Karhutla Bayangi F1 Singapura, Indonesia Gaspol Kerahkan Polhut hingga Water Bombing
- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Sleman, tvOnenews.com - Gelaran balap mobil Formula 1 (F1) Singapura yang akan berlangsung pada 9-11 Oktober 2026 dibayangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Indonesia.
Merespon kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia memperkuat penanganan karhutla melalui pengerahan polisi hutan (polhut), water bombing hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pasalnya, asap karhutla yang telah melintas ke negara tetangga tersebut menjadi perhatian jelang penyelenggaraan ajang balap internasional.
Wakil Menteri Kehutanan RI, Rohmat Marzuki mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan negara-negara sahabat, terutama Malaysia dan Singapura untuk menangani persoalan asap lintas batas atau transboundary haze ini.
"Terkait dengan transboundary haze yang sudah lintas antar negara, Presiden sudah melakukan komunikasi dengan pimpinan negara sahabat, terutama Malaysia dan Singapura untuk bersama-sama memperkuat kerja sama terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan," tuturnya kepada awak media seusai menghadiri Dies Natalis ke-63 Fakultas Kehutanan UGM, Jumat (9/10/2026).
Adapun, langkah konkret Pemerintah Indonesia saat ini memperkuat pasukan darat yang ada di lapangan dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
Mulai dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui pasukan Manggala Agni serta memperbantukan polhut dari seluruh Indonesia ke daerah-daerah yang dilanda karhutla.
"Kita BKO-kan polisi kehutanan dari seluruh Indonesia ke enam provinsi yang rawan karhutla terutama Kalbar, Kalteng, Kalsel, Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan," ucap Rohmat.
Dia menuturkan bahwa proses penanganan juga diperlukan sinergitas dari TNI-Polri. Selain memperkuat pemadaman darat, Kemenhut juga mengupayakan proses pemadaman dengan mengandalkan water bombing maupun OMC.
"Bukan hanya pemadaman darat, tapi diupayakan terus water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca. Tapi, OMC ini syaratnya adalah harus ada awan smile yang terbentuk," ujar Rohmat.
Di sisi lain, peran pemerintah di tingkat provinsi hingga kabupaten yang rawan karhutla juga diperlukan untuk memperkuat pemadaman yang ada di lapangan. (Scp)
Â
Load more