Profil Alexander Ramlie, Arsitek Amman Mineral yang Pernah Bawa AMMN Masuk Jajaran Raksasa BEI
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Nama Alexander Ramlie dikenal luas di industri pertambangan Indonesia sebagai sosok kunci di balik transformasi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Meski kini tak lagi menjabat sebagai Presiden Direktur, kiprah dan rekam jejaknya tetap menjadi perhatian, terutama setelah ia tercatat melepas sebagian saham AMMN dan meraup cuan signifikan.
Alexander Ramlie merupakan figur profesional dengan latar belakang keuangan internasional yang kuat. Ia tidak hanya berperan sebagai eksekutif, tetapi juga sebagai arsitek utama dalam salah satu akuisisi tambang terbesar di Indonesia, yakni pengambilalihan tambang Batu Hijau dari PT Newmont Nusa Tenggara pada 2016.
Latar Belakang dan Pendidikan
Alexander Ramlie lahir di Jakarta sekitar tahun 1975. Meski tidak banyak informasi personal yang dipublikasikan ke ruang publik, latar pendidikannya mencerminkan fondasi kuat di bidang ekonomi dan keuangan.
Ia merupakan lulusan Boston University, Amerika Serikat. Di kampus tersebut, Alexander menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di bidang ekonomi, yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya di sektor keuangan dan pertambangan.
Awal Karier di Keuangan Internasional
Karier profesional Alexander Ramlie dimulai di dunia keuangan global. Ia mengawali langkah sebagai analis dan bankir investasi di Lazard Frères & Co, salah satu firma keuangan ternama yang berbasis di Amerika Serikat.
Pengalaman di Lazard memberinya pemahaman mendalam terkait restrukturisasi perusahaan, merger dan akuisisi, serta strategi pembiayaan berskala besar. Kompetensi inilah yang kemudian menjadi ciri khas Alexander saat terjun ke industri sumber daya alam.
Kiprah di Industri Tambang Nasional dan Global
Nama Alexander Ramlie mulai mencuat di tingkat nasional ketika ia dipercaya memimpin PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk sebagai Presiden Direktur dan CEO pada periode 2011–2015. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan tersebut melakukan langkah strategis besar.
Salah satu pencapaian pentingnya adalah memimpin akuisisi saham mayoritas Bumi PLC, perusahaan tambang batu bara yang terdaftar di London Stock Exchange (LSE). Alexander kemudian juga menjabat sebagai Direktur Bumi PLC pada periode 2012–2015.
Selain itu, ia pernah menduduki posisi strategis sebagai Wakil Presiden Komisaris PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan terlibat aktif dalam manajemen PT Berau Coal. Jejaknya juga tercatat di sejumlah entitas besar di bawah grup PT Bumi Resources Tbk, termasuk PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia, dua produsen batu bara terbesar di Indonesia.
Load more