Rupiah Pagi Ini Melemah ke Rp17.350 per Dolar AS di Tengah Potensi Kenaikan Harga BBM Akibat Tingginya Tekanan Fiskal
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.362 pada Kamis, 7 Mei 2026. Posisi rupiah itu menguat 43 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.405 pada perdagangan Rabu, 6 Mei 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 8 Mei 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.350 per dolar AS. Posisi itu melemah 17 poin atau 0,10 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.333 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, potensi penyesuaian harga BBM kian terbuka seiring tekanan fiskal yang meningkat akibat lonjakan harga energi global, ditambah beban subsidi yang berpotensi melampaui asumsi APBN.
Kondisi geopolitik global yang memanas membuat harga energi bertahan di level tinggi dalam waktu yang tidak singkat. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan komponen crack spread, yakni selisih harga minyak mentah dan produk turunannya seperti BBM.
Dengan crack yang masih tinggi, biaya subsidi bisa jadi lebih besar dari perhitungan pemerintah di APBN. Ini membuat kapasitas fiskal menjadi terkonstrain. Apabila harga minyak dunia, yang tercermin dari harga acuan seperti Brent bertahan di level US$120 per barel dalam beberapa bulan, maka penyesuaian harga BBM menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Dalam kondisi tersebut pemerintah sebenarnya memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Namun, opsi tersebut dinilai akan menjadi langkah terakhir mengingat dampaknya terhadap daya beli masyarakat.
Dengan keterbatasan fiskal ini, langkah yang paling masuk akal dilakukan pemerintah adalah menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum tuntas, yakni deregulasi. Hal ini penting untuk menjaga keberlangsungan industri.
Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga napas industri, terutama dalam meningkatkan produksi dalam negeri melalui hilirisasi. Bila bahan baku berbasis energi bisa diproduksi lokal, industri di Tanah Air bisa mengurangi ketergantungan importasi.
Situasi yang terjadi saat ini menjadi waktu yang tepat untuk semua pihak berbenah. Termasuk menghadirkan energi yang lebih ramah lingkungan untuk digunakan masyarakat maupun sektor industri.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 17.300-Rp 17.340," ujarnya.
Sebagai informasi, terdapat optimisme AS atas kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah. Namun, mereka mengurangi kerugian setelah Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa "terlalu dini" untuk pembicaraan tatap muka dengan Teheran dan seorang anggota parlemen senior Iran mengatakan bahwa proposal AS lebih merupakan daftar keinginan daripada kenyataan.
Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka sedang meninjau proposal perdamaian AS, yang menurut sumber akan secara resmi mengakhiri perang sambil membiarkan tuntutan utama AS agar Iran menangguhkan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz tetap belum terselesaikan.
Mohammad Yudha Prasetya/VIVA
Load more