Waspadai Angin Duduk, Gejalanya Sering Disangka Masuk Angin Padahal Tanda Serangan Jantung
- Freepik/jcomp
tvOnenews.com - Istilah angin duduk sudah lama dikenal masyarakat Indonesia.
Banyak orang menganggapnya sebagai “masuk angin yang parah” karena gejalanya seperti sesak napas, nyeri dada, dan badan terasa lemas.
Namun, menurut pandangan medis, angin duduk bukanlah penyakit akibat angin, melainkan serangan jantung (cardiac arrest) yang dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani.
Dokter sekaligus influencer kesehatan dr. Tirta menjelaskan bahwa istilah “angin duduk” sebenarnya hanyalah kesalahpahaman masyarakat terhadap kondisi medis yang serius, yakni penyumbatan pada pembuluh darah jantung.
“Jadi angin duduk itu bukan karena ada angin yang masuk ke tubuh. Itu nama lain dari cardiac arrest atau sakit jantung. Jadi memang serangan jantung dan tidak ada hubungannya dengan angin,” ujar dr. Tirta.
Menurutnya, serangan jantung terjadi karena aliran darah ke otot jantung terhambat, sehingga jantung tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup.
Akibatnya, detak jantung menjadi tidak normal dan bisa menyebabkan henti jantung mendadak.
“Itu jantungnya mengalami penyumbatan di bagian pembuluh darah yang memberi makan ke otot jantung. Gangguan detak itu yang akhirnya menyebabkan serangan jantung. Bukan karena duduk terus kena angin,” tambahnya.
Mengapa Disebut Angin Duduk?
Istilah “angin duduk” muncul karena gejalanya sering kali mirip dengan masuk angin biasa.
Banyak orang yang mengeluh dada sesak, punggung terasa berat, dan napas tidak lega, kemudian menganggapnya sebagai masuk angin.
Padahal, gejala tersebut merupakan tanda khas serangan jantung.
Ketika seseorang mengalami nyeri dada yang terasa menekan, menjalar ke lengan kiri, rahang, atau punggung, hal itu menandakan adanya gangguan serius pada jantung.
Salah satu mitos yang berkembang di masyarakat adalah keyakinan bahwa sering terkena angin malam atau duduk di tempat berangin bisa memicu serangan jantung. Padahal, hal itu tidak benar secara ilmiah.
Meski begitu, cuaca dingin memang bisa memicu serangan jantung, terutama pada orang dengan faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, atau riwayat penyakit jantung.
Suhu dingin dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga aliran darah ke jantung menjadi terganggu.
Gejala serangan jantung dapat muncul tiba-tiba dan sering disalahartikan. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Nyeri atau tekanan di dada bagian tengah yang berlangsung lebih dari 5 menit.
- Rasa tidak nyaman menjalar ke bahu, lengan, leher, atau rahang.
- Napas terasa sesak meski tidak melakukan aktivitas berat.
- Tubuh berkeringat dingin, pusing, atau mual.
Jika gejala-gejala ini muncul, segera cari pertolongan medis. Banyak kasus kematian mendadak terjadi karena pasien menunda penanganan dan mengira dirinya hanya “masuk angin biasa”.
Dokter Tirta mengingatkan bahwa serangan jantung tidak mengenal usia, terutama pada mereka yang memiliki gaya hidup tidak sehat, merokok, jarang olahraga, dan stres berlebih.
Karena itu, menjaga pola hidup sehat dan mengenali tanda bahaya sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah risiko fatal akibat “angin duduk” atau serangan jantung. (adk)
Load more