyakarta menyebut, keteledoran penyedia menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Keteledoran dalam menyiapkan makanan, menurutnya dapat menimbulkan dampak serius bagi para siswa. Karena itu, standar keamanan pangan harus menjadi perhatian utama setiap penyedia MBG.
"Dilihat betul sebelum memasak entah sayur, daging, ikan dan sebagainya. Kalau harus punya stok ya perlu dilihat juga punya pendingin tidak, yang memenuhi syarat," ucap Sultan.
Ia mencontohkan kapasitas penyimpanan bahan baku seharusnya mencukupi semisal harus menyediakan stok untuk tiga hari ke depan.
"Misalnya stok 10-30 kilogram daging harus dimasukan kulkas. Kalau gak mampu, ditaruh luar akhirnya hari berikutnya sudah warna biru (tidak layak dimakan) ya pasti keracunan," ucap Sultan.
Menyusul adanya insiden tersebut, Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti segera meminta penjelasan dari koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengenai pelaksanaan program MBG yang berjalan di lapangan.
"Besok, kami mengundang koordinator SPPG. Kami memastikan kenapa kemudian kejadian itu terulang kembali," kata Ni Made.
Mantan Penjabat (Pj) Bupati Kulon Progo tersebut juga mempertanyakan kualitas bahan baku yang digunakan dalam proses memasak.
Insiden keracunan MBG terjadi di wilayah Turi, Kabupaten Sleman pada Senin (7/9/2026). Pasca kejadian tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman bersama Puskesmas Turi dan FETP UGM telah melakukan verifikasi kasus, serta investigasi terhadap laporan keluhan kesehatan pada penerima MBG yang diproduksi SPPG Wonokerto, Turi.Â
Dari 261 responden, 226 orang tidak mengalami keluhan. Sedangkan, siswa yang mengalami keluhan kesehatan tercatat 35 orang.
"Ada 35 siswa yang mengeluhkan gejala keracunan. Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah pusing dan sakit perut, disusul mual, sakit kepala, lemah, dan muntah," ungkap Khamidah Yuliati, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Sleman.
Imbas kejadian ini, ada 19 orang menjalani rawat jalan, tujuh orang berobat mandiri, dan sembilan orang tidak menjalani pengobatan. Â
"Sampai dengan pembaruan hingga pukul 20.30 WIB, tidak terdapat pasien yang menjalani rawat inap," ucap perempuan yang akrab dipanggil Yuli ini.
Adapun, kasus sementara ditemukan pada beberapa satuan pendidikan di wilayah Turi, dengan jumlah terbanyak berada di SMPN 3 Turi.Â
Hasil investigasi sementara oleh tim analisis epidemiologi terhadap menu MBG belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik.
Salah satu menu yaitu bola-bola sapi goreng menunjukkan ukuran asosiasi paling tinggi dan masih menjadi bagian yang ditelusuri dalam investigasi. Namun, hal tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kejadian.Â
Dinkes Sleman telah mengambil sampel makanan dan air telah diambil dan dikirim ke laboratorium pada 7 September 2026.Â
"Hasil pemeriksaan laboratorium masih menunggu," kata Yuli.Â
Setelah laporan kejadian diterima, dilakukan langkah penghentian konsumsi dan distribusi MBG pada lokasi penerima sebagai upaya mencegah bertambahnya kasus.
Sebagian porsi yang telah terlanjur diterima dan dikonsumsi tercatat sebanyak 867 porsi pada enam satuan pendidikan.Â
Pasca insiden keracunan ini, Dinkes Sleman bersama pihak terkait masih melakukan penelusuran food chain, faktor lingkungan, serta analisis epidemiologi untuk mengetahui sumber dan penyebab kejadian.Â
Pemkab Sleman juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi penerima MBG dan berkoordinasi dengan Puskesmas, sekolah, SPPG serta pihak terkait.
Kesimpulan mengenai sumber dan penyebab kejadian akan disampaikan setelah seluruh hasil pemeriksaan dan investigasi diperoleh. (scp/buz)
Load more