Ambisi Dedi Mulyadi ke BJB hingga Mematok Target Laba Tinggi, KDM Soroti Investasi Jumbo di Jabar
- YouTube/Kang Dedi Mulyadi Channel
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membeberkan ambisi besarnya terhadap PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB).
Gubernur Jabar yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM ini, yakin BJB memiliki peluang besar untuk menjadi bank daerah terbesar dan tersehat di Indonesia.
Ambisi KDM itu bukan tanpa alasan, lantaran didasarkan pada kekuatan ekosistem investasi Jawa Barat yang nilainya mencapai Rp296,8 triliun.
Menurutnya, status BJB sebagai Bank Pembangunan Daerah tidak seharusnya membatasi ruang ekspansi bisnis.
Oleh karena itu, ia mendorong BJB untuk memperluas jangkauan usaha dengan menjalin kemitraan langsung bersama pelaku industri yang selama ini menjadi tulang punggung investasi di Jabar
"Bank BJB harus masuk ke area industri yang hari ini membuat investasi di Jabar tertinggi se-Indonesia, kalau semuanya menjadi mitra maka BJB akan jadi bank terbesar dan sehat," kata Dedi dalam keterangan di Bandung, Sabtu (24/1/2026).
Dorongan itu didukung oleh data Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi secara nasional sepanjang 2025.
Total, investasi yang masuk ke Jawa Barat tercatat sebesar Rp296,8 triliun atau mencapai 109,9 persen dari target yang ditetapkan.
Komposisi investasi dinilai cukup berimbang, dengan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp147,02 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp149,8 triliun, sehingga membuka peluang besar bagi sektor perbankan.
KDM menegaskan tingginya kepercayaan investor asing dan domestik harus dimanfaatkan BJB sebagai pasar potensial, bukan sekadar menjadi penonton di wilayah sendiri.
KDM Patok Target Laba Tinggi ke BJB
Selain sektor industri dan korporasi, KDM juga mendorong BJB memperluas peran sosial melalui kemitraan strategis dengan pemerintah daerah.
Ia meminta BJB terlibat dalam pembiayaan program rumah bagi masyarakat miskin, pembangunan sekolah baru, dukungan pendidikan anak yatim, serta penguatan permodalan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Menurut Dedi, bank yang sehat tidak hanya diukur dari kinerja keuangan, tetapi juga dari kualitas manajemen, jajaran komisaris, serta komitmen terhadap integritas dan visi sosial.
Ia juga mematok agar BJB mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun pada tahun 2026.
Target ini disebut menjadi salah satu indikator utama bagi Pelaksana Tugas Direktur Utama BJB Ayi Subarna untuk ditetapkan sebagai direktur utama definitif.
"Sudah tidak bisa ditawar lagi, angka keuntungan harus mencapai Rp2,2 triliun, jika ingin menjadi dirut," katanya.
Target laba tersebut, kata Dedi, ditetapkan untuk memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dengan capaian tersebut, BJB diproyeksikan mampu menyetorkan dividen hingga Rp400 miliar ke kas Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Target itu dinilai realistis oleh otoritas pengawas perbankan. Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat Darwisman menyatakan, untuk mencapai setoran dividen Rp400 miliar, BJB memang perlu mencatatkan laba bersih di atas Rp2,2 triliun.
Darwisman optimistis target tersebut dapat diraih dengan mempertimbangkan kinerja BJB pada 2023 yang sempat membukukan laba sebesar Rp1,8 triliun.
"Jika kredit dapat tumbuh hingga 12 persen dan mampu melakukan efisiensi hingga Rp1,4 triliun, maka laba BJB diprediksi dapat mencapai Rp2,58 triliun," ujar dia.
Ia menekankan pentingnya efisiensi yang konsisten serta pengawasan ketat guna mencegah praktik kecurangan dalam pengelolaan perbankan.
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, Dedi memastikan BJB tidak berjalan sendiri.
Ia menyatakan akan membuka akses langsung BJB ke ekosistem investasi Jawa Barat yang pada 2025 mencapai Rp298,6 triliun, serta proyek infrastruktur tahun 2026 dengan nilai lebih dari Rp7 triliun. (ant/rpi)
Load more