Rupiah Melemah ke Rp17.864 per Dolar AS Usai BI Prediksi Kenaikan Inflasi Imbas Lonjakan BBM Non-Subsidi
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah melemah ke Rp17.864 per dolar Amerika Serikat (AS) usai Bank Indonesia (BI) memprediksi kenaikan inflasi imbas lonjakan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Meski begitu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak fluktuatif. Namun, rupiah diprediksi ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (23/6/2026).
Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp17.819 per dolar AS pada Senin, 22 Juni 2026.
Posisi rupiah menguat 7 poin dari kurs sebelumnya pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026 di level Rp17.826 per dolar AS.
Hingga pukul 09.05 WIB, perdagangan di pasar spot pada Selasa, 23 Juni 2026 terpantau rupiah ditransaksikan di Rp17.864 per dolar AS.
Posisi rupiah melemah 21 poin atau 0,12 persen dari posisi sebelumnya di level Rp17.843 per dolar AS.
Dalam riset hariannya, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan BI memprediksi kenaikan Pertamax dan Pertamax Turbo akan memberikan andil terhadap peningkatan inflasi nasional.
"Saat ini terdapat sejumlah faktor risiko inflasi yang mencuat dan menjadi perhatian bank sentral," terangnya, Selasa (23/6/2026).
Dia memaparkan tantangan utama berasal dari rambatan global berupa transmisi harga minyak dan komoditas ke dalam negeri.
Faktor rambatan global tersebut secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah seperti yang tercermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi baru-baru ini.
Faktor lainnya yang tengah diwaspadai adalah potensi gangguan cuaca. Fenomena El Nino diperkirakan akan melanda Indonesia pada periode akhir Juni hingga Oktober atau November 2026 mendatang.
Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memberikan tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak.
Meski begitu, terang dia, BI menilai risiko dari sisi hulu pertanian, seperti lonjakan harga pupuk, dapat diredam karena kapasitas produksi pupuk domestik dinilai masih sangat mencukupi.
Oleh karena itu, BI mengonfirmasi bahwa laju inflasi memang mulai menunjukkan tren peningkatan.
Akan tetapi, BI memastikan proyeksi inflasi tetap terjangkar dalam rentang sasaran yang ditetapkan oleh bank sentral dan pemerintah, yaitu 2,5 +/- 1 persen atau paling tinggi 3,5 persen.
Load more