Kasus Hipertensi di Indonesia Terus Meningkat
- Istimewa
“Kalau tidak pusing, obatnya tidak diminum. Padahal tekanan darahnya masih tinggi. Ada juga yang membagi obat hipertensinya kepada orang lain karena merasa dirinya sudah sehat,” ujarnya.
Nadia menegaskan hipertensi tidak bisa dianggap sepele karena dapat memicu berbagai komplikasi serius apabila tidak dikontrol secara rutin.
Ia juga menyoroti perubahan pola penderita hipertensi yang kini banyak menyerang usia produktif.
“Dulu hipertensi identik dengan orang yang sudah pensiun. Sekarang yang belum pensiun juga sudah banyak terkena tekanan darah tinggi,” katanya.
Kementerian Kesehatan menilai pola makan masyarakat Indonesia menjadi salah satu faktor utama meningkatnya hipertensi. Konsumsi garam berlebih, makanan asin, gorengan, hingga pola hidup sedentari disebut menjadi pemicu utama.
“Orang Indonesia suka makanan asin, gorengan, ikan asin. Semakin asin, makin suka. Ini perilaku yang harus kita ubah,” ujarnya.
Selain hipertensi, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada diabetes melitus dan obesitas. Nadia menyebut ketiganya saling berkaitan dan menjadi fokus utama program pencegahan penyakit tidak menular.
“Obesitas, diabetes, dan hipertensi menjadi fokus Kementerian Kesehatan saat ini. Kalau diabetes disebut mother of disease, mungkin hipertensi bisa disebut father of disease,” katanya.
Dalam program Cek Kesehatan Gratis, masyarakat yang terdeteksi mengalami hipertensi langsung diberikan obat dosis awal sambil menunggu evaluasi lanjutan di fasilitas kesehatan.
“Begitu ditemukan hipertensi atau diabetes, langsung diberikan obat dosis rendah. Dua minggu kemudian pasien harus kontrol lagi untuk evaluasi,” jelas Nadia.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak, serta menghentikan kebiasaan merokok demi mencegah hipertensi dan diabetes.
Penanganan Hipertensi Tak Bisa Hanya di Ruang Dokter
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.N., menegaskan penanganan hipertensi di Indonesia tidak bisa hanya dilakukan di ruang praktik dokter, melainkan membutuhkan keterlibatan lintas sektor dan masyarakat luas.
Menurut Eka, pendekatan pengendalian hipertensi kini harus dimulai sejak tahap pencegahan paling awal atau prevensi primordial, bukan sekadar prevensi primer maupun sekunder.
Load more