BI: Era Suku Bunga Tinggi Tekan Sektor Pasar Keuangan Global
- dok. Setpres
Jakarta, tvOnenews.com -Era suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS) atau Fed Funds Rate (FFR) yang bertahan lebih lama atau higher for longer akan membayangi pasar keuangan global. Bank Indonesia (BI) memandang kondisi tersebut akan memberikan tekanan tinggi terhadap sektor keuangan dan pasar keuangan global.
“Untuk global, kita akan menghadapi situasi yang mungkin akan cukup lama dengan ketidakpastian, sehingga kita memasuki suatu era yang dinamakan higher for longer,” kata Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, di Jakarta, Rabu.
Destry menjelaskan kondisi tersebut akan memberikan tekanan tinggi terhadap sektor keuangan dan pasar keuangan global, yang juga tercermin dari kecenderungan FFR untuk tetap bertahan tinggi akibat tekanan inflasi di AS.
Kemudian, peningkatan harga minyak dan kebutuhan pembiayaan defisit anggaran AS juga akan meningkatkan suplai obligasi yang diterbitkan Pemerintah AS.
“Sehingga itu semua akan menciptakan situasi, hampir semua, apakah itu bond yield, apakah itu interest rate, mereka (AS, Red) akan berada dalam posisi yang tinggi,” ujar Destry.
Ia menambahkan bahwa hal itu juga yang menjelaskan mengapa indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) diperkirakan akan tetap berada dalam posisi yang kuat.
“Tentunya ini (situasi global, Red) akan memberikan dampak kepada perekonomian kita,” kata Destry.
Dia memastikan bahwa Bank Sentral Indonesia melakukan asesmen yang cukup panjang, setidaknya sampai akhir tahun ini untuk melihat prospek perekonomian global dan domestik.
Dalam pemaparannya, Destry mencatat prospek perekonomian global masih lemah disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi.
Kondisi itu dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia lainnya kembali naik.
“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diprakirakan sekitar 3,0 persen,” kata dia lagi.
Sementara itu, tekanan inflasi global tetap tinggi sekitar 4,5 persen pada 2026, sehingga mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, termasuk suku bunga kebijakan moneter AS atau FFR yang diprakirakan naik pada triwulan IV 2026.
Imbal hasil (yield) US Treasury juga naik dan diprakirakan tetap tinggi seiring menguatnya ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran AS yang masih lebar.
Ketidakpastian di pasar keuangan global berlanjut, sehingga menahan preferensi investor global terhadap investasi portofolio di negara Emerging Markets dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY).
Menurut BI, perkembangan ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter, guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.(ant)
Load more