Indosolar 2026 Digelar, Ekosistem Energi Surya Indonesia Mau Terus Didorong agar Semakin Kuat
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Indonesia memiliki komitmen untuk mempercepat transisi energi dengan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.
Hal itu terlihat dari langkah pemerintah yang telah menetapkan target pengembangan energi baru terbarukan (EBT) melalui RUPTL 2025–2034, dengan energi surya menjadi salah satu sumber energi yang memperoleh porsi pengembangan signifikan.
Besarnya potensi energi surya perlu diikuti kesiapan ekosistem agar dapat diterjemahkan menjadi proyek yang dapat direalisasikan.
Mencakup aspek kebijakan, industri, investasi, pembiayaan, teknologi, sumber daya manusia, hingga kebutuhan pengguna energi.
Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) pun menilai pencapaian target tersebut membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat di antara berbagai pemangku kepentingan.
Penguatan ekosistem dinilai penting agar pengembangan energi surya tidak hanya berhenti pada target kapasitas, tetapi dapat diwujudkan dalam proyek nyata.
Atas kebutuhan tersebut, AESI kembali menggelar Indosolar 2026 pada 19–20 Agustus 2026 di Fairmont Hotel, Jakarta.
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, acara tersebut mengusung tema "Building the Future of Indonesia's Solar Energy" dan berlangsung bersamaan dengan Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026.
Indosolar 2026 diklaim menjadi forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, lembaga keuangan, akademisi, mitra pembangunan, hingga penyedia teknologi.
Forum ini membahas berbagai tantangan sekaligus peluang pengembangan energi surya serta mendorong terbentuknya kolaborasi untuk mempercepat implementasinya di Indonesia.
Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari mengatakan, pengembangan energi surya di Indonesia mendapat dukungan yang semakin kuat. Kondisi tersebut terlihat dari target pemerintah yang tinggi serta besarnya potensi pasar energi surya di dalam negeri.
Mada menilai penguatan ekosistem tetap diperlukan agar seluruh pihak dapat bergerak secara terintegrasi, mulai dari pengembangan proyek hingga pembiayaan, teknologi, industri, dan sumber daya manusia.
"Dukungan terhadap pengembangan energi surya di Indonesia semakin kuat, ditandai dengan target pemerintah yang ambisius dan potensi pasar yang besar. Di sisi lain, kita perlu memastikan bahwa seluruh bagian dari ekosistem dapat bergerak bersama, mulai dari kesiapan proyek, akses pembiayaan, teknologi, hingga kapasitas industri dan sumber daya manusia. Dengan ekosistem yang semakin terhubung, kita dapat mendorong lebih banyak proyek yang bankable dan mempercepat implementasi energi surya di Indonesia," ujar Mada dalam konferensi pers, Selasa (18/8/2026).
Indosolar 2026 akan menghadirkan sejumlah agenda, seperti plenary sessions, technical breakout sessions, exhibition, dan B2B matchmaking.
Berbagai sesi tersebut membahas perkembangan industri energi surya dari sisi kebijakan, investasi, teknologi, rantai pasok, hingga sumber daya manusia.
Sejumlah isu strategis turut menjadi perhatian. Di antaranya peta jalan percepatan energi surya nasional, peluang quick wins 10 GW hingga 2028, pengembangan PLTS Atap dan PLTS Terapung, serta penggunaan microgrid dan sistem hybrid untuk mendukung program de-dieselisasi di daerah yang belum terjangkau jaringan listrik.
Dari perspektif industri, pembahasan mencakup penguatan rantai pasok dan daya saing industri surya nasional. Forum tersebut juga membahas perbaikan skema pengadaan Independent Power Producer (IPP) serta peluang perdagangan dan investasi listrik surya lintas negara.
Sementara bagi pengguna energi, pembahasan diarahkan pada pemanfaatan PLTS Atap di kawasan industri. Energi surya juga dinilai berpotensi mendukung kebutuhan green data center seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi digital.
Kolaborasi dengan ISEW 2026 membuat pembahasan mengenai transisi energi menjadi semakin luas. Kerja sama Indonesia dan Jerman dalam bidang transisi energi yang telah berlangsung selama tiga dekade turut menjadi salah satu konteks dalam kegiatan tersebut.
"Kerja sama Indonesia - Jerman dalam topik transisi energi telah berlangsung selama 30 tahun yang tidak hanya berfokus pada kebijakan, namun juga mendorong implementasi dan kerja sama ekonomi. Transisi energi membutuhkan hubungan yang kuat antara pembuat kebijakan, investor, penyedia teknologi, dan pelaku industri," ujar Atiek Puspa Fadhilah, Private Sector Cooperation Lead - Energy Programme, GIZ Indonesia & ASEAN.
"Hal ini untuk mendukung investasi yang tepat dan teknologi yang mampu menjawab tantangan operasional di lapangan. Penyelenggaraan ISEW bersama Indosolar tahun ini menguatkan komitmen kerja sama dalam mewujudkan target transisi energi. Dalam kegiatan ini, akan dilakukan 3 sesi bersama, exhibition, serta business matchmaking dalam 2 format, yang melibatkan penyedia teknologi, pemilik proyek, dan institusi keuangan. Kami optimis kolaborasi ini dapat menguatkan langkah Indonesia dalam melaksanakan inisiatif transisi energi yang lebih berkelanjutan," imbuhnya,
Selain membahas kondisi dalam negeri, Indosolar 2026 menghadirkan sesi Global Insight bersama sejumlah mitra, termasuk PwC, IRENA, dan Asian Photovoltaic Industry Association (APVIA).
Sesi tersebut mengangkat perkembangan pasar energi surya global, arah investasi, tren biaya teknologi, serta pengalaman pengembangan energi surya di berbagai negara. Perspektif internasional ini diharapkan dapat menjadi pembanding bagi pelaku industri nasional dalam menentukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Energy, Utilities & Resources and Energy Transition Leader PwC Indonesia, Sacha Winzenried, mengatakan peluang pengembangan energi surya Indonesia perlu dilihat secara lebih luas. Menurutnya, peningkatan kapasitas harus berjalan beriringan dengan penguatan daya saing industri dan kemampuan menarik investasi.
"Indonesia memiliki peluang yang besar untuk mempercepat pengembangan energi surya nasional. Untuk mewujudkan potensi tersebut, diperlukan kesiapan ekosistem, mulai dari ketersediaan pendanaan, proyek yang bankable, kepastian regulasi, hingga kolaborasi yang erat antara pemerintah, investor, dan pelaku industri. Sebagai knowledge partner Indosolar 2026, PwC menghadirkan perspektif dan best practice dari berbagai pasar global, sekaligus mendorong diskusi yang konstruktif mengenai langkah-langkah konkret yang diperlukan untuk mempercepat pengembangan ekosistem energi surya yang berkelanjutan di Indonesia," ujar Sacha. (rpi)
Load more