Salah Bisa Fatal! Begini Cara Membedakan Nyeri Dada Akibat GERD dan Serangan Jantung
- Freepik
tvOnenews.com - Banyak orang sering panik ketika merasakan nyeri dada mendadak. Tak jarang, rasa nyeri tersebut langsung dikaitkan dengan serangan jantung.
Padahal, tidak semua nyeri dada disebabkan oleh penyakit jantung, salah satunya bisa karena GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) atau yang lebih dikenal dengan penyakit asam lambung.
Kondisi ini sering menimbulkan gejala yang mirip dengan serangan jantung, sehingga penting untuk mengenali perbedaannya agar tidak salah langkah.
Menurut dr. Imam Rahmatullah Maulana Pasha, kepada tim tvOnenews.com, nyeri akibat GERD umumnya memiliki karakteristik khas yang berbeda dengan nyeri akibat gangguan jantung.
“Nyeri akibat GERD biasanya lebih spesifik ke ulu hati, dapat menjalar ke tengah dada dan nyeri dirasakan semakin berat dengan posisi berbaring yang menandakan asam lambung mengalir sampai kerongkongan mengikuti sifat cairan dan gravitasi,” ujar dr. Imam.
Ia menjelaskan, pada penderita GERD, rasa nyeri biasanya disertai dengan sensasi terbakar di dada atau rasa panas yang menjalar ke arah tenggorokan.
Gejala ini muncul karena asam lambung naik ke kerongkongan dan mengiritasi dindingnya.
“Nyeri yang dirasakan biasanya berupa rasa panas dan atau rasa seperti tertusuk benda tajam, dapat disertai rasa mual, nyeri tenggorokan, dan mulut terasa pahit,” lanjut dr. Imam.
Selain itu, nyeri akibat GERD cenderung muncul setelah makan besar, berbaring segera setelah makan, atau mengonsumsi makanan pemicu seperti kopi, makanan pedas, dan makanan berlemak.
Penderita juga sering merasakan gejala tambahan seperti perut kembung, sendawa berlebihan, atau sensasi asam di mulut.
Sementara itu, nyeri dada akibat serangan jantung biasanya memiliki karakteristik yang berbeda.
Nyeri terasa seperti tekanan berat, tertindih benda besar, atau dada terasa sesak dan berat.
Rasa nyeri sering menjalar ke rahang bawah, leher, bahu kiri, hingga lengan kiri, dan bisa disertai dengan keringat dingin, sesak napas, serta pusing.
“Untuk individu berisiko seperti lansia, perokok, atau memiliki riwayat penyakit jantung, sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan rekam jantung (EKG) untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis serangan jantung,” tegas dr. Imam.
Load more