Wrap Up Pasar Modal Pekan Ini: IHSG Anjlok, Investor Waspada, Regulator Bergerak
- tvOnenews.com/Rilo Pambudi
Jakarta, tvOnenews.com — Pasar modal Indonesia tengah mengalami tekanan besar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh tajam selama dua hari berturut-turut. Situasi ini diperparah dengan mundurnya sejumlah pejabat kunci di sektor keuangan dalam satu hari yang sama, Jumat (30/1/2026), yang membuat kepercayaan investor kembali diuji.
Pengunduran diri tersebut diawali oleh Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman. Tak lama berselang, empat pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut melepas jabatan, yakni Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Dewan Komisioner Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten dan Transaksi Efek Aditya Jayaantara.
Dengan mundurnya para pejabat tersebut, saat ini tersisa delapan anggota Dewan Komisioner OJK periode 2022–2027 yang masih aktif menjabat. Kekosongan di pucuk pimpinan ini menjadi sorotan pasar karena terjadi di tengah tekanan kuat terhadap kinerja IHSG.
IHSG Terpukul, Sentimen Pasar Memburuk
Anjloknya IHSG terjadi pada perdagangan Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026), dipicu oleh keputusan lembaga indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sejumlah aksi indeks saham Indonesia.
MSCI mempertanyakan transparansi dan tata kelola perdagangan saham di Tanah Air, khususnya terkait kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi, rendahnya porsi saham publik atau free float, serta kualitas data investor yang dinilai belum memadai. Lembaga tersebut memberi tenggat hingga Mei 2026 bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk melakukan perbaikan, sembari memperingatkan potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market jika tidak ada kemajuan signifikan.
Kondisi ini langsung berdampak ke sentimen pasar. Investor asing tercatat melakukan aksi jual, sementara investor domestik cenderung wait and see menunggu kepastian arah kebijakan regulator dan pemerintah.
Pengunduran Diri sebagai Tanggung Jawab Moral
Para pejabat yang mundur menyatakan langkah tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kondisi pasar yang memburuk. Mereka berharap, pengunduran diri ini dapat membuka ruang bagi pemulihan kepercayaan dan reformasi yang lebih cepat di sektor pasar modal.
Sebagai pengganti sementara, Friderica Widyasari Dewi ditunjuk untuk mengisi posisi Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK. Ia sebelumnya menjabat Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen.
Sementara itu, posisi Inarno Djajadi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal digantikan sementara oleh Hasan Fawzi, yang sebelumnya memimpin pengawasan inovasi teknologi sektor keuangan, aset digital, dan kripto. Adapun kursi Deputi Komisioner yang ditinggalkan Aditya Jayaantara hingga kini masih kosong dan dijalankan secara rangkap oleh anggota Dewan Komisioner lainnya.
Pemerintah Siapkan Reformasi Pasar Modal
Di tengah gejolak tersebut, pemerintah menyatakan akan mempercepat reformasi struktural pasar modal guna memulihkan kredibilitas bursa dan menarik kembali minat investor. Beberapa langkah yang tengah disiapkan antara lain:
-
Demutualisasi BEI, yakni mengubah status bursa dari organisasi berbasis keanggotaan menjadi entitas perusahaan yang dapat dimiliki publik atau pihak lain.
-
Peningkatan free float saham, dari minimal 7,5 persen menjadi 15 persen, untuk memperbaiki likuiditas dan kualitas pasar.
-
Penegakan hukum yang lebih tegas terhadap praktik saham gorengan dan manipulasi harga saham.
Terkait demutualisasi, BEI menyatakan terbuka bagi berbagai pihak yang berminat menjadi pemegang saham, termasuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang saat ini berperan sebagai superholding BUMN.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjawab kritik internasional terhadap tata kelola pasar modal Indonesia sekaligus memperbaiki persepsi investor global.
Suara Investor Ritel: Kepercayaan Harus Dipulihkan
Di sisi lain, investor ritel domestik menyampaikan kekecewaan terhadap kondisi pasar. Yanto, investor saham yang telah berinvestasi lebih dari satu dekade, menilai praktik saham gorengan sudah lama berulang, namun penindakannya dinilai lamban.
“Kalau praktik seperti ini terus dibiarkan, investor asing akan semakin menjauh, dan investor ritel domestik yang jadi korban,” ujarnya.
Investor lain, Roben, meminta pemerintah dan regulator lebih serius melindungi investor publik. Menurutnya, pasar modal hanya akan bertahan jika dikelola secara transparan dan akuntabel, bukan sekadar menjadi tempat exit liquidity bagi pihak tertentu.
“Dana investor ritel sering kali berasal dari sebagian besar tabungan mereka. Nilainya mungkin kecil secara nominal, tapi sangat besar secara personal,” kata Roben.
Di tengah tekanan IHSG, mundurnya pejabat kunci, dan rencana reformasi besar-besaran, pasar kini menunggu langkah konkret pemerintah dan regulator untuk memulihkan kepercayaan serta memastikan pasar modal Indonesia kembali sehat, stabil, dan kompetitif di mata investor global maupun domestik. (nsp)
Load more