IHSG Dibuka Melemah di Tengah Penantian Suku Bunga BI, Rupiah dan Gejolak Global Jadi Sorotan
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Selasa di tengah sikap pelaku pasar yang masih cenderung wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Pada awal perdagangan, IHSG tercatat turun tipis 0,03 poin atau 0,00 persen ke level 6.599,21. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 ikut melemah 0,60 poin atau 0,09 persen ke posisi 650,49.
Pergerakan IHSG masih dibayangi sentimen domestik maupun global, mulai dari tekanan nilai tukar Rupiah, potensi kenaikan BI-Rate, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak terhadap pasar keuangan dunia.
IHSG Diproyeksi Bergerak di Kisaran 6.400-6.700
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam rentang 6.400 hingga 6.700.
Menurutnya, pelaku pasar masih menanti keputusan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur BI yang berlangsung pada Selasa dan Rabu pekan ini.
Tekanan terhadap Rupiah menjadi salah satu faktor utama yang memicu spekulasi bahwa BI berpeluang menaikkan BI-Rate demi menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik kembali minat investor asing ke pasar domestik.
“Diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.400-6.700,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Tekanan Rupiah dan BI-Rate Jadi Sentimen Utama IHSG
Pergerakan IHSG juga dipengaruhi kondisi nilai tukar Rupiah yang masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya memperkirakan Rupiah mulai menguat pada Juli 2026. Secara historis, Rupiah memang cenderung mengalami pelemahan pada periode April hingga Juni karena meningkatnya permintaan dolar AS.
Kondisi tersebut membuat pasar memprediksi adanya peluang kenaikan BI-Rate untuk meredam depresiasi Rupiah lebih lanjut.
Jika suku bunga acuan dinaikkan, langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan daya tarik instrumen investasi domestik, terutama bagi investor asing. Yield investasi di dalam negeri juga diperkirakan menjadi lebih kompetitif.
Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan maupun masyarakat. Dampaknya, beban bunga perusahaan dapat meningkat dan daya beli masyarakat berisiko melemah.
Situasi itu menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi kinerja emiten dan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Bayangi IHSG
Dari sentimen global, pasar juga mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang masih memanas meski terdapat upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik.
Presiden AS Donald Trump disebut menunda rencana serangan militer terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Selasa waktu setempat.
Meski penundaan dilakukan, kekhawatiran pasar terhadap potensi gejolak energi global masih tinggi. Harga minyak dunia bahkan tercatat menguat lebih dari 2 persen.
Kenaikan harga energi dikhawatirkan mendorong inflasi global semakin tinggi dan memicu bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga.
Kondisi tersebut membuat yield obligasi pemerintah di sejumlah negara ikut meningkat.
U.S. 10-year Bond Yield tercatat naik kurang dari 1 basis poin ke level 4,601 persen setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 15 bulan terakhir.
Imbal hasil obligasi yang tinggi dapat memengaruhi valuasi saham karena meningkatkan biaya pinjaman perusahaan dan menekan prospek laba di masa depan. Faktor ini ikut menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG dan pasar saham global.
Sementara itu, harga emas spot tercatat menguat 0,2 persen ke level 4.548 dolar AS per troy ons seiring pelemahan dolar AS.
Bursa Eropa Menguat, Wall Street Bergerak Variatif
Pergerakan IHSG juga dipengaruhi dinamika pasar saham global pada perdagangan sebelumnya.
Bursa saham Eropa ditutup kompak di zona hijau pada Senin. Indeks Euro Stoxx 50 menguat 0,58 persen, FTSE 100 Inggris naik 1,26 persen, DAX Jerman melonjak 1,49 persen, dan CAC Prancis bertambah 0,44 persen.
Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat di Wall Street bergerak variatif.
Berikut pergerakan indeks utama Wall Street:
-
S&P 500 melemah 0,07 persen ke 7.403,05
-
Nasdaq turun 0,45 persen ke 28.994,37
-
Dow Jones naik 0,32 persen ke 49.686,12
Pergerakan bursa global tersebut menjadi salah satu acuan investor dalam menentukan posisi di pasar saham domestik, termasuk terhadap arah IHSG hari ini.
Bursa Asia Bergerak Campuran, IHSG Masih Rentan Fluktuasi
Pada perdagangan pagi ini, mayoritas bursa saham Asia bergerak campuran.
Berikut pergerakan indeks regional Asia:
-
Nikkei melemah 290,95 poin atau 0,48 persen ke 60.524,00
-
Shanghai menguat 7,72 poin atau 0,19 persen ke 4.167,89
-
Hang Seng turun 10,65 poin atau 0,26 persen ke 4.120,88
-
Strait Times naik 29,90 poin atau 0,60 persen ke 5.026,65
Di tengah berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan investor yang tetap berhati-hati menanti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta perkembangan situasi global. (nsp)
Load more