Rupiah Ditutup Melemah Rp17.862, Ditekan Lonjakan Harga Minyak dan Utang Luar Negeri Indonesia
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 64 poin pada perdagangan Selasa (18/8/2026), di tengah kenaikan harga minyak mentah yang berpotensi memperbesar kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah pada perdagangan sore berada di level Rp17.862 per dolar AS, melemah dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.798. Rupiah bahkan sempat tertekan hingga 80 poin sebelum berakhir di level tersebut.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 64 poin sebelumnya sempat melemah 80 poin di level Rp17.862 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.798,” ujar Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Selasa (18/8/2026).
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum berakhir pada perdagangan berikutnya. Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.860-Rp17.920,” katanya.
Salah satu sumber tekanan datang dari pasar energi. Harga minyak mentah yang bergerak di atas US$83 per barel dinilai dapat meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia untuk membayar impor minyak. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi rupiah karena transaksi minyak global mayoritas menggunakan dolar AS.
“Kenaikan harga minyak mentah di atas US$83 per barel meningkatkan beban devisa negara untuk impor energi. Kebutuhan impor minyak mentah yang tinggi memaksa pelaku usaha dan pemerintah mengeluarkan pembayaran dalam denominasi dolar AS,” ujar Ibrahim.
Menurut dia, meningkatnya kebutuhan dolar untuk membayar minyak impor secara langsung dapat memperkuat dolar AS terhadap rupiah.
“Lonjakan permintaan dolar AS demi membeli minyak mentah di pasar global memperkuat posisi mata uang Paman Sam dan menekan nilai tukar rupiah,” katanya.
Tekanan eksternal tersebut datang bersamaan dengan perkembangan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia yang meningkat. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, ULN Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai US$453,4 miliar atau sekitar Rp8.089,1 triliun.
Posisi tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy), sekaligus meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang tercatat US$444,4 miliar atau sekitar Rp7.928,5 triliun.
Meski nominal ULN meningkat, Bank Indonesia mencatat perkembangan ULN pada triwulan II 2026 tetap terjaga. Kondisi tersebut didukung oleh peningkatan ULN publik dan kontraksi ULN swasta yang semakin rendah.
ULN pemerintah tercatat US$216,3 miliar atau sekitar Rp3.860,4 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,9 persen secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026 yang mencapai 3,8 persen.
Perkembangan utang pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN). Aliran modal tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia masih relatif terjaga.
Namun, kombinasi kenaikan harga minyak dan meningkatnya kebutuhan pembayaran impor energi tetap menjadi risiko bagi stabilitas rupiah. Jika tekanan harga minyak berlanjut, kebutuhan dolar AS dapat semakin besar dan mempersempit ruang penguatan mata uang rupiah. (agr/rpi)
Load more