Moody’s Beri Sinyal Negatif, Airlangga Sebut Pemerintah Siapkan Indonesia Economic Outlook
- Abdul Gani Siregar/tvOnenews.com
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah bergerak cepat merespons perubahan outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional Moody’s terhadap sektor keuangan Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto bahkan meminta penjelasan ekonomi nasional dipaparkan secara terbuka kepada publik dan pelaku usaha melalui forum khusus bertajuk Indonesia Economic Outlook.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan hasil rapat di Istana Kepresidenan menegaskan posisi Indonesia secara keseluruhan masih berada dalam kategori layak investasi (investment grade), meskipun muncul catatan kewaspadaan dari Moody’s.
“Selain itu, dilaporkan pula kepada Bapak Presiden bahwa dari seluruh lembaga pemeringkat (rating agencies), baik Moody’s, Fitch, maupun S&P, penilaiannya masih pada level investment grade,” ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (11/2/2026).
Namun, pemerintah tidak menutup mata terhadap perubahan outlook yang dinilai mencerminkan kekhawatiran pasar.
Moody’s sebelumnya mengubah outlook dari stabil menjadi negatif, termasuk terhadap lima bank besar nasional—Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan BTN—meski peringkat kreditnya tetap dipertahankan pada level Baa2 per 5 Februari 2026.
Airlangga menyebut catatan tersebut berkaitan dengan kebutuhan klarifikasi atas prospek penerimaan negara serta arah kebijakan ekonomi ke depan, termasuk rencana pembentukan Danantara.
“Memang ada outlook negatif dari Moody’s. Nah, ini tentu perlu diperhatikan terkait dengan penjelasan yang diperlukan, utamanya mengenai penerimaan negara yang juga berpotensi meningkat, serta terkait dengan rencana dari Danantara,” jelasnya.
Moody’s dalam risetnya menilai terdapat peningkatan risiko pada kredibilitas kebijakan pemerintah, terutama menyangkut konsistensi dan efektivitas komunikasi kebijakan sepanjang setahun terakhir.
Perubahan outlook perbankan juga mengikuti perubahan outlook peringkat utang pemerintah Indonesia.
Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia karena mempertimbangkan ketahanan ekonomi domestik, kekuatan sumber daya alam, serta bonus demografi yang masih menopang pertumbuhan.
Untuk meredam kekhawatiran pasar, Presiden Prabowo meminta pemerintah menyampaikan penjelasan komprehensif secara terbuka kepada publik dan investor.
“Oleh karena itu, Bapak Presiden tadi meminta agar kita membuat penjelasan yang lebih lengkap dalam bentuk serasehan ekonomi, yaitu ‘Indonesia Economic Outlook’ yang akan diselenggarakan pada hari Jumat nanti. Di sana akan diberikan penjelasan mengenai posisi pemerintah terkait juga dengan program-program unggulan dari pemerintah,” kata Airlangga.
Load more